Cherumu.com

Cerpen MS

14 May 2016 - 14:54 WIB
Umum /   Maschun Sofwan 0 Comments

#Cerpen 1 :

 “Hadirmu, Mungkin Hanya Sebatas Rindu Bagiku “

 

“…Jika Hadirmu sebuah Mimpi,

Bolehkah Aku Kembali Tidur Agar Aku Bisa Bertemu Denganmu Lagi.

Jika Hanya Sebatas Rindu,

Bolehkah Aku Pinjam Senyummu Agar mampu hapus sepiku.

Jika itu Cinta,

Bolehkah aku menyimpanya dalam hatiku

Walaupun dirimu bukan tercipta untukku…”

 

Apakah kau merasa apa yang aku rasa saat ini?, apakah kau disana sedetik waktu pernah berpikir tentangku? Atau memang kau tak pernah tau dan ingin tau bagaimana keadaanku saat ini. Aku sangat menderita didera rindu akan senyummu itu. Aku sangat ingin bersamamu dalam waktu agar lelahnya waktu terhapus oleh canda tawa darimu. Keberadaan dia saat ini bertahta bagai raja dalam hati ini. Tak mampu aku berkata, tak mampu aku berkutik dan tak mampu aku membantah hadirnya membayangi disetiap langkah hari dan malamku.

Betapa bodohnya aku ini, dia disana seakan berbahagia dengan apa yang dia lakukan, sedangkan aku disini setengah mati memikirkan dia yang dia sendiri tak pernah tau apa yang aku lakukan untuknya. Memang cinta, jika cinta sudah bicara, maka seseorang akan berubah 99% dalam waktunya. Seperti apa yang aku rasakan saat ini, jatuh cinta kepada seseorang namun belum mampu bibir dalam lisan ini berkata kepadanya untuk mengungkapkan apa yang aku rasa. Cinta datang tak mengenal siapa dia karena cinta pandai menempatkan dirinya dalam kehidupan ini.

Cinta itu bukan pilihan, paksaan dan juga bukan permainan. Cinta itu rasa, rasa yang akan memberikan warna dan arti dalam kehidupan seseorang yaitu rasa bahagia, bangga, indah dan ingin bersama. Cinta datang kepada seseorang memang sudah sesuai dengan tempatnya. Tak peduli dia mampu atau tidak untuk ungkapkan kepada sang pujaan hati, yang jelas cinta akan datang memang untuk dirasa hadirnya dalam hidup ini karena cinta itu keindahan. Karena cinta itulah, aku menuliskan ini untuknya, untuk seorang wanita yang kini hadir dalam waktukku.

Wanita itu telah membuat waktuku habis hanya untuk fokus akan kehadiranya dalam pikiranku. Wanita itu kembalikan semangatku yang pernah redup akan dia yang telah pergi tinggalkan sejuta kisah dalam hidupku tanpa alasan apapun. Wanita itu ketika dia tersenyum maka sejenak waktu akan terhenti berputar, Jika menoleh maka kesejukan hati akan terasa disetiap orang menatapnya dan jika dia berjalan seakan bumi terhenyap dan itulah wanita yang aku kagumi saat ini hadir dalam waktukku. Tak akan mudah memang untuk aku lakukan hal ini akan hadirnya dalam waktukku. Bukan aku saja yang berbuat sedemikian demi mendapatkan dia.

Mungkin saja mereka juga melakukan hal yang lebih baik lagi demi mendapatkan celah untuk bisa dekat dengannya. Untuk mendapatkan Sesuatu yang baik maka hal yang harus dihadapi sudah pasti sangat sulit. Walaupun kesadaranku telah membangunku untuk berhenti saja dan Aku sudah mulai berkaca pada diri sendiri dan berpikir jelas jika bukan aku yang dia tunggu, namun tetap saja dia terlalu indah untuk aku abaikan begitu saja tanpa memberiku kesan dan cerita walaupun pada akhirnya aku akan tetap berlaku sama tak punya nyali untuk ungkapkan isi hatiku ini kepadanya.

Cinta itu telah menunjukku untuk jatuh cinta kepadanya, maka aku harus menghargai atas karunia ini yang tuhan berikan kepadaku walaupun aku Kepastian aku mampu itu sangatlah tipis. Dirinya seperti mimpi buatku, mimpi yang hanya datang pada saat aku tertidur namun ketika aku terbangun maka dia kembali menghilang. Ketidakmampuan diriku bukan karena menyerah sebelum berperang namun aku tak mau membuat dia menderita karena keadaan diri ini yang serba kurang.

Jatuh cinta kepadanya hal yang bahagia bagiku apalagi bisa mendapatkannya itu anugerah yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata pastinya. Namun untuk sampai ke titik itu mungkin terlalu jauh untuk aku bicarakan karena aku hanya ingin dia bahagia dengan orang yang memang pantas bahagia bersamanya. Dalam kamusku memang tak pernah tertulis kata yang namanya menyerah, namun mulai hari ini untuk dia yang telah membuatku jatuh cinta maka aku harus sisipkan kata kalah. Kalah karena tak akan mampu mengadapi saingan dari mereka yang tau diatas rata-rata dariku.

Aku tak akan mampu bersaing dan aku tak suka bersaing dalam hidupku karena bila harus bersaing aku sudah pasti akan kalah. Menunggu keajaiban datang itu juga tak akan mungkin pastinya karena keajaiban itu datang bila kita bekerja keras dan aku memang bekerja keras untuk mendapatkanya namun bekerja keras tanpa dia tau apa yang telah aku lakukan buat dia. Bukanya membuat dia tersenyum bahagia, tanpa aku sadari aku telah membuatnya meneteskan air mata karena ucapanku waktu itu. Dari situ saja aku sudah mulai tau jika aku tak mampu bekerja keras dan bersaing dengan mereka yang belum membuat dia menangis sedih.

Semenjak hari itu, seandainya dia tau, aku sangat ingin memberikan kata-kata kepada dengan dekapan kasih syaang jika aku tak bermaksud berkata kasar seperti itu dan tak ingin dia melihatnya menangis, namun ada daya diri ini tak mampu berbuat apa-apa hanya terselip dari bibir ini kata maaf akan perkataanku kepadamu. Setelah kejadian itu, aku tak ingin lagi kau menangis, tak ingin lagi melihat kau bersedih, maka aku berupaya menjauh darimu dan tak menatap matamu lagi. Aku sangat takut dan sangat takut ketika perkataan ini akan membuatmu menangis lagi. Perlahan walau sulit ketika rasa yang aku rasa harus aku kubur dalam-dalam hatiku.

Perlahan aku beranjak jauh darimumu seperti tempat dudukmu yang pada, sebenarnya aku yang meminta untuk tidak duduk berdampingan denganmu agar perlahan berharap rasa cinta ini pergi dari hatiku yang telah tertulis atas namamu. Jika kau bertanya kenapa aku berbuat seperti itu, sudah pasti aku akan menjawab, jika aku bukan orang yang kau tunggu hadir dalam hidupmu karena aku hanya akan mampu membuatmu bersedih dan menagis saja dan akan jauh dari kata bahagia. Bukan sok ujon berpikiran seperti itu tentang dirimu, namun sebab lain tak mampu aku hindari juga jika aku tak akan pernah mampu ungkapkan rasa ini kepadamu karena aku tak akan pernah berani mengatakanya kepadamu.

Menatapmu aku kadang sangat takut, sangat menghindari karena aku takut ketika semakin aku menatapmu, rasa ini semakin berkembang hingga jauh dan ketika itu telah bersemayam dalam hatiku maka aku sudah pasti akan binggung kepada siapa aku harus mengadu dan aku harus lari ke tempat mana lagi agar tak jatuh cinta lagi. Semenjak hari itu, semenjak kau pindah duduk dari sampingku, aku Bukanya merasa semakin membaik namun aku seperti semakin menderita tak bisa lagi memadangmu ketika kau sedang bekerja dan aku tak bisa lagi menatap indahnya matamu.

Namun semua harus aku lakukan seperti apa yang harus inginkan darimu karena aku tak akan pantas berada disana, bukan aku yang cocok hadir dalam kehidupan nyatamu walaupun aku harus memaksakan diri maka bahagia akan menjauh darimu karena hadirku dalam hidupmu mungkin hanya seberkas debu jalanan yang dikala hujan akan menghilang pergi tanpa bekas. Memang tak ada yang tak mungkin didunia ini, semua bisa terwujudkan jika tuhan berkehendak. Namun sebelum kata mungkin itu datang kepadaku dan tuhan melabuhkan kata iya kepadaku untuk mendapatkanmu, maka aku harus bilang jika kemungkinan aku harus membatalkannya.

Jangan bertanya kenapa aku harus begitu, sudah pasti aku akan menjawab karena dia terlalu indah untuk hadir dalam hidupku dan dia berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku yang kehidupanya seperti layang-layang putus yang tak pasti dimana akan berlabuh. Jika ada yang bertanya tentang dia kepadaku, sudah pasti aku akan menjawab jika dia wanita indah yang membuat setiap lelaki selalu mengidamkan untuk bersamanya. Jika ada yang bertanya Bahagiakah hanya sekedar kenal dia?, maka aku akan menjawabnya seribu kali pertanyaan itu dengan kata iya.

Jika kau bertanya kembali Cintakah kau kepada dia?, maka sudah pasti aku akan menjawab sangat, lalu kau bertanya kembali, kenapa aku tak ingin ungkapkan apa yang kau rasa dan hanya diam dalam gempuran rindu yang tak berujung kepadanya?, maka aku akan menjawab, karena dia hadir bukan untuk alam nyataku namun dia hadir hanya dalam alam rinduku yang ketika aku tertidur dia datang menjelma namun ketika aku bangun dia pergi menghilang. Melihatnya dialam nyata aku saja tak sanggup menatapnya, memandangnya dan berbicara denganya.

Walaupun satu pekerjaan denganku, walaupun dia sering bertanya kepadaku, aku bersikap acuh saja tanpa menghiraukan apa yang aku rasa terhadapnya, aku bersikap tak ingin dia tau jika aku telah menanam benih cinta dalam hatiku akan dirinya. Perlahan memang aku tak akan sanggup berlaku seperti itu terus, namun bagaimanapun juga dia hadir telah membuat ceritaku berbeda dari sebelumnya walaupun pada akhirnya aku akan berlaku sama agar mata ini tak mampu melihat senyumnya lagi, karena seiring waktu dia akan pergi. Berat memang ketika cinta memilih dia walaupun pada akhirnya cinta tak butuh jawaban iya atau tidak. Namun yang jelas cinta tak akan pernah bertujuan buruk datang menghampiri.

Jika memang menderita karena cinta maka selalu terkandung didalamnya sebuah pelajaran agar kelak waktu ketika cinta tercipta dalam sepanjang waktu maka cinta mampu merasakan bahagia dengan pengalaman cinta yang datang dalam hidup ini. Cinta tak pernah habis dalam dunia ini, cinta akan selalu hadir mengisi hati yang sedang menanti. Ada yang terungkap, ada pula yang mendiamkan saja lalu berlalu hingga dia temukan pilihan yang tepat untuk dia pegang nama cinta dalam bahagia hingga akhir waktunya. Jangan pernah kau benci ketika cinta datang kepadamu walaupun kau tak mampu berkata. Nikmati saja kesejukan cinta menghampirimu karena dia tak akan pernah menyakitimu jika kau memeliharanya dengan baik tumbuh berkembang dalam hatimu walaupun kau harus terluka karenanya.

Tanamkan dalam hatimu jika cinta akan selalu mencobamu hinggap dalam waktumu agar dia tau dan paham seberapa pantaskah kau menjaganya ketika dia yang kau tunggu datang mengisi ruang hidupmu untuk waktu yang lama. Seperti itulah aku menjaga cinta yang datang kepadaku saat ini karena aku sangat percaya apa yang Allah berikan untukku, tanpa itu aku tak akan bertahan dengan hantaman waktu yang kau jalani hingga saat ini. Soal cinta, aku rasa datang silih berganti dalam waktuku tanpa aku sadari aku telah menyakiti hati mereka dan juga mungkin mereka yang menyakitiku. Seperti dia yang saat ini menjelma menjadi ada dalam waktuku. Seorang wanita dengan senyum khasnya bertingkah manja ketika pikiranku melayang jauh jelajahi negeri rindu bersama goresan ini aku sampaikan isi hati ini kepadanya untuk seorang wanita terindah :

Teruntuk Sebuah Nama Dalam Rindu Bermarkaskan Cinta,

“…Hadirmu, aku tak menyangka jika kau wanita dari negeri rindu yang selama ini aku nantkan kehadiranya. Walaupun hadirmu tak nyata untuk dapat aku gapai namun aku merasa kebahagian itu tercipta yang membuatku kembali berkarya dalam semangat jelajahi waktu.

Kau tak perlu tau kenapa aku terlalu mengagumi semenjak kau ada,kau tak perlu bertanya kenapa aku memilihmu untuk aku jatuh cinta, kau tak perlu bertanya kepadaku kenapa aku bersikap aneh ketika dirimu mendekat kepadaku dank au tak perlu bertanya kenapa aku berlaku kasar terhadapmu ketika kau bertanya kepadaku karena aku hanya ingin kau tahu betapa aku menyukaimu.

Cinta ini terlalu dahsyat untuk aku pendam, rasa ini terlalu kuat untuk aku kurung dalam hatiku, namun apa daya diri ini tak mampu berbuat apa-apa untuk lisan ini ungkapkan kepadamu jika aku mencintaimu…”

Disini, rasa itu akan selalu terjaga, entah sampai kapan aku bisa menjaganya, jangan pernah kau bertanya tentang itu karena aku tak pernah mampu menjawabnya karena aku hanya manusia yang suatu hari kelak akan binasa oleh usia dan waktu. Namun perlu kau tau hingga bumi ini hancur seiring itu pula tulisan ini akan selalu ada dan akan menjadi bukti jika aku selalu menjaga cinta itu hingga nafas ini terhenti dikala waktu nanti.

#Cerpen 2 :

 “ 30 Hari 24 Jam ”

 

Hari ini mungkin hari terakhirku menulis tentangmu, Bukan aku menyerah bukan pula kalah namun setiap pertarungan tentunya harus ada yang kalah dan harus ada yang menang dan mungkin aku boleh dibilang orang yang mendapatkan gelar kalah tersebut. Hari ini tepatnya hari yang ke-30 tepatnya pukul 12.00 malam aku segaja menuliskan hal ini pada waktu yang telah kau ucapanmu kepadaku sebelum aku bertarung mendapatkan celah dihatimu. Kau memang telah menyadari bahwa kau tak akan pernah ada untukku namun aku bersisih keras akan berjuang semampuku agar kau tahu betapa aku sangat mencintaimu.

Dengan helaan nafas panjangmu kau berkata padaku :

“Aku tak pernah melarang siapaun jatuh cinta kepadaku,

memiliki perasaan yang sama seperti kamu, namun satu hal yang perlu kau tahu bahwa rasa itu tak selalu berakhir dengan kata iya mungkin saja tidak seperti aku berkata kepadamu

bahwa tidak bisa menerima rasa yang kau miliki saat ini”.

Begitulah perkatakanmu padaku. Namun aku tetap bersikap bak satria perang yang tak pernah menyerah sebelum bendera putih berkibar. Aku katakan padamu walau dia tidak menyakinkan bahwa aku rela berjuang demi rasa yang aku pendam ini. Sejak hari itulah aku diberi satu tantangan sama dia dengan perkataan seperti ini.

Aku telah berkata dengan baik bahwa aku tidak bisa menerima rasa yang kau miliki dalam waktuku namun satu hal yang aku kagum darimu adalah semangatmu, rasa penasaranmu yang terlalu tinggi ingin tahu kenapa aku tak bisa menerima rasamu dalam hatiku maka aku beri waktu untuk berpikir dalam waktu 30 hari 24 jam bersamaan denganmu membuat tulisan sebanyak 30 tulisan dalam waktu 24 jam sehari boleh kapan saja aku bisa menulis dan Tulisan tersebut harus tentang aku dan Cinta.

Jelas aku sangat tertarik dengan tantangan tersebut Karen aku berpikir tak sesulit itu untuk aku lakukan untuk bisa menulis sebanyak 30 tulisan, apalagi sehari satu tulisan hal yang terlalu mudah untukku. Walau terlalu yakin dan penuh kesombongan dalam diri aku sebenarnya tidak tahu apa mungkin ia akan menerima rasa ini sedangkan aku tahu dia terlalu tinggi untuk aku dapatkan jadi milikku namun aku merasa tertantang dengan ucapannya dan ingin aku buktikan bahwa masih ada cinta sejati berdiri tegap seperti hatiku ini. Kita boleh bilang tak ada yang pasti dengan rencana yang kita buat.

Tak ada jaminan untuk kita pastikn apakah semua yang kerjakan dengan bersungguh-sungguh akan berbuah manis tentunya tidak juga hanya rasa syukur akan rahmatnya yang mampu menjawab semua menjadi berarti. Meraihnya atau tidak itu sudah pasti akan terjadi namun lebih dari itu semua semangat, komitmen dan usahalah yang akan menjadi saksi bahwa kita memang seorang pejuang bukan pecundang. Hal ini perlu kau tanamkan dalam diri bahwa tak semua yang kau bayangkan dapat kau miliki, tak semua yang kau impikan datang menghampirimu lalu kau akan tertawa bahagia sedangkan yang menjadi pertanyaannya adalah dengan apa kau meraihnya sehingga kau dapat memilikinya. Jika kau tak mengerti alur dari awal kau memperolehnya maka akan terasa ganjil ada dalam hidupmu.

Dirimu akan selalu dihujat oleh pertanyaan hati dan diri dari mana aku memperolehnya. Seperti hal yang aku lakukan saat ini, mungkin aku terlalu bodoh atau boleh dibilang aneh mungkin mau melakukan perintah seorang wanita demi sebuah jawaban rasa yang aku miliki akan dirinya. Aku tak menyadari betapa rendahnya aku dihadapannya, betapa lemahnya aku dihatinya bisa diperintah bak seorang budak yang bisa diperintah semaunya saja.

Sadarkah diri ini bahwa aku telah melakukan kesalahan dalam kodrat dan martabat seorang laki-laki yang seharusnya lebih tinggi dari kedudukan dari seorang wanita. Entahlah yang pasti aku telah melakukannya sejak ia berucap kepadaku bahwa aku harus lakukan itu dan aku telah menyepakatinya sejak hari itu juga. Kata orang sich, karena cinta kadang kita buta karenanya, karena rasa kadang gelap hati dibuatnya karena perasaan cinta bisa merubah setiap insan siapapun itu termasuk aku yang masih lemah di antara mereka. Kita memang tak pernah tahu apa yang kita lakukan itu berhasil atau tidak, namun semangat pantang menyerah, berusaha semampu diri disertai doa kadang telah memberikan kita gambaran berhasil atau tidak suatu impian yang ingin kita raih tersebut. Seperti Hal ini aku lakukan untuknya sebuah misi cinta yang meggantung lewat nyanyian waktu datang memberi kabar baik atau buruk, itulah yang aku rasa dan aku tunggu.

Kata orang akan selalu gelisah jika sesuatu belum jelas, apalgi urusan rasa dalam cinta tentunya lebih dahsyat lagi kegelisahannya. Mungkin benar perkataan itu adanya, begitupun perasaanku hingga waktu itu datang memberiku jawaban apakah aku menang atau kalah dalam pertarungan waktu meraih satu bahagia yang belum tentu membuatku bahagia karena sesadari diri tak akan bahagia hidup bersamanya jika yang merasa cinta dirimu sendiri sedangkan dirinya hampa yang ia rasakan akan hadirmu disisinya. Namun pikiran seperti itu aku buang jauh-jauh karena jelas lebih aku pahami akan arti dia dalam hidupku. Kenapa aku berani berjuang menerima tantangan ini bukan untuk dirinya namun untuk membuktikan ke dunia ini bahwa aku bukan pecundang yang pantang menyerah begitu saja walaupun harus relakan nafas ini hilang dari denyut nadiku.

Aku memang telah merasakan hal yang aneh semenjak dia berucap seperti itu, aku juga telah mendengarkan ucapan hatinya akan tidak ada celah untukku ada dalam bait nafasnya, namun aku juga tak mungkin menyerah tanpa ada sebab yang pasti, pulang tanpa hasil dan sesuai kesepakatan itu aku telah membuktikan diri bahwa aku tak sehina itu untuk bisa mencintai seseorang yang memiliki derajat yang tinggI dariku. Aku ingin buktikan bahwa cinta tak harus melihat martabat, kedudukan dan kekayaan dan kasta karena yang aku tahu cinta itu murni tanpa syarat apapun itulah yang ingin aku buktikan padanya walau harus menyelesaikan misi tantangan ini.

Malam Berganti pagi hingga senja menjelang waktu tak akan pernah berhemti berputar dalam gerak langkan kita sampai satu nama tertulis terjatuh maka pada saat itulah waktu untuknya akan berhenti selamanya untuk semua kegiatan dimuka bumi ini. Waktu yang ia berikan hampir lenyap ditelan hari yang berganti dan berganti, sebanyak itu pula tulisan sudah aku buat dalam mengejar impian sebuah jawaban pasti darinya. Tak kenal lelah dalam hariku, misi itu tetap aku jalani walau kadang harus terbangun dalam tidur karena belum menuliskan sesuatu untuknya hari ini.

Waktu kadang tak selalu berpihak kepada kita untuk selalu sehat walafiat. Jika tubuh terlalu dipaksakan bekerja terus menerus maka akan jatuh sakit karena tubuh ini bukan robot yang bisa bekerja tanpa lelah. Minggu ke-3 sebelum minggu terakhir dalam misiku menyelesaikan tantangan tersebut, jiwa ini rapuh, tubuh ini lelah karena harus bekerja pagi hingga sore lalu pergi kuliah malam harinya dan barulah pulang ke kost lewat pukul 10.00 malam. Aku jatuh sakit selama seminggu lebih hingga hari ke 27 aku baru bisa sembuh. Dalam keadaan tak berdaya melewati waktu aku hanya ingat akn misi tersebut yang mungkin akan gagal total tanpa ada kata ulang lagi tak ada kesempatan lagi untukku agar bisa melihatnya.

Untuk itulah dalam keadaan sakitpun aku selalu berdoa kepadaNYA berikan aku waktu untuk bisa menyelesaikan misi tersebut dengan sempurna agar bisa membuktikan kepadanya bahwa aku bukan sekedar sebuah tantangan cinta, bukan sekedar rasa yang mampu menyatukan perbedaan namun rasa ini adalah jiwa dan ragaku untuk dia.

Tinggal waktu 3 hari dari kesembuhanku, walau masih butuh istirahat yang cukup untuk 100% bugar namun karena aku memiliki tanggungjawab hati yang akan melenyapkan semua. Jika tak aku jalani maka aku jalani dengan baik sisa waktu tersebut dalam mengejar tulisanku yang masih tersisa 8 tulisan lagi yang harus aku selesaikan dalam waktu 3 hari.

Sesuatu yang sangat berat untuk aku jalani apalagi aku harus bekerja dan kuliah. Semangat telah aku buktikan kepada dunia, usaha serta doa telah aku sampaikan kepadaNYA Bahwa aku telah melakukannya dengan baik. Sampailah aku pada hari itu, hari dimana sejarah baru dalam hidupku akan aku buka serirng jawaban darinya tentang rasa, tentang cinta, tentang aku dan dia.

Tepatnya Hari Minggu pagi menjelang siang aku telah menanti di tempat yang sama aku pernah berkata kepadanya dan pada saat itu aku mendapatkan jawaban atas tantangan itu. Maka tempat ini pula yang akan menjadi saksi apa yang aku dapatkan darinya lewat tantangan tersebut. Aku menunggunya, aku menantinya datang menghampiri aku yang selalu setia sejak menunggunya sejak aku mengenalnya. Waktu pagi hampir habis, siang datang menjemput tanpa permisi tinggalkan pagi yang menghilang seiring sinar mentari datang menyerang antarkan hawa panas di atas kepalaku.

Aku mencari tempat berlindung dari sinar mentari yang semakin tak mengenal rasa kasihan kepadaku. Tak lama aku duduk bersandar masih dalam tahap menunggu mahluk indah yang belum juga menunjukan cahaya terangnya kepadaku pertanda kehadiranya. Suara Adzan berkumandang pertanda waktu zuhur telah tiba berarti waktu menunjukan lebih kurang jam 12.00 siang. Aku sengaja tak mengirimkan pesan singkat ataupun miscall karena ingin membuktikan padanya, apakah dia sadar dan tahu bahwa hari ini adalah hari dimana tantangan itu berakhir untuk dia lihat dan akan memberiku sebuah jawaban tentang rasa yang pernah aku ungkapkan dulu kepadanya. Sebagai umat muslim aku bergegas menuju masjid untuk menunaikan perintahNYA.

Dalam doa aku berucap kepadaNYA, semoga hari ini dia datang memberiku jawaban yang indah ingin aku dengar dari bibir tipisnya itu. Tak lama aku berada dalam rumah Illahi tersebut, aku segera beranjak pergi meninggalkannya untuk pergi ke tempat makan siang yang terasa penunggu perutku telah berdemo untuk meninta jatah hari ini. Setelah makan siang aku beranjak ke tempat semula yang selalu setia menunggu kedatanganku. Waktu pagi telah berganti siang dan siangpun berganti menjadi sore dan sebentar lagi malam akan datang menyambut.

Aku telah menghabiskan waktuku disini mulai dari jam 9.00 pagi hingga pukul 4.00 sore. Namun pertanda kehadiranya akan sulit diprediksi kehadiranya, entah ia akan datang atau tidak menemuiku yang hampir habis rasa kesabaranku. Pesan singkat telah aku kirimkan untuk beberpa kali, mencoba menghubunginya pun kerap aku lakukan, namun jawaban dan suara khasnya itu tak kunjung aku dengar dan hadir di telingaku. Aku tak mau kisahku hari ini lenyap begitu saja tanpa ada bukti nyata karena keyakinan hati masih tetap kokoh bahwa dia akann datang untukku walau harus menunggu lama disini.

Dalam diri ingatkan diri, jika waktu itu tak pernah berbohong dan jawaban pasti akan kau dapatkan jika kau bersabar. Helaan nafas panjang entah berapa kali aku rasakan namun kesabaranlah yang mampu membentengi diri bahwa tak akan sia-sia apapun yang kau lakukan dengan bersungguh-sungguh. Waktu sore beranjak malam kesabaran ini semakin menjauh pergi. Rasa lelah mengundang amarah, gudah hati ingin menjerit akan menanti jawaban yang tak pasti datang menghampiriku. Hari ini hari terakhirku dalam misi tersebut, sebagian dari hari ini telah aku lewatkan dan hanya tersisa beberapa jam saja hingga pukul 12.00 malam aku bisa bertahan.

Entahlah, tubuh ini saja sudah kaku akan lelah yang menyerang, bagaimana aku bisa bertahan hingga malam datang menyelimti jiwa menantimu. Tak menyerah dan tak mau berhenti walau harus ada air mata diakhir cerita, walau harus ada kecewa diakhir kata, aku akan bertahan hingga pukul 12.00 malam nanti biar semua tahu bahwa aku ada ditempat ini, biar dia tahu bahwa cinta itu adalah setia dan kesungguhan bukan harta dan martabat bisa meraih bahagia. Berteman Dengan Nyamuk nakal yang menggoda untuk memaksa untuk aku pergi dari tempat tersebut. Namun aku tak pernah terusik dengan kehadiran mereka karena aku telah berjanji pada diri sebelum jam 12.00 malam aku tak boleh kalah dan harus bertahan sebelum bendera putih berkibar dari ujung sana barulah aku kembali.

Perkataan mereka benar adanya, orang kaya itu tak akan pernah memandang cinta, mereka akan selalu memandang harta, kedudukan dan martabat kita. Mungkin hanya dalam dongeng saja kisah itu ada tapi kenyataannya akan sulit dicari. Seperti aku hari ini, mungkin salah satu dari kisah mereka yang harus merelakan hatinya terluka, terpendam hingga perih dirasa karena harus mencintai orang yang salah, orang yang tak memiliki cinta, mereka hanya memiliki harta dan kedudukan namun mereka tak pernah memikirkan cinta seperti apa yang aku rasa.

Mungkin aku tak mampu berkata dalam kesedihanku dengan keadaanku pada saat itu, mungkin hanya Allah SWT yang maha kuasa yang mampu menyelamatkanku dari gelapnya dunia untuk mengakhiri hidup ini. Bukan masalah ditolak karena cinta, bukan masalah itu yang membuat aku sangat terpukul namun lebih dari itu adalah karena waktu untuk melakukan semua itu terlalu berharga untuk diakhiri dengan jawaban yang tak ada. Bergerak pulang tanpa jawaban yang aku bawa.

Semua terasa telah hilang tanpa tahu apa yanga harus aku lakukan. Aku sampai di kostku yang selalu setia menanti kedatanganku. Rasa sakit ini telah menyelimuti diri ini, begitu sakit aku rasa, begitu pahit untuk aku cerna. Ingni rasanya aku pergi untuk selamanya namun iman didadaku tetap membelenggu jiwa untuk terus bertahan dan tabah menghadapi semuanya. Pagi hari aku telpon ibu di kampung sekedar melepas keluh kesah hidup di kota Jakarta ini. Sekedar mencurahkan kegelisahan hati akan penatnya nasib diri ini akannya.

Selesai aku menelpon ibu, aku tak mau hilang pergi tanpa jawab yang pasti, Aku mencoba mencari tahu dimana aku bisa bertemu dengannya. Dengan mengenal temannya aku mendapatkan cara agar aku bisa bertemu dengannya. Alhasil aku dapat menemuinya namun bukan dirinya melainkan pesan singkat dalam tulisannya karena selama aku membuat misi tersebut aku tak pernah tahu keadaannya karena memang tak boleh aku menghubunginya. Jika aku mencoba menghubunginya, sudah pasti tidak pernah diangkat ataupun dibalas pesan singkatku.

Kata-kata yang pernah ia ucpakan dulu mungkin ucapan terakhir yang pernah aku dapatkan darinya karena setelah itu dia tak akan pernah aku lihat lagi karena jauh dari sebelum aku menunggu dan datang kerumahnya, Sebenarnya setelah itu dia telah tiada karena kecelakaan dan akhirnya dia pergi untuk selamanya. Tak ada yang kasih tahu kepadaku walaupun temannya tahu kalau aku pernah berbicara kepadanya dan temanya itu tahu siapa aku dan saling mengenal.. Temannya berlinang air mata sambil ia memberiku selembar kertas berisikan tulisan, tulisan itu ia tuliskan sebelum ia pergi tinggalkan sejuta kisah dalam diriku hingga saat ini yang berisikan :

“…Jika aku harus menjawab pertanyaanmu dengan kata iya pada saat itu maka bahagiaku akan hilang habis pada saat itu saja. Dengan cara aku menunda memberikan jawabanku padamu dan memberikanmu tantangan berupa tulisan, bahagia itu sepertinya akan abadi aku rasa karena kau akan selalu menantiku…”.

Air mata ini tak mampu aku bendung keluar deras dari mataku. Kalian boleh bilang aku cenggeng, cowok lemah gampang menangis namun pada saat itu aku tak kuasa menahan air mataku. Mendengar cerita panjang temanya aku jadi sangat sedih betapa dia juga sangat menyukaiku sejak dulu sebelum aku berkata dan memberiku tantangan seperti itu.

Dia memang telah tiada namun tulisan itu akan tetap abadi mengisi indah kisah hidupku. Jangan pernah bertanya kenapa aku terlalu mencintainya karena dengan tulisan ini kau sudah tahu kenapa aku hingga saat masih setia memelihara rasa itu untuknya. Jika berakhir itu pasti dia yang sebenarnya ada dalam titisan purmana yang sempat tertunda dalam kisah abadi hidupku aku dan dia.

Kini aku akan tetap melangkah menyelusuri jalan hidupku, walau aku tak tahu harus memilih siapa nanti, namun cinta dan rasa itu akan selalu ada disetiap doa yang aku berikan untuk dia yan pernah memberiku pelajaran akan arti setia.

#Cerpen 3 : 

 “ Sebuah Nama Hadir Atas Nama Cinta ”

 

“…Seseorang wanita hadir atas nama cinta, dia datang bawakan sejuta kisah bersenandung kasih bertahta bahagia. Dia datang bukan untuk kamu ataupun dia.

Dia datang untuk cinta. Namun, Hanya saja dalam senyum hadirnya hati ini bertanya,

Akankah dia datang untukku?, atau hanya sebatas kisah resah hati dimana seketika waktu dia akan menghilang tinggalkan gejolak rindu yang tak pernah menjadi ada…”

Disaat warna itu semakin memudar, disaat lentera itu hampir padam, disaat waktu semakin sesak membelenggu diri akan hati yang luka terhempas kejam oleh sebuah janji yang baru saja mengubur mimpi menghilang dari hati terlepas pergi tanpa aku sadari dia telah meninggalkanku sejak hari itu. Disaat rasa itu berubah menjadi rasa yang berbeda, disaat cinta itu menghilang pergi dari ranah waktukku, kau hadir atas semuanya yang memberikan tetesan butir-butir embun semangat dalam waktuku kembali.

Tetesan demi tetesan kau bangunkan aku dari keterpurukan yang sedang diuji oleh cinta sejati tentang dia yang telah mengabaikanku disana. Hampa kurasa, tak kuasa diri ini menahan gempuran waktu yang terlalu kejam untuk aku hadapi, terlalu pahit untuk aku rasa dan terlalu sulit untuk aku pendam dari perkara rumit akan ucap kata dalam dusta.

Hingga hari itu, kata pergi dia ucapkan, aku jatuh terpelosok jauh ke dalam jurang ketidakadilan waktu akan cinta yang aku pelihara dalam sebuah janji suci untuk saling percaya, saling menjaga dan saling memberi antara aku dan dia disana. Namun kesetian cinta yang aku jaga lebih dari apapun seketika waktu lenyap menghilang karena sang perkara tak mampu berlaku seperti waktu yang aku pegang atas namanya disini dan keadaan itu sepertinya kambuh kembali seperti yang pernah dia lakukan dulu ketika luka itu dia berikan untuk yang kedua kalinya.

Seribu waktu mungkin terlalu sedikit yang aku habiskan untuknya. Sejuta kisah mungkin terlalu pendek untuk aku uraikan dalam sebuah cerita agar dia mengerti jika aku tak pernah bermain dengan luka. Namun semakin aku belajar untuk mencintainya sepenuh hati dan jiwa dengan sebuah kata akhir yang aku amanatkan untuknya yaitu menuju bahagia hingga akhir nanti ketika aku kembali nanti, Ternyata itu tak cukup baginya untuk berlaku sama sepertiku apa yang aku rasa hingga dia jatuh dalam buaian waktu miliki hati yang lain.

Andai saja dia tahu, betapa rindu itu masih tetap sama seperti dulu yang tertulis atas namanya. Seandainya dia mengerti hati ini, Jika Aku setengah mati, mungkin hampir mati dalam waktu menunggunya, berharap hingga aku kembali nanti akan aku anyam rindu itu menjadi nyata dalam sebuah mahligai ikatan suci beralaskan kasih yang sah atas Nama Allah SWT dihadapan orang tuanya. Namun niat tulus hatiku yang selalu aku tanamkan untuknya dan selalu aku katakan kepadanya dalam setiap kali aku menghubunginya tak mampu meredam dan menghapus rindu dalam hatinya sehingga dia pergi dalam waktuku yang terlalu sulit untuk aku ubah seketika menjadi sadar diri.

Dalam hati berkata, Seandainya saja dia paham dan dia mengerti keadaanku disini, sudah pasti dia tidak akan pernah meninggalkanku dalam keadaan seperti saat ini. Seandainya saja dia merasa apa yang aku rasa dan melihat keadaanku yang sangat menginginkanya, sudah pasti dia tidak akan pernah melepas tanganku seperti hari ini. Namun disela rindu yang mencekam kasar disetiap hariku, dia menghilang tanpa kata pamit dari cinta sehingga dia tinggalkan goresan luka yang membuatku sangat sulit untuk mengerti jika cinta telah pergi dariku.

Aku sangat sadar, paham dan mengerti betul Jika hubungan jarak jauh itu memang sulit untuk dijalani. Berbagai kendala dan cobaan sudah pasti akan datang silih berganti, namun seperti yang pernah aku katakan padanya waktu itu, jika aku pergi hanya sebatas waktu saja dan akan kembali secepat mungkin setelah apa yang aku cita-citakan tergapai sudah. Aku juga telah mencanangkan waktu yang tepat agar aku secepatnya kembali setelah aku wisuda nanti. Setelah semua aku bicarakan kepada dirimu dan juga kepada kedua orang tuamu disana sebelum aku pergi dulu.

Kau dan semua telah katakan kepadaku jika kau sanggup menanti waktu itu dan akan memegang erat dalam hatimu apa yang telah aku ucapkan itu. Kau juga katakan padaku jika kau tak mengapa jika harus menungguku kembali nanti. Aku tanyakan cinta itu dan kau telah menjawab dengan tegas jika dirimu akan menungguku kapanpun aku kembali dan kau tak akan melepas tanganku seiring waktumu tiada. Dengan modal cinta dan janji sejatimu itu, aku tanamkan dalam hatiku erat-erat dengan setia yang mendalam dan aku sangat percaya dalam setiap doa-doa yang aku panjatkan kepadaNYA agar aku dan dirimu akan bersatu dalam sebuah ikatan suci suatu hari kelak nanti dalam bahagia hingga ujung waktu tak terpisahkan. Enam bulan berlalu setelah kepergianku ke Jakarta ini.

Cinta dan janji yang aku tanamkan dalam hatiku atas namamu masih berwarna sama seperti sediakala. Tak ada yang berubah dan tak sedikitpun berubah warna dan jauh dari kata memudar untuk berpaling. Namun tak seperti itu yang kau rasa disana, semuanya berubah dan tak seperti apa yang kau ucapkan dulu, semakin hari sikapmu semakin membuatku semakin yakin jika dirimu tak kuasa menahan gempuran waktu jauh dariku. Bukankah aku pernah tanyakan padamu waktu itu, Jika memang dirimu telah ada yang menginginkan hatimu untuk bersenandung dalam sebuah pernikahan, aku katakan jika aku ihklas menerimanya dan aku tak tak akan marah kepadamu. Namun kau menjawab dengan lantang pertanyaanku itu, jika hatimu hanya tercipta untukku dan tak ada yang lain.

Perasaan hati tetaplah rasa yang sangat mengerti betul jika rasa yang kau punya tak seperti apa yang kau rasa dan kenyataan itu memang sudah aku tebak sejak hari itu jika ucapanmu akan berubah seiring aku tak ada disampingmu. Sebenarnya pada hari itu ketika dirimu menepis pertanyaanku akan arti kesetianmu menungguku, aku telah dapatkan jawabanya jika dalam hatimu telah ada kata yang kau sembunyikan dalam lubuk hatimu. Namun hanya saja aku belum bisa memastikan jika itu cinta yang lain yang kau tanamkan entah dari kapan adanya.

Aku tak berprasangka buruk tentang itu semua sejak aku rasa jika cinta lain hadir dalam hatimu. Berharap kepada waktu, aku pikir lebih jujur untuk memastikan jika apa yang aku rasa memang seperti apa yang pernah terlintas dalam benakku pada hari itu. Cinta bukan untuk dipermainkan, setia bukan untuk di dustai dan kasih sayang yang tulus bukan untuk dihianati. Jika memang kau tak ingin dia terluka karena ucapan pisah dari bibirmu karena kau menginginkan yang lain, lebih baik ucapkan saja dengan baik tanpa harus menyakiti karena lebih dari itu semua jika kau berkata jujur namun itu lebih baik daripada kau pergi tanpa pesan sepatah katapun, itu menurutku jauh lebih sakit.

Mengenalmu hingga menjalin sebuah kisah cinta bersamamu bukan waktu yang pendek untuk aku jalani. Lima tahun berlalu sejak pertama kali aku katakan perasaan itu padamu, sejak hari itu rasa itu selalu terjaga dengan baik dalam hati ini. Tak pernah aku berpaling dan tak pernah aku ingkari cintamu yang kau titipkan dalam hatiku, apapun itu, semua masih sama, rasa yang sama dan rindu yang sama. Duka cita, bahagia derita dalam menjalani hubungan denganmu bukanlah perkara yang mudah. Sempat putus komunikasi yang sangat lama waktu itu, namun kau kembali lagi dan aku selalu setia menunggu kehadiranmu kembali karena dalam hati sangat merasa yakin jika dirimu wanita terakhir yang ingin aku perjuangkan mengisi waktukku hingga nanti dan aku tak mau lagi setelah itu bermain api asmara lagi dengan yang lain.

Walaupun dalam keadaan itu hati ini tak tenang mendengarkan kabar dari orang lain, jika dirimu adalah wanita yang kurang baik, namun tetap saja aku mencintaimu seperti seperti dulu yang tak pernah berubah dan padam seiring waktu berlalu dan aku hanya inginkanmu. Mungkin aku ini memang orang yang bodoh, mengharapkan dan menanamkan sebuah rasa sejati dalam hati tanpa mengetahui jika orang yang aku sayang tersebut telah berdusta untuk beberapa kali dan aku tetal saja selalu setia menunggunya dan menjaganya hingga hari itu kau menghilang pergi.

Hingga pada hari itu, dimana kau kembali menghilang, tanpa kabar, tanpa pesan dan sulit sekali untuk aku hubungi. Aku biarkan waktu berlalu, berharap aku temukan sebuah jawaban atas resahnya hati ini kehilanganmu. Aku berharap kau tak pergi begitu saja dan tinggalkan cerita kusam sendirian untuk arungi waktu tanpa hadirmu. Lelah bermarkas gelisah seiring waktu berlalu, mau tidak mau aku harus menerima kenyataannya juga dimana jawaban itu akhirnya aku temukan juga dari orang disekelilingmu disana, jika dirimu telah bersama orang yang kau pilih hatinya untuk menemani waktumu dalam sebuah hubungan cinta. Mendengarkan kabar itu, aku berusaha kembali untuk menghubungimu dan mencoba mengirimkanmu sebuah pesan singkat melalui hanphoneku agar aku temukan sebauh jawaban pasti dari dirimu agar aku mengerti betul jika itu memang pastinya adanya.

Hingga malam berlalu tak mampu aku pejamkan mata karena memikirkan itu semua, namun seiring waktu malam berlalu, Jawabanmu tak kunjung datang hingga pagi menjelang. Tak sepatah katapun kau balas pesan singkat akan pertanyaanku itu dan tak ada deringan Nada Hanphoneku yang biasanya selalu datang tertulis atas namamu disaat rindu itu menjelma menjadi nyata, yang ada hanya tatapan kosong yang menjelma menjadi sesakkan dada. Sedih memang sangat sedih untuk aku rasa, namun aku berusaha untuk berlaku diam dan membiarkan rasa itu berkecampuk kasar hingga mengaduh dalam hati hingga lelah berakhir asa menjadi tiada.

Hari Aku lalui dengan sesaknya hati penuh dengan luka. Sikap kadang tak mencerminkan seperti apa aku yang sebenarnya. Namun aku selalu berusaha untuk tampil baik di dalam keseharianku walaupun keadaan diri sedang hancur karena aku tak mau semua aktivitasku berdampak buruk karena keadaan hati yang tak menentu itu. Kadang aku merasa seperti bukan aku yang biasanya.

Namun dalam ketidakmampuanku itu mengusir sepi tanpanya aku berusaha di setiap langkahkku dalam doa kepadaNYA agar ada seseorang yang datang kembali atas nama cinta tulus yang mampu menghapus luka yang teramat perih aku rasakan ini. Dua Bulan Berlalu, Sudah aku pastikan jika kabar itu memang benar adanya dan dalam waktu yang dekat dia akan segera menikah dengan seseorang yang telah menjadi pilihanya itu. Tepat pada ulang tahunku juga pada tahun 2016 ini, dia dipersunting oleh seseorang yang telah memilih hatinya untuk bersatu dalam sebauh janji suci atas Nama cinta Allah SWT.

Walaupun aku tak sempat ucapkan kata akhir untuknya namun dalam hati aku telah memaafkannya dan berharap apapun yang menjadi pilihanya merupakan langkah yang baik untuk hidupnya dan aku hanya mampu berdoa untuk dia agar dia mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat bersama orang yang telah dia pilih untuk hidup bersamanya. Begitu juga denganku, Walaupun hanya melalui doa yang dapat aku ucapkan untukmu dari kata terakhirku, maafkan aku yang tak mampu menjadi ada dalam bahagiamu, maafkan aku yang tak mampu memenuhi semua apa yang kau inginkan, maafkan aku yang tak mampu menjelma menjadi imammu seperti yang pernah harapkan dan katakana kepadaku waktu itu dan maafkan aku yang telah menyita waktumu hingga membuatmu lelah menunggu.

Lima Bulan Berlalu, Berangsur hati ini semakin membaik walaupun tak sebaik saat masih bersamamu. Tak mudah memang bagiku melepas semua cerita itu, namun tak aka nada gunanya menyesalinya dan aku berdoa dalam semangat agar mampu membuat aku sadar jika hidup memang begitu adanya. Kata orang sich, Ada yang pergi dan ada yang datang dan ada sedih dan ada bahagia dan ada derita sudah pasti ada air mata dan itu akan selalu memawarnai perjalanan panjang kehidupan manusia dimuka bumi ini.

Mungkin itu harus aku alami dan aku jalani seperti apa yang tertulis itu. Berpegang teguh akan jalan yang lurus dengan ketentuanNYA itu memang harus ditanamkan dalam hati karena apapun itu semua akan indah pada waktunya dan aku berharap akan merasakan hal yang sama seperti mereka yang merasakan hal serupa, bahagia hingga tak ada celah lagi untuk merana tentunya bersama dia yang telah Allah SWT Pilih dan tentukan untuk aku.

Allah SWT tak akan pernah salah memberikan sesuatu itu kepada seseorang hambanya tanpa ada alasanya. Namun hanya saja hambanya tak banyak yang mengerti dibalik yang diberikan itu. Jika mereka paham dan mengerti, maka sudah pasti dia akan mengsyukurinya dan bersujud kepadaNYA karena tak ada yang terbaik diatas dunia kecuali pemberian Allah SWT. Berusaha, tawakal dan doa disetiap nafas memang itu jalanya. Tak perlu lelah dan mengalah demi sebuah tujuan yang baik. Apapun yang kau lakukan saat ini dan jika mereka beranggapan itu tak berguna, maka tak perlu kau tanamkan dalam hatimu dengan risau, biarkan kesukesanmu kelak yang menjawab celoteh mereka tersebut. Dan Aku mungkin akan berlaku seperti itu.

Mungkin aku salah satu yang mengalami hal ini, dimana menjalani sebuah hubungan cinta jarak jauh. Bagiku, Pacaran jarak jauh telah mengajarkanku akan arti setia. Bukan setiap kepadanya Saja, Namun aku telah diajarkan setia dalam sebuah amanat hati yang selalu aku panjatkan atas Nama Allah SWT. Mungkin saat ini Allah SWT sedang bercanda denganku dan memberiku cobaan yang harus kehilangan seseorang yang selalu aku jaga cintanya sejak lima tahun silam hingga akhir cerita itu menghilang. Aku sangat percaya hal itu, Jika Allah SWT tak akan membiarkan aku sendiri dimuka bumi ini, Jika memang takdirku menunjukku harus sendiri sebatas waktukku didunia ini, maka aku tak akan menyalahkan Mereka dan juga Dirimu ya Allah.

Paling tidak aku pernah hidup atas nama cinta sejati yang aku tanamkan dalam sebuah kisah dalam sebuah nama indah yang aku tuliskan dalam cerita ini. Dan saat ini sepertinya itu terbukti adanya. Semangat itu kembali bergejolak bersinar seperti mentari pagi yang menyinari seisi bumi ini untuk memberikan isyarat untuk bergerak menuju impian itu. Begitu juga dengan Senyumnya hari ini, sosok yang datang menjelma menjadi ada tepat disampingku.

Tak mampu aku kira dan tak mampu aku baca, jika langkah itu memang sangat khas aku dengar dan untuk pahami jika aku akan kedatangan seseorang wanita yang akan membuat hariku kembali seperti apa yang aku tanamkan kepada dia yang telah menghilang membawa pergi seluruh ceritaku. Seseorang wanita telah datang atas nama cinta, Bukan untuk mereka tapi untuk cinta. Semenjak kedatanganya itu pula, hati ini telah memilih dia untuk aku sandarkan sejuta pilu hati yang pernah padam diterjang kehampaan luka yang mendalam oleh siraman dusta yang tak memiliki rasa kasian.

Semakin dia ada didekatku, diri ini semakin yakin jika dia akan memberiku sebuah kata, sebuah cerita dan sebuah rasa yang akan mengembalikan kata yakinku jika aku masih mampu untuk menanam sebuah rasa setelah rasa itu menghilang pergi jauh lalu menghilang tak menghiraukanku lagi. Kehadirannya memang telah membuka celah untuk aku temukan tempat yang baru untuk aku mengadu rindu walau hanya dalam resah hati belum kata pasti, namun dibalik rasa yang semakin hari semakin menjadi tak kuasa aku bendung menahan rasa cemburu bergemuruh datang menjelma kasar yang membuat aku seperti bukan aku, tesimpan kata lupa diri, jika dia telah memilih dan terpilih dari mereka yang telah lama bergelora dalam sebuah ikatan cinta yang tak aku kenal isi ceritanya.

Walaupun ucapan itu pernah terdengar dari dia, Jika dia telah memiliki seorang kekasih dalam hidupnya. Mendengar perkataan itu, memang sakit untuk aku rasa, Walaupun banyak yang bilang sebelum janur kuning melengkung kita masih punya jalan untuk memilikinya, namun kembali lagi ke keadaan diri jika aku tak akan pernah mampu untuk bersaing seperti mereka karena aku sangat memahami diri dan tau betul kelemahan diri jika aku sudah pasti akan kalah.

Memusatkan diri akan arti kalah sebelum berperang sich nggak, namun kadang sesuatu itu harus dipikirkan matang-matang dan harus penuh pertimbangan serta rencana yang baik, jika sudah sangat mengerti betul akan kelemahan diri, maka ada baiknya mundur sebelum mendapatkan hal yang sangat memalukan dan mungkin akan jauh lebih parah dari apa yang aku pikirkan, semoga saja tidak sedemikian kejadiannya. Hari itu aku mengenalinya, semenjak hari itu juga hati ini memilihnya, belum sempat aku berpikir untuk berpaling, namun keadaan perasaanku telah fokus dalam sebuah senyum indah yang aku lihat pada pagi itu.

Hingga siang menjelang, aku harap senyum itu akan menghilang, namun hingga aku malam menjemput, senyum itu semakin ada dan berubah wujud menjadi rindu yang menyerang datang dan tanpa aku sadari jika aku telah jatuh cinta padanya. Perlahan namun pasti, semakin beranjak sang waktu menelusuri celah rindu itu, semakin hati ingin ungkapkan sejuta kata tentang rindu akan cinta yang kini sedang melanda kejam dalam waktukku.

Atas nama cinta, aku memang jatuh cinta kepadanya dan aku sangat mensyukuri atas nikmat serta anugerah Allah SWT yang masih mampu kau rasakan melebihi dari rasa yang pernah aku dapatkan. Tak ingin aku lalai akan rasa itu, aku selalu memohon kepadaNYA dalam setiap sujudku, Aku sebut seuntai kata indah namanya agar aku diberi petunjuk akan arti rasa yang aku rasa saat ini tentang dia yang memiliki senyum indah agar dia bukan yang salah.

Tak mampu aku ungkapkan isi hati ini kepadanya semenjak hari itu aku mengenalinya, semenjak itu juga tulisan ini selalu menjadi sahabat setiaku yang selalu ada disaat aku merindukannya. Semakin aku berjalan, semakin rasa itu datang menjanjikan sebuah jawab. Semakin aku menatap mata indahnya, semakin berbisik cinta itu lalu berkata lantang diteligaku agar aku ungkapkan saja apa yang aku rasakan saat ini. Namun kata sepintas aku tersadar jika aku belum saatnya untuk melakukan itu dan aku harap itu tak membuatku segan dan lemah ketika suatu hari kelak, bibirku tak kuasa juga ungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan kepadanya.

Memikul beban cinta dalam sebuah perasaan yang tak pasti bukanlah hari yang mudah untuk dijalani. Berbagai ungkap, berbagai prasangka hati dan berbagai gejala cemburu datang silih berganti selimuti ruang waktu yang membuatku menjadi orang yang beda. Kesal tak karuan, cemburu tak berujung serta berbagai efek lainnya yang kadang kala membuatku berlaku aneh termasuk sering senyum sendirian. Enam Bulan dia telah berikanku sebuah kisah baru dalam semangat yang tanpa aku sadari berangsur menjadi sebuah cinta. Bagiku, dia bukan saja indah untuk dicintai, dia akan selalu indah, siapapun yang memilikinya dan aku sangat percaya itu.

Mungkin saat ini bukan aku saja yang telah jatuh cinta dibuatnya, namun ada hati yang lain yang berambisi sama denganku untuk mendapatkan cinta dalam hatinya hingga menjadi nyata. Disela semangatku kembali hadirnya jiwa baru dalam hatiku aku semakin menyadari jika aku telah berlaku salah untuk melampiaskan semua ini terhadapnya disaat aku mati dalam rasa yang menghukumku kala itu. Namun semakin aku menyadari juga, aku memang tak mampu berpaling dari dia.

Telah berbagai cara untuk aku abaikan saja rasa itu agar tak tumbuh subur dalam hati ini. Namun semakin aku melupakan senyum itu dengan jauh darinya, tak menyapa dirinya dan tak mentapa mata indahnya itu, semakin aku menderita ingin memadangnya lebih lama lagi dan lagi. Aku Merasa dalam waktuku, jika hanya dia yang hidup dipermukaan bumi ini, Dimana saja, dia selalu menjelma bagaikan ada hingga aku tak kuasa menahan gemuruh rindu itu. Dalam doa-doa aku selalu berkata kepada Sang kuasa agar rasa cinta ini tak melebihi dari rasa cintaku padaNYA.

Namun semakin aku mengadu, rasa itu semakin ada. Aku tak sanggup ya Allah, Aku tak bisa menahan rindu ini yang datang silih berganti tanpa mengenal waktuku. Ya Allah, berikan aku sebuah kata, berikan aku sebuah rasa agar aku mampu berkata jika aku tak akan pernah bisa mengungkapkan perasaan ini kepadanya. Aku orang yang lemah ya Allah, Aku orang yang tak memiliki keberanian diri untuk bisa berkata Tanya kepadanya agar aku temukan sebuah jawaban akan rindu itu. Malam berlalu tanpa bintang, malam berlalu tanpa bulan dan tanpa nyata yang ada hanya sebatas rindu hati yang tertuju jelas kearah sana yang diam saja seolah tak mengerti jika aku setengah mati mencintai anda, Atau memang aku yang bodoh, berbicara sendirian bersama sunyinya malam dan mungkin aku telah gila oleh perasaan ini hingga aku lupa diri jika Cinta sejati tak pernah mengajarkan seperti itu.

Entahlah…, yang jelas perasaan ini tertulis atas namanya, walaupun aku berusaha untuk menggantinya dengan yang lain, namun tetap saja akan kembali kebentuk semula tertulis indah dan akan selalu terjaga dengan rasa yang sama. Berharap dia mengetahui apa yang aku rasa saat ini jika aku telah jatuh cinta kepadanya?, itu permintaan terlalu tinggi untuk aku ungkapkan. Mengenalmu saja bagiku telah banyak memberikanku pelajaran yang baik, untuk aku kembali bersemangat dalam menjalani waktukku.

Jangan pernah bilang aku egois karena telah menyimpan perasaan ini untukkmu, namun perlu kau ingat jika aku bukanlah orang Lemah untuk berhenti hanya dengan tindakan tanpa bukti untuk ungkapkan semua. Hadirmu semangat bagiku, jatuh cinta kepadamu anugerah terindah sang maha indah Allah SWT yang tak mampu aku balas adanya dan aku sudah sepantasnya berterima kasih kepadamu jika dirimu akan selalu indah dalam setiap bait tulisanku ini. Walaupun aku tak mampu berkata tentang perasaan ini karena aku sadar jika rasa itu tak akan perna mampu mengubah menjadi bahagia untukmu karena keadaanku. Aku ungkapkan saja bisa saja aku lakukan.

Kata tidak mungkin bisa saja berubah menjadi mungkin kau menerima perasaanku ini dengan kata iya, namun sebelum kau menjawa iya, maka aku sudah pasti akan melarangmu karena aku tak akan biarkan hidupmu menderita seperti apa yang aku derita dalam setiap langkah kakiku. Kau pantas bahagia bersama mereka yang memang pantas membuatmu bahagia, aku tak menutup kemungkinan juga bisa membuatmu bahagia, namun bahagia yang mampu aku berikan hanya cinta saja, namun untuk memberimu lebih mungkin aku tak akan bisa karena aku sadar kehidupanku memang sulit.

Aku tak akan pernah menyalahkanmu, membiarkanku menyimpan perasaan ini hingga jauh dan juga tak menyalahkan hadirmu ada dalam hariku karena dirimu awal yang baru bagiku yang insya Allah akan selalu menjadi semangatku hingga kelak waktu dalam mengarungi perjalanan panjang waktuku hingga aku temukan tempat bersandar yang pantas. Banyak yang bilang hidup itu sebuah proses panjang yang akan selalu ada disetiap gerak langkah yang dijalani.

Jika bersungguh-sungguh dengan tujuan yang baik, maka suatu hari kelak akan menemukan hasilnya yang baik pula. Seperti itu pula aku yang saat ini sedang merindukanmu, mencintaimu dalam resahnya waktu dan sunyinya malam tanpa hadir nyatamu disisiku. Akan aku jalani masa ini hingga hati ini mengerti jika cinta yang aku rasa ini memang tercipta atas namamu dan berubah menjadi ada atau hanya sebatas kisah cinta yang hanya hadir sekejap malam lalu pergi dan tak pernah kembali.

Mulai hari ini, aku akan selalu menunggu dalam kesetianku menunggu cinta memilih.Jika dirimu memang tercipta untukku, maka dirimu tak akan pernah pergi dariku apapun itu alasanya dan Jika waktu berkata berbeda dengan itu, maka aku pastikan kepadamu jika aku tak akan menyalahkanmu hadir disini karena darimu aku dapatkan kembali hiduku dan itu lebih dari cukup untuk kembali aku berjalan menuju seseorang disana yang mungkin telah menungguku pasti.

 #Cerpen 4 :

 “ Sang Penyair Rindu ”

 

Hidup adalah misteri illahi dimana kita tak akan pernah tahu sedekikpun apa yang akan terjadi dalam hidup yang kita jalani didunia ini. Hari ini, esok bahkan lusa kita tak akan pernah mampu menelusi apa yang akan kita temukan dan apa yang kita jumpai. Kita hanya mampu berencana dalam usaha yang tak putus asa agar apa yang kita rencana dalam keinginan dapat tercapa sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Cepat atau lambat semua akan berubah, tak peduli kau bergerak atau tetap disana semua akan berganti masa, dimasa yang kau tak temukan kau akan menemukanya, dimana waktu yang tak pernah terlintas dalam benakmu akan datang menghampirimu dan semua akan datang tanpa kau ketahui sebelumnya. Intinya apakah kau siap untuk menerima apa yang tak sesuai dengan apa yang kau harapkan dan bagaimana kau menerima apa yang telah digariskan tuhan atas namamu.

Berbagai gejolak itu mungkin telah dan pernah terlintas dalam benakmu dan begitu juga aku, namun jangan pernah kau takut apa yang terlintas dalam benakmu itu karena itu buan kejadian yang sebenarnya karena sudah aku beritahu jika kehidupan mendatang tidak ada yang mengetahuinya sedikitpun. Jadi tetaplah berusaha dan kejar mimpi dalam cita-cita yang kau inginkan dengan sebaik mungkin. Hal yang ingin aku tulis disini mungkin pernah anda alami dalam hidup anda mungkin karena ini berurusan dengan masa depan dan hati. Kenapa aku bilang masa depan dan hati karena yang ingin aku sampaikan disini adalah tentang cinta.

Cinta, siapa yang tak mengenal cinta, semua orang mengenal cinta karena cinta adalah anugerah sang kuasa yang diberikan kepada kita semua. Cinta adalah keindahan, jika tidak ada cinta maka tidak ada keindahan didunia ini. Cinta bukan sekedar untuk mereka yang sedang pacaran saja, namun cinta untuk kita semua yang akan melengkapi semua menjadi indah dan nyata. Tanpa cinta bagai hidup tanpa warna, bagai hidup dingeri padang pasir dan bagai hidup didunia kegelapan tak cahaya dan tak ada canda gurau dalam bahagia terhias dalam senyum yang membuat kita nyaman menjalai kehidupan didunia ini.

Berbicara mengenai cinta itu tak akan pernah ada habisnya dan jika ditulis dalam sebuah kisah maka itu tak akan pernah bisa selesai hingga bumi ini tiada karena cinta itu kehidupan. Jadi pertanyaannya, masihkah kau membenci cinta dan pergi dari cinta?. Jawabanya ada anda sendiri, mungkin bagi yang sedang jatuh cinta akan menjawab tentunya tidak namun bagaimana dengan mereka yang putus cinta?, aku harap tidak juga karena jika putus satu maka akan tumbuh seribu kata wali band.

Namun bagaimana dengan mereka yang cinta yang tak terbalas atau cinta dalam hati kaya lagu unggu gitu, tentunya anda akan merasa sedih banget pastinya. Namun perlu anda ketahui jika cinta dalam hati atau cinta tak terbalas itu bukan bencana atau kesalahan sebetulnya namun hanya soal waktu saja anda tidak bisa memiliki. Jika sudah begitu jawaban yang bisa mengalirkan pikiran anda untuk tidak sakit hati dan putus asa adalah tuhanmu.

Ingatlah tuhanmu karena cinta itu miliknya dan dia menciptakan semua yang ada didunia ini maka minta kepadanya agar bisa menemukan orang yang lebih baik dari yang kau kagumi. Memang sangat susah pastinya jika kita bertemu seseorang wanita ataupun pria yang kita kagumi dan ingin kita menjadi bagian dari hidupnya, namun apa boleh buat kita tak mampu untuk mengatakan perasaan yang kita rasa kepada sang pujaan hati tersebut. Kita hanya mampu berbicara dalam hati jika kita mencintainya sepenuh hati, inginkan hati mengatakanya namun keadaan tak pernah bertemu titik tepat agar mampu mencurahkan isi hati kepadanya.

Semakin hari semakin rindu itu melanda bagaikan musim hujan yang tak reda-reda seperti saat ini. Dalam diam teringat akan senyumnya dan dalam tidur terbayang dalam mimpi indah tentangnya. Biasanya jika sudah seperti ini semua akan tercipta tentang dia, apa-apa pasti dia, mau itu dan ini semua dihuni oleh dia bak malaikat yang selalu ada dalam kehidupan kita saja. Namun hal ini tentunya manusia menurutku karena aku sendiri pernah juga mengalami hal semacam ini.

Seorang wanita yang aku kenal namanya dengan indah dan setiap hari menebar wangi senyum indah dihadapanku tak mampu aku redam hadirnya dalam rinduku setiap hari membuatku jatuh cinta kepadanya. Namun semuanya hanyalah angan diatas luka dimana aku hanya mampu menatap wajahnya setiap hari namun perasaan ini tak sanggup aku ungkapkan kepadanya karena sebuah alasan yang membuat aku tak akan mampu mengungkap rasa apa yang aku rasa akan dirinya.

Menurutku, dia wanita yang cantik, sholeha dan memiliki mata dan senyum terindah menurutku, mungkin bagi kamu yang melihatnya juga mungkin akan berkata sama sepertiku. Kenal denganya saja kau sudah sangat senang dan mengaguminya saja kau merasa lebih dari aku memilikinya. Alasan kenapa aku tak akan berani untuk ungkapkan kepadanya adalah karena menurutku dia itu sempurna menurutku dan dia pantas dapat yang sebanding dengan kesempurnaan dia dan aku sangat menyadari jika aku bukanlah orang. Kenapa aku bilang begitu bukan berarti aku tak percaya diri atau putus asa sebelum bertindak namun jika medan perang sudah kita ketahui keadaanya sedangkan kita tidak memiliki cukup senjata untuk masuk kesana lebih baik urungkan niat dahulu karena jika memaksa akan mati konyol, bukankah begitu perkataan orang bijak?.

Nah, begitu juga dengan apa yang aku lakukan ini, aku tak akan menaggung malu hanya dengan sikap konyol yang tak sadar diri mengatakan perasaan ini kepada seorang wanit yang diatas rata-rata menurutku dari pada aku. Jika di presentase dierima itu hanya 10 Persen saja sedangkan 90 persenya …? #@$%&.

Sadar dengan keadaan diri yang memang kurang baik keadaannya, maka aku hanya mampu bilang jika aku bahagia dengan apa yang aku lakukan ini. Menulis tentangnya akunya saja sudah bahagia banget. Dengan cara ini aku bisa mencurahkan rasa yang terpendam ini kepadanya walaupun hanya dalam sebuah tulisan. Dalam rindu selalu tertuang wajahnya dalam setiap baitu tulisanyaku, setiap nafas senyum itu selalu menghiasi semangatku setiap hari, hadirnya membuatku seakan memiliki masa depan dan ingin hidup beribu tahun lagi dan mengaguminya seakan aku bahagia dengan apa yang aku pilih.

Dia berhak untuk bahagia dengan orang yang pantas bahagia denganya dan aku sangat mempercayai itu. Rindu akan hadirmu itu akan selalu ada disini walaupun nanti paras angunmu tak pernah aku lihat lagi berada didekatku dan aku patut berterima kasih atasmu cinta karena telah memberikanku sebuah nama rindu yang mengisi indah perjalanan hidupku, untukmu yang terindah.

#Cerpen 5 :

 “Lantunan Nada Indah Hadirmu”

 

“Aku dengar detak langkah kakimu berirama indah Menelusuri lorong waktu mendekatiku,

Kau bawa drama asmara, alur cinta bersenandung rindu.

Dalam senyum kau menyapa indah, Dalam gelisah Aku bertanya, Benarkah cinta datang untukku?…”

 

Ruang gelisah mungkin telah lama menunggu rasa tentram yang redup tanpa cahaya menerangi diri mengisi hati yang menanti. Sepertinya hadirmu bukan saja soal cinta atau perasaan kosong memenuhi hariku namun hadirmu telah menolongku dalam sepinya waktu dan juga memberiku asupan kehidupan baru dimana pernah luluh lantak akan pahitnya kehidupan janji tanpa tanda pasti dari mereka yang meninggalkan catatan luka dalam kalbu. Disela rasa yang hampir punah, diwaktu hampa menyerang ruang hati, kau datang sebagai pahlawan penyejuk diri, kau datang bak mentari pagi bersinar terang hangatkan jiwa yang sedang menanti.

Sebentar saja hadirmu, rasanya ingin aku jalani kehidupan ini seribu tahun lagi lamanya. Entah aku bahagia atau tidak namun aku percaya kau akan mengisi ceritaku bait demi bait bahagia dan itu aku rasa cukup sebagai amunisiku untuk mengarungi medan perang langkah masa depanku. Tak mampu aku tebak memang jika dirimu akan bernaung dalam dekapan kasih bahagia seorang imanmu kelak, namun kehadiranmu hari ini telah mengubah duniaku dan aku sangat berharap itu akan menjadi kenyataan diman suatu hari kelak kau akan tersenyum seperti yang aku lihat pertama kali datang menghampiriku ada di dekatku.

Walaupun adamu disini bukan untukku, namun patut aku ucapkan terima kasih hadirmu karena dalam keadaan diriku yang hilang kendali akan hati yang patah di terjang badai keputusasaan oleh mereka yang meninggalkanku tanpa pernah kembali untuk datang menjenggukku, kau datang memberiku pesan jika bahagia itu masih ada untukku raih.

Ada disampingku, berbicara denganku, walau hanya tentang hal yang tak pasti kau bertanya namun aku sepertinya sangat inginkan dirimu akan selalu ada dalam waktuku, esok lagi dan selanjutnya. Mungkin hal ini terlalu singkat untuk aku tuliskan disini namun dalam diri tak kuasa menahan rindu bergejolak datang setiap waktu. Hampa tak bertuan ingin dirimu selalu hadir dalam hariku dan inginkan senyum itu tetap abadi dalam bayang malamku, makanya aku tuliskan tentangmu setiap hari setelah aku bersamamu walau saat ini kita hanya sebatas teman.

Semangat yang dulu pernah hilang, kini kembali bergelora seperti sosok tangguh sang pahlawan yang berjuang di kala dulu untuk menjadikan Indonesia tercinta ini merdeka Seperti yang kita rasakan saat ini. Semangatnya diriku setiap hari walau kadang badan terasa lelah dan lemah, namun karena dirimu ada maka diriku tak mampu beranjak jauh dari dekapan wajah sholehamu ingin aku lihat setiap hari. Aku sadar dengan apa yang aku ucapkan atas dirimu. Aku sangat memahami apa yang telah aku perbuat untuk dirimu karena mungkin indahnya matamu telah membuatku berbuat sedemikian sibuk akan hal yang ingin aku tulis dalam kalimat tulisanku ini.

Hanya saja waktu tak banyak untuk aku habiskan untuk bercengkrama bersamamu karena waktu yang terlalu formal untuk bisa hilangkan rasa rindu yang semakin hari semakin mengajakku pergi temukan dirimu disana. Inginkan dirimu mengikat rasa namun kadang rasa ini terlalu semu untuk bisa ungkapkan isi hati yang kini semakin waktu semakin berat aku rasa jika dirimu memang semakin indah. Perkataan ini Mungkin berlaku juga bagi mereka yang semenjak hadirmu, dalam diam mereka telah mengagumimu dalam diam dan ingin berkata seperti apa yang aku rasa saat ini.

Aku memang tak mengenali mereka yang mengagumimu sejak dulu, mungkin saja saat ini dan semenjak aku bertemu dengamu, hatimu telah ada yang mengisi indah di ruang rindu yang selalu kau nanti hadirnya. Namun aku tak akan berhenti hanya sebatas angan saja dalam keadaan seperti ini karena orang bilang sebelum janur melengkung didepan rumahmu maka kesempatan itu masih ada untuk aku perjuangankan dan aku ingin berjuang mendapatkan rindu itu mulai hari ini sehingga menjadi nyata.

Mereka yang mengenalmu sejak kau dilahirkan sudah pasti akan bilang jika kau wanita yang terlalu cantik untuk dcintai. Menurutku benar apa yang mereka katakan, karena dari sudut pandangku menilai seperti itu adanya. Lihat saja senyummu hari ini, terlalu sulit untuk aku tepis menjelma indah masuk dalam pikiranku. Jika mangacu pada kejujuran diriku sendiri yang baru saja mengenalmu sangat ingin bersamamu, apalagi bagi mereka yang telah lama mengenalmu, mungkin saja telah mengungkapkan rasa hati mereka untuk memiliki dirimu.

Dalam pikiranku kadang muncul pertanyaan, Apakah aku terlambat bertemu denganmu?, mungkin saja iya bukan saja tidak karena aku belum tau terlalu jauh tentang dirimu yang sesungguhnya semenjak aku mengenalimu. Terlambat atau tidak itu tak perlu aku pikirkan saat ini namun menyadari jika aku memang terlambat atau memang kau yang terlambat itu tak perlu dibahas karena saat ini aku hanya ingin menuliskan ini untukmu, dimana pikiranku hanya tertuju tentangmu. Sulit untuk aku ungkapkan atau hanya menjadi bagian kisah gelap impian yang tak bersuara hingga diam ketika kau pergi nanti, aku harap tak begitu kejadianya.

Paling tidak aku sempat utarakan rasa dalam hati ini Kepadamu walau hanya berbentuk sebuah tulisan yang aku tuliskan saat ini. Rasanya terlalu dini untuk aku nilai yang aku rasa saat ini, terlalu cepat untuk aku jadikan pedoman untuk ungkapkan apa yang membuat aku rindu akan dirimu, dan mungkin juga terlalu cepat untuk aku bilang jika aku jatuh cinta kepadamu saat ini.

Aku sangat menikmati keberadaanmu setiap hari ada aku lihat, aku sangat suka walau hanya melihatmu dari kejauhan dan aku hanya ingin mengenalmu lebih dari apa yang aku tahu tentangmu agar aku paham dan aku mengerti jika memang aku pantas untuk ungkapkan rasa ini untukmu atau memang hanya sebatas mimpi yang hadir dalam tidurku hingga aku terbangun bayangmu menghilang tak kembali. Membiarkan rasa ini berkembang begitu adanya, membiarkan rasa ini mendulang banyak cerita tentang waktumu disini, membiarkan hati ini mengenalmu lebih agar suatu kelak mampu menjelma menjadi nyata untuk dapat ungkapkan betapa aku mencintaimu, ingin bahagia bersama, ingin sengsara bersamamu dan aku ingin mencintaimu dengan kekurangan dan kelebihan yang kau miliki.

Aku harap rencana bahagia ini berjalan dengan baik. Semua berjalan bersulam indah seiring aku mengagumimu dan menunggumu hingga suatu hari kelak yang tak mampu aku tebak sebatas apa akan memberiku sebuah jawaban. Memikirkanmu sebuah karya dan seni bagiku yang tertanam indah dalam pikiranku. Sebuah karya yang akan membuatku tenang jika nanti rasa itu tak pernah terungkap. Sebuah karya yang akan membuatku menjadi lebih baik lagi dalam soal rasa karena mungkin sebelumnya aku pernah membuat mereka sakit hati karena sikap dewasaku yang belum ada.

Mungkin juga aku pernah membuat hati mereka membenciku karena sikapku yang tak kunjung memberikan mereka kepastian akan akhir dari kisah cinta. Namun dibalik aku mengagumimu karena cinta, aku akan berusaha menjadi sosok yang lebih baik lagi. Menyesali mereka yang telah meninggalkanku, atau aku yang pernah meninggalkan mereka itu tak akan membuatku semakin baik dan hanya membuat hati ini menjadi semakin terpuruk. Ingin rasanya diri ini untuk dapat memperbaiki semuanya jika waktu bisa kembali, namun itu akan sia-sia saja karena waktu yang telah lewat tak akan pernah kembali temukan cerita yang pernah ada.

Kemarin biarlah menjadi sebuah kenangan untuk dijadikan bahan untuk menelusuri masa depan yang lebih baik dan memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi. Seperti apa yan aku lakukan hari ini akan menjadi sebuah cerita indah tentunya bersama cerita ini tentangmu. Menulis tentangmu hal yang indah bagiku. Bukan kagum karena akan keindahan parasmu, bukan kagum karena senyummu dan juga bukan kagum karena kau berhijab seperti mereka yang diluar sana namun aku kagumi dirimu karena kau telah membuatku sadar dan bangkit dari keterpurukan waktu yang saat ini penuh dengan cobaan yang datang silih berganti tanpa rasa kasihan terhadapku. Memusatkan perhatian kepadamu dalam masalahku itu tidak benar adanya, mengambil kesempatan akan hadirmu untuk menghapus kenangan masa lalu tentu terlalu jahat untuk aku lakukan untukmu.

Demi Allah, aku mengagumimu, inginkan dirimu atas dasar sujud kepadaNYA, Dimana dirimu mahluk ciptaanNYA yang datang menghampiriku saat ini. Sujud syukur kepadaNYA karena masih mampu melihat keindahan dunia yang pernah diciptakan indah seperti dirimu. Atas Nama Cinta Anugerah dariNYA, Aku lantunkan dalam doa kasih sayang jika Aku masih diizinkan untuk bertemu dengan seseorang wanita yang indah yang aku rasakan saat ini bisa menenangkan hampanya diriku dari keadaan sulit akan cinta yang datang silih berganti dengan akhir yang tak berbuah kebahagiaan.

Hari ini hingga waktu yang tak mampu aku tebak, aku mungkin akan selalu melakukan ini, menulis tentangmu dalam rindu yang belum sempat aku ungkapkan, dalam resah hati yang belum berikan jawaban yang pasti. Aku akan menunggu saat itu, dimana hati dan gerakku mampu melakukan apa yang menjadi tuntutan hati.

Aku akan menunggu dimana waktu mempersilakanku untuk ungkapkan rasa ini kepadamu dan aku akan menunggu hingga kata iya kau lantunkan dari bibirmu sebuah jawaban apa yang aku utarakan kepadamu. Tak mudah memang untuk melakukan ini, tak gampang memang untuk aku jalani, tak mudah memang untuk aku lalui, namun izinkan aku untuk berusaha agar dapat membuktikan diri dalam sebuah cinta dengan caraku sendiri. Hingga suatu saat nanti perasaaan ini belum mampu juga untuk aku ungkapkan, jangan pernah kau bertanya tentang hal itu lagi karena sudah pasti akan kebingungan untuk menjawabnya.

#Cerpen 6 :

 “ She ”

 

“…Semerbak bunga mekar indah di pagi hari…

Tersenyum wangi menyambut hari penuh cerita Untuk hati yang telah menanti.

Wahai engkau sang pemilik jiwa ini Sujud syukur atas rahmatmu yang telah engaku berikan cinta dalam diri. 

Tak akan aku biarkan jiwa ini berontak menjauhimu,

Karena tanpamu hidupku tak akan berarti…”

Angin segar jalan kehidupanku baru saja aku mulai di tempat kakak sepupuku yang belakangan telah aku tempuh kehidupan dengan perjuangan yang sulit untuk aku kenang lagi. Mengenai kakak sepupuku, dia adalah orang yang begitu baik terhadapku, makanya setelah aku lulus sekolah aku putuskan untuk tinggal bersamanya dalam mengarungi roda kehidupanku di ibukota Jakarta ini.

Entah sampai kapan aku bersamanya, yang jelas pada saat itu aku merasa bahagia dan senang bersamanya. Tak perlu menunggu untuk aku melanjutkan sekolahku, Tak seperti aku pertama datang ke Jakarta ini harus menunggu dulu baru bisa sekolah, tapi bersama kakak sepupuku, setelah aku lulus sekolah dan pindah pergi dari rumah pamanku itu, Aku langsung bisa melanjutkan sekolahku ke jenjang SMA. Bukan aku menjelekkan pamanku itu, namun yang aku katakan begitu adanya mengenai kisahku waktu tinggal bersama pamanku itu.

Demi Allah, Aku tak pernah merasa dalamhati ingin membalas semua perlakuannya terhadapku di kemudian hari. Semenjak aku memutuskan untuk pindah dari rumah pamanku itu, Aku telah memaafkan semuanya, yang terjadi biarlah terjadi, tak peduli siapa yang salah dan bersalah dalam hal itu dan mengapa terjadi padaku, Aku tak telah mengikhlaskan semuanya dan semoga Allah SWT memaafkan semua kesalahannya terhadapku dan semoga hidupnya lebih baik dari sebelumnya, Amin. Sekarang aku tak lagi di sana di rumah pamanku, dan itu telah membuat aku bersyukur atas segala jalan yang Allah SWT berikan untuk aku bisa bernafas lega.

Kakak sepupuku bekerja Jadi seorang sopir seorang pejabat negara, yang aku ketahui namanya waktu itu adalah Muhaimin Iskandar, Dia adalah ketua DPR RI waktu itu. Setiap pagi kakak sepupuku mengantarkan ke kantornya. Ke kantor jaraknya sedikit jauh dari tempat dia tinggal, dan pulang kerumah juga tidak pasti, Kadang sore dan sering juga malam.

Namanya juga pejabat negara pasti begitu banyak kerjaan yang membuatnya begitu sibuk dan harus merelakan waktunya untuk menyelesaikannya. Pada saat itu, Aku bekerja dirumahnya membantu kakak sepupu yaitu membereskan rumah seperti menyapu halaman rumah dan membersihkan taman Pak Muhaimin Iskandar tersebut setiap pagi dan sore.

Walaupun pekerjaan itu berat bagiku namun begitu aku merasa tak terbebani dengan hal yang aku kerjakan itu setiap hari karena mungkin tak ada tekanan yang membuat aku jenuh. Semua yang ada dalam rumah tersebut seperti PRT dan security, semuanya berlaku baik terhadapku, jadi aku tak merasa bosan atupun risih bekerja disana. Apalagi dengan aku sekolah, Istrinya Pak Muhaimin senang dengan semangatku, walaupun dengan begitu aku tak melupakan usaha kakak sepupuku yang selalu memotivasiku untuk semuanya dari aku bisa sekolah lagi dan tentang arti kehidupan ini.

Aku tak bertahan lama bersama kakak sepupuku itu di rumah Pak Muhaimin tersebut, Karena tak Mau Ketergantungan terhadap kakak sepupuku, akhirnya aku meminta kepada kakak sepupuku untuk diberi pekerjaan lain dan apa saja asalkan bisa membiayai hidupku dan dapat menjalankan sekolah. Kakak sepupuku memutuskan untuk memberiku pekerjaan jadi tukang kebun yang terletak di sebelah rumah Pak Muhaimin waktu itu.

Tak jauh dari rumah tempat kakak sepupuku tinggal, mungkin dengan begitu aku tak lepas dari pengawasannya dia. Sungguh aku terharu dengan pemikiran dan kasih sayang kakak sepupuku waktu itu. Masa kerja yang baru telah aku dapatkan, dan waktu itu aku tinggal di rumah pejabat negara juga tapi rumah tersebut belum ada yang menempati jadi waktu itu aku dan temanku yang bernama Iwan orang rangkasbitung banten, kebetulan kerjanya sama sepertiku, walaupun dia lebih lama dariku di tempat tersebut, namun dia baik terhadapku dan aku merasa nyaman.

Tinggal bersama temanku itu tak begitu baik aku jalani karena ada seorang yang tak begitu senang terhadap hadirnya aku di sana yaitu di rumah tersebut. Apalagi aku orang baru di sana, dia pernah berkata kasar kepadaku dan yang lebih para lagi dengan kebencian yang tertanam dalam hatinya, aku merasa dia telah mengguna-guna dengan ilmu yang aku tak tau apa maksudnya. Karena aku merasa ada hal yang aneh terjadi dalam tubuhku, Namun aku tak bercerita dan bilang sama kakak sepupuku, aku kuatir nanti kakak sepupuku gelisah dan terjadi hal yang tak diinginkan dan aku juga tak menghiraukan itu karena aku tau Allah SWT itu selalu ada jika kita berlindung padanya.

Akhirnya setelah aku memohon pada Allah SWT, Perlahan perasaan yang aneh dalam tubuhku semakin menghilang dan dia pun pergi dari rumah tersebut dengan yang aku dengar alasanya adalah dia tak bekerja lagi di tempat yang saya tinggali waktu itu alias dipecat. Hidup bersama temanku itu, boleh aku bilang menyenangkan, setiap hari aku lalui dengan senang dan canda tawa kami berdua. Apalagi disana waktu malam juga sering kumpul teman-teman lain yang seprofesi dengan kami berdua yaitu tukang kebun.

Melewati waktu bersama mereka begitu menyenangkan bagiku karena memiliki cerita tersendiri untukku aku dapatkan. Walau kini semua tak tau dimana mereka berada, namun walaupun terputus komunikasi antar mereka, aku tak pernah melupakan persahabat bersama mereka, karena menurutku, bersama mereka salah satu cerita terindah yang ada dalam bait kisah hidupku ini. Banyak hal yang aku lalui bersama mereka, susah senang jadi pelengkap waktu bersama mereka. Dan tak aku herankan jika bahagiaku pertama di mulai dari sana yang aku rasakan semenjak aku hadir di Jakarta ini.

Iwan yang aku anggap sahabat terbaikku saat itu satu rumah dan satu propesi denganku, banyak waktu yang aku lalui bersamanya, Dia mengajarkanku banyak hal yang baru untukku, tentang pekerjaan yang setiap hari dijalani. Begitu juga cara hidup di kota Jakarta ini dia ajarkan untukku agar bisa bertahan dan tentunya yang paling berharga bagiku adalah dia mengajarkanku tentang rasa yaitu rasa yang paling indah yang Allah SWT anugerahkan untuk semua mahluknya tak lain rasa kasih sayang yang bernama Cinta.

Malam minggu dia sering mengajakku untuk pergi malam mingguan untuk pergi ke rumah cewek atau janjian di suatu tempat dan bertemu pacarnya. Apabila sudah bertemu dia sering mengajakku untuk duduk bersama dan mengenalkan padaku. Apalagi pacarnya temanku sering bawa temannya dan apabila temanku bersama pacarnya, berarti aku harus bersama teman pacarnya untuk sekedar menemaninya berbicara dan itu telah cukup bagiku untuk mengenal jika cinta telah mengajarkan untuk berjuang. Walau waktu itu aku belum begitu memahami tentang arti seorang wanita dan juga pacar apalagi cinta.

Namun jasa temanku itu telah mengajarkan hal yang paling indah untukku dan aku patut berterima kasih padanya hingga aku memahami jika cinta itu begitu indah adanya. Masa sekolahku kini telah dimulai. Aku yang sudah mendaftarkan diri disalah satu sekolah di Jakarta ini yaitu SMK Budi Satria waktu itu. Walau bukan sekolah terkenal dan negeri, namun sekolahku itu cukuplah untuk mengisi diriku dengan ilmu yang bermanfaat di Jakarta ini.

Aku memulai sekolah dengan kegiatan MOS yaitu masa Orentasi Sekolah yang selalu di lakukan hampir setiap sekolah di Indonesia ini melakukan hal yang sama. Masa MOS biasanya di lakukan dalam waktu dua hari atau tiga hari tergantung kebijakan sekolah tersebut ingin melakukannya. MOS biasanya memiliki arti tersendiri bagi sekolah tersebut. Ada yang mengertikan sebagai hari perkenalan Siswa dan ada juga yang mengartikan sebagai sebuah tradisi sekolah dalam memeriahkan suasana baru agar hari pertama masuk sekolah terkesan dan berkesan dengan semangat untuk menuntut ilmu.

Masa MOS yang aku jalani di sekolahku berjalan dalam 3 hari, yaitu hari pertama adalah hari perkenalan antar semua siswa, sedangkan untuk hari keduanya acara yang di adakan oleh sekolah untuk memeriahkan pembukaan ajaran baru dan hari ketiga saatnya dikerjakan oleh para senior sekolah. Acara tersebut begitu meriah aku rasa dan begitu terasa angin segar masa depan begitu hangat aku rasa. Seiring aku memulai pelajaran di sekolah yang baru ini bersama teman-temanku yang baru tentunya untuk meraih masa depan yang seakan tak sabar menanti menjemput impianku.

Tepatnya tanggal 17 April 2006. Hari pertamaku masuk sekolah untuk pelajaran pertamaku bersama teman-temanku. Seperti biasa yang aku mulai dan aku lakukan setiap hari adalah menjalankan kewajiban hidup ini sebelum aku sekolah yaitu menjalankan aktivitasku mencari nafkah untuk bisa bertahan hidup di Jakarta ini. Walau hanya sekedar menyambung hidup, namun itu harus dan tak bisa aku biarkan begitu saja mengalir tanpa ada bukti nyata tentang arti semuanya yang aku lakukan itu.

Setelah menjalankan kegiatan MOS dalam tiga hari yaitu dari hari senen hingga rabu dan untuk hari kamis sampai Sabtu, Sekolahku memutuskan untuk mengliburkanya dengan alasan agar siswa dan siswi tidak merasa tegang jika pelajaran sudah di mulai ketika masuk sekolah. Dalam masa liburku setelah MOS diadakan, Maka aku mempersiapkan semua peralatan yang di perlukan untuk mengarungi masa sekolah yang akan aku jalani selama 3 tahun ke depan.

Dari Tas, Buku, Pulpen, Pensil, Penggaris dan peralatan lain yang dianggap perlu dan semua peralatan sekolah tersebut sebagian di belikan oleh kakak sepupuku karena waktu itu, keuanganku tidak cukup untuk membeli semua maklum waktu itu aku belum terima gaji dari tempat aku bekerja. Jadi kakak sepupuku membelikannya untukku. Waktu sekolah yang aku jalani adalah siang, yaitu dari jam 1.00 siang sampai dengan jam 4.30 sore, Dan itu sengaja aku pilih karena, jika aku memilih sekolah yang masuk Jam 7.00 pagi, Pekerjaanku bagaimana dan dari mana aku bisa membayar sekolah jika aku tak bekerja, makanya aku memilih sekolah yang masuk siang dan pulang pun tak begitu malam dan aku bisa mengerjakan yang lain. Hari yang aku tunggu dan juga teman yang lainnya telah tiba saatnya yaitu hari senin, Ini hari pertamaku masuk sekolah baruku.

Sejak pagi aku jalani pekerjaanku, aku telah mempersiapkan semua keperluan sekolahku, Pakaian baru dan serba baru. Setelah pekerjaanku selesai aku bereskan kira-kira selesai jam 10.00 pagi waktu itu. Aku sengaja cepat selesai Karena hari pertama masuk sekolah harus fresh dan bahagia, biasanya kalau hari biasa aku bekerja lebih banyak menghabiskan waktu hingga siang menjelang dan sore jam 3 Aku mulai kembali, Karena itu juga aku belum punya bos tetap jadi aku belum terikat dalam pekerjaan, dan aku hanya minta izin kepada security tempat aku bekerja untuk pulang dan sekolah.

Jarum jam menunjukkan jam 11.00 siang, itu menunjukan jika sebentar lagi siang akan menyambut datang dan aku segera berkemas pulang ke rumah tempat aku tinggal untuk istirahat lalu mandi, makan siang dan menunggu adzan zuhur berkumandang lalu melaksanakan perintahNYA yaitu sholat. Tak lama kemudian setelah melaksanakan sholat zuhur, Kini saatnya aku memakai pakaian sekolah dan segera bergegas berangkat menuju menemui sekolah baruku yang telah menungguku sejak pagi dengan menawarkan masa depan kepadaku.

Jarak tempuh dari tempatku bekerja ke sekolahku tak terlalu jauh, Namun aku sekolah menggunakan jasa bus kota dan sering pula aku gunakan jasa kakiku sendiri yaitu berjalan kaki jika aku ingin melakukannya. Ongkos bus kota waktu itu adalah 1.000 Rupiah untuk pelajar dan 2.000 Rupiah untuk umum. Jadi pulang pergi aku harus mengeluarkan kocekku 2.000 Rupiah perhari.

Dengan begitu aku tak pernah merasa keberatan dengan hal itu, selain aku sering di beri uang oleh kakak sepupuku dan apalagi aku juga sudah dapat gaji dari tempat aku bekerja walaupun tak seberapa besarnya namun cukup untuk membiayai sekolah dan hidupku di ibukota ini. Sampai disekolah pukul 12.30 siang, Berarti masih tersisa 30 menit waktu untuk istirahat. Di depan sekolah telah menunggu banyak siswa-siswi yang belum begitu aku kenal dari mereka.

Aku segera bergabung dan menyapa teman yang aku kenal pada saat itu waktu MOS. Setelah 30 menit sudah semua menunggu, Bel tanda masuk kelas berbunyi dan semua siswa dan siswi segera masuk kelas masing-masing. Karena aku anak Akuntansi karena waktu daftar masuk dan pemilihan kelas dan juga karena sekolah yang aku pilih adalah Sekolah Kejuruan (SMK) Jadi Jurusannya telah ditentukan sejak awal yaitu ada jurusan Sekretaris, Management dan Akuntansi, dan aku telah memilih Akuntansi waktu itu. Hari pertama masa sekolah Telah aku lewati hari itu, sejuta harapan aku tanamkan di hari itu. Harapan yang akan mengantarkanku menuju esok hari, lusa hingga perjalanan masa depanku kelak.

Tujuanku sekolah yang pasti tak lain dan tak bukan adalah untuk menuntut ilmu dan meraih masa depan yang sering menghantui di setiap mimpi malam tidurku. Namun seiring aku menjalani aktivitas sekolahku, tak mampu aku pungkiri dan aku bisa aku tolak jika kehadiranya memang akan mengisi waktuku dengan rasa dan warna dan itu tentunya dia yang indah. Dia yang telah aku lihat semenjak aku hadir di sekolah ini, Dia yang telah aku yakini hatinya begitu indah untuk dicinta dan memberiku cerita dalam aku melewati hariku. Atas nama pemberi keindahan dan kasih sayang yaitu sang maha agung Allah SWT yang telah kau tampakkan keindahan itu padaku yang memancarkan sejuta harapan, Tertulis rapi dalam syair indah yang tercantum atas nama cinta. Beriramakan nada kasih sayang yang aku goreskan dalam sebuah cerita indah untuk dia sang warna hidupku.

Alasan itu semakin kuat aku tanamkan untuk dia, yakin akan hadirnya bila saatnya bersamaku lewati hari-hariku indah tentunya. Walau aku rasa tak semudah itu untuk mengatakannya dalam kisahku namun aku pastikan itu akan ada saatnya bila suatu waktu nanti akan memberi luang untukku mendapatkannya dan dapat katakan padanya tentang isi hati yang menginginkannya. Waktu tak mudah untuk aku lewati memang, sebelumnya aku bekerja hanya separuh waktu karena aku tak tinggal di tempat aku bekerja. Namun kurang lebih satu bulan aku menjalani sekolah, Tempat aku bekerja sudah ada penghuni baru atau bos baru untukku, jadi aku harus pindah ke tempat aku bekerja dan tidak tinggal lagi bersama temanku itu.

Walau secara umum bagus untuk kehidupanku karena mengurangi pengeluaranku dengan sebab apabila aku tinggal di rumah bosku yang baru berarti akan ada penambahan gaji dan makan minum aku tidak lagi mengeluarkan biaya-biaya karena menurut pendapat temam-temanku yang telah merasakan dahulu seperti itu. Namun secara khusus aku berpikir aku harus ekstra keras menyusun waktu, waktu untuk bekerja dan sekolahku.

Namun semua tak terlalu aku pikirkan, yang aku pikirkan hanyalah strategi, strategi yang matang dan tepat yang harus aku terapkan dalam menjalaninya. Hal yang harus aku lakukan adalah, pertama aku harus meminta izin dahulu ke bosku yang baru mengenai semuanya, baik itu sekolah dan kehidupanku sehari-hari, dan kedua memaksimalkan waktu sebaik mungkin agar semua berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah SWT, Setelah aku berbicara semuanya kepada bosku, Bosku memberiku izin melaksanakan sekolahku pada siang hari seperti setiap hari aku jalani dan memberiku keringanan Aku bekerja hanya pagi hingga siang sebelum berangkat sekolah dan untuk sore, Kalau aku pulang tidak telat, aku boleh melanjutkan pekerjaan dan jika telat aku boleh tidak melanjutkannya.

Itulah perkataan bosku waktu itu, Untuk bosku yang baru ini, waktu itu dia adalah menteri BUMN jabatannya, dia bernama Sofyan Djalil, Orang Aceh, dia menurutku orang yang baik dan dermawan, hanya saja orang sekelilingnya yang kurang bersahabat jadi agak sulit jika harus bertemu dengannya jika ada orang yang ingin menemuinya walau hanya untuk silatuhrahmi, Walau bosku mengizinkan aku seperti itu, aku tak mau mengambil keuntungan di balik itu semua, dengan cara menyia-nyiakan waktu yang dia berikan, aku tau diri, karena sudah kebiasaanku bangun pagi, jadi aku tak begitu sulit untuk bangun pagi untuk segera bekerja.

Waktu itu pekerjaanku adalah sebelum aku membereskan rumah, aku harus mencuci mobil bosku sebelum dia berangkat bekerja dan juga mobil pengawalnya dan itu rutin setiap hari aku kerjakan kecuali hari minggu, biasanya hari tersebut yaitu hari minggu bosku libur Pak Sofyan Djalil dan keluarganya. Walau mereka memperlakukan aku dengan baik, ada juga orang-orang sekitar mereka yang kurang bersahabat terhadapku karena saya dekat dengan Pak Sofyan, Mungkin dengan itu mereka tak suka denganku, Namun aku tak pernah merasa risih dengan hal itu karena aku tau mereka bekerja dan aku juga bekerja dengan bos yang sama dan yang lebih penting lagi aku bukan cari yang haram dan melakukan tugasku sebaik mungkin tanpa terkecuali dengan alasan apapun. Walau waktu begitu berat aku jalani namun semua aku harus jalani baik dalam duka ataupun suka. Waktu kerja aku jalani dengan baik, dan waktu sekolah begitu juga, semua berjalan dengan baik, Apalagi ada dia, yang kini hadir dalam keindahan hari dan waktku dan bagiku dia dibalik semangat hidupku waktu itu.

Dia adalah wanita pertama nan Sederhana yang aku kenal sejak pertama aku masuk sekolah waktu itu, bidadari kecil nan indah itu bernama Sheilla Khoirunnisa. Entah kenapa hati ini tertuju padanya, Semenjak aku melihatnya walaupun ada mereka yang lain, namun hati ini memilihnya karena dalam hati ada cerita tersendiri di balik senyum itu, dari sinilah aku sering menulis dan menghabiskan waktuku untuk mengoreskan pulpenku ke buku harianku hanya untuk menuliskan tentang dia, dia dan dia dalam setiap bait waktuku. Keindahan dirinya yang tercipta lewat sapa senyumnya beriku cerita indah dalam hariku tentang rasa dan cerita.

Darimu Berikan aku kata itu, Kata yang akan aku abadikan dalam alunan nada kasih sayang. Kata indah sering aku tuliskan untuknya, entah berapa banyak sudah aku lakukan itu dalam waktu yang cukup lama, biasanya aku melakukan ini ketika tak ada jam pelajaran dan juga jika malam di rumah tak ada kegiatan, selain aku menuliskan hal yang lain juga namun yang sering aku lakukan adalah menuliskan tentang dia. Menuliskan tentang dia punya arti tersendiri untukku, Kadang-kadang aku melakukan hingga larut malam jika aku libur bekerja esok harinya hanya untuk menuliskan sesuatu tentang dia.

Mungkin pada saat itu aku benar-benar waktuku tersita hanya untuk dia, Entah itu di sekolah dan di rumah dan di manapun aku berada, menginggat dia suatu hal yang indah untukku. Walaupun aku belum tentu mendapatkannya nantinya, namun yang aku tau saat itu adalah indah, rasa indah telah meracuniku sejak aku melihat dan juga kenal sama dia. Dia satu kelas denganku waktu itu, untuk itulah aku sering memperhatikan dia jika dia sedang legah dan pada saat dia datang menatapku juga tak ada keberanian untuk ungkap maksudku itu kepadanya.

Tantangan terbesar yang harus aku taklukan dan aku jalani dalam mendapatkan kasih sayangnya adalah memberanikan diri untuk katakan aku menyukai dia, itulah hal yang sangat sulit aku lakukn padanya pada saat itu. Namun pada saat itu, Jangankan untuk mengatakan hal itu, untuk berbicara dengannya pun aku tak berani dan malu, Oh my god sulitnya. Waktu adalah anugerah Allah SWT yang tak bisa di hentikan, kecuali dia berkehendak untuk menghentikannya, Begitu juga dengan masa sekolah yang tak terasa telah aku jalani masa kelas satu hampir usai dan sebentar lagi naik kelas 2, semua cerita akan tertinggal menjadi sebuah kenangan dan menjemput hari esok untuk masa depan yang telah menunggu.

Setelah menjalani ujian kenaikan kelas dan keputusan itu telah di dapat, aku naik kelas dua tanpa beban aku jalani semua dengan cerita indah tentunya bersama dia. Dia yang berikanku sejuta harapan yang telah aku tanamkan dalam kisah indah di setiap langkahku. Bila dikelas satu aku tak terlalu akrab dengannya, Namun di kelas dua ini aku dan dia Semakin aku mengenal dia. Aku dan dia sering diskusi bersama, walau hanya sesaat, namun cukup bagiku untuk merasakan bahagia bersama dia dan berharap lebih baik lagi jika ada kesempatan lagi bersamanya untuk berkata.

Sempat terputus cerita tentang dia dalam hariku oleh tingkah laku bodohku di masa kelas dua karena pengaruh teman-temanku yang konyol, Aku sering bolos sekolah dan ngumpul bersama temanku di rumahnya dan melakukan hal yang di larang oleh agama yaitu minuman keras, dan hal ini sering aku lakukan ketika aku bolos sekolah bersama teman-temanku, mungkin karena pengaruh waktu juga dan juga dia. Apalagi jika aku sudah tak tahan lagi memendung rasa hati ini untuknya, aku sering lakukan hal bodoh yaitu melampiaskannya dengan munuman keras, sungguh aku menyesal dengan hal itu waktu itu, apa yang aku buat adalah hal bodoh yang bisa membahayakan diriku sendiri dan masa depanku dan itu telah membuatku sadar jika aku telah berlaku salah demi mendapatkanya.

Masa kelas dua adalah masa yang paling hancur dalam karierku di sekolah, Aku sering tidak masuk sekolah dan sering kemana saja keluyuran bermain bersama teman-temanku dan melakukan hal bodoh dan melupakan dia itu yang paling bodoh aku lakukan. Dia yang selalu memarnai hariku sempat hilang dari langkahku, itu hal yang tak bisa aku biarkan menghilang dari kehidupanku. Walau aku tak tau Akhir semua cerita itu namun yang aku rasa bukanlah sekedar cerita tapi hidupku ada pada dia. Untuk waktu yang cukup lama aku memendam rasa ini dan selalu melakukan hal sepeti ini untuknya.

Hari ini, Esok ataupun seterusnya apakah rasa itu masih ada, Entahlah, Yang jelas aku bahagia dengan semua yang aku lakukan dan dengan hati yang tulus tanpa rasa beban apapun tentunya. Masa gelapku semakin hari semakin pergi. Celah-celah sinar itu kembali lagi kepadaku, Tak lain hanyalah dia, Dia yang aku selalu ada di setiap langkah ini. Walaupun sempat redup karena gelapnya kehidupan menyelimuti, Namun kini semua akan kembali seperti dulu, yaitu rasa cinta, Rahasia, Cerita dan harapan tentunya yang selalu tertuju untuk dia. Angin bertiup begitu kencang dari arah barat yang menandakan jika hadirnya dia sedang berjalan menujuku.

Tak aku sadari sang waktu menghilang silih berganti tinggalkan Kisah itu yang tak sempat aku jalani. Namun akan aku jadikan Indah Karena aku tau Cerita itu untuknya. Jalannya waktu memang tak ada yang bisa menghentikanya, begitu cepat berlalu dan tanpa aku sadari jika aku saat itu telah duduk di bangku kelas 3. Masa kelas 3 adalah masa yang begitu sibuk aku jalani, Selain aku menjalani pelajaran setiap hari, aku juga aktif diluar sekolah biasa yang disebut ekstrakulikuler seperti olahraga dan marawis.

Selain hal itu yang harus aku jalani masa kelas 3 adalah masa terakhir dalam menempuh pelajaran dan akan menetukan masa depan berikutnya, apakah bisa di lanjutkan atau tidak, Dan dari itulah aku tak akan menyia-yiakan waktuku hanya untuk hal yang tak perlu dan tak penting bagiku seperti perlakuan diriku pada saat kelas 2. Kelas 3 SMK, Masa yang selalu ada dalam memori cerita hidupku, Tentang Cerita, Derita, Cinta dan juga dia. Aku akan selalu mengenang hari itu walaupun nanti aku tak lagi berada di sana dan menurutku itu terlalu bodoh untuk aku hilangkan begitu saja karena aku tau masa itu hal terindah yang pernah ada dalam perjalanan Hidupku ini.

Sudah 1 Bulan aku Berada di Kelas 3, Cerita yang dulu sempat tertinggal kini telah kembali dan telah aku jalani kembali seperti misi yang dahulu aku bangun, Yaitu dari pertama aku masuk sekolah dan bertemu teman-teman semua dan juga Bertemu Dia yang kini ada di setiap bait ceritaku ini yang tak lain hanyalah dia. Ketika aku memasuki bulan kedua di kelas 3, Aku dan teman semua harus mengikuti sebuah tradisi sekolah yaitu LDK yang telah direncakan oleh Guru-guruku dan alumni Sekolahku yang akan dilaksanakan di Bojong, LDK akan diadakan dalam waktu 2 hari dan satu malam lamanya. Semua siswa di wajibkan untuk ikut dalam acara tersebut, Walaupun sebelumnya aku belum tahu maksud dan tujuan LDK tersebut, walaupun waktu disana hanya di kerjakan oleh alumni tapi tak apalah yang jelas semua akan ada arti tersendiri bagi mereka.

Di tempat diadakan LDK tersebut canda gurau itu sudah pasti dan gembira itu sudah ditakdirkan untuk aku dan teman semuanya. Namun ada pembeda mungkin menurutku antara aku dan teman yang lain. Walau aku tak tahu cerita mereka apa, Tapi yang jelas aku sangat bahagia dengan hadirnya dia di dekatku waktu itu. Bersamanya walaupun sejenak berhadapan rasanya begitu indah aku rasa. Hati ini tak ingin berpaling melihat keindahan yang lain, dan akan terasa sepi jika dia jauh dariku. Kegelisahan itu akan menghampiriku jika aku tak mengingat dirinya, Sungguh waktu yang sulit untuk aku pisahkan dalam hariku. Waktu LDK telah usai, esok harinya kami kembali ke Jakarta lagi dan akan menjalani pelajaran seperti biasa di sekolah. Kembali menjalani aktivitas belajar di kelas 3 aku telah tanamkan dalam hati tentang rencanaku, bila suatu saat nanti aku naik kelas 3, Rasa yang selalu aku pendamkan dan aku tulis ini, akan aku katakan padanya.

Aku akan melakukan itu pada waktu yang tepat dan memungkinkan untuk katakan tentang hati ini bahwa aku mencintainya dari dulu yaitu dari pertama aku masuk sekolah dan mengenali dia hingga saat itu. Walau kesabaran itu telah mendesak hati ini untuk melakukannya namun jiwa masih mampu menahannya. Aku tak mau semua jadi berantakan gara-gara strategi dan rencana yang tak pas dan aku juga tak akan biarkan moment itu hilang begitu saja tanpa ada akhir dan hasilnya. Rencanaku itu tak berjalan begitu baik untuk melakukan hal itu. Begitu banyak hambatan yang aku temukan ketika rencana itu telah aku siapkan dengan baik. hanya Allah SWT yang tau perasaanku saat itu, Mulai dari rasa cemburu tanpa alasan yang sering aku dapatkan ketika melihat dia bersama orang lain walaupun aku tahu mereka temanku. Namun entah mengapa hati ini begitu tak rela bila ada orang lain di sisinya.

Bukan hal cemburu saja yang aku temukan bila melihat ada orang lain disisinya, hal yang lain juga sering membuat aku kesal tak berawal, Mulai dari jika dia tak menghiraukan aku, hati ini begitu sakit rasanya. Apalagi waktu itu aku dan dia sering saling meminta bantuan untuk menulis dan mencatat sebuah pelajaran, sering kali aku kesal dan salah paham dibuatnya. Pada saat itu walau aku dan dia belum ada ikatan pacaran, namun kedekatan aku dan dia sangat aku rasakan waktu itu, jadi wajar jika ada kesal jika ada hal yang tak aku sukai dari dia. Apalagi sedang bersama orang lain dan temanku, Betapa marahnya hati ini, Contohnya saja waktu aku menjalani PKL.

Walau aku dan dia tak satu grup, namun di tempat yang sama, sering aku kesal dibuatnya karena sering membuat aku cemburu atas kedekatannya dengan salah satu temanku sendiri, betapa sakitnya hati ini melihat dia berduan sama orang lain. Tapi memang aku bodoh atau dibodohi sama perasaanku sendiri, Atas hal itu aku malah marah dan tak mau mempedulikan dia, itu hal yang tak bisa aku pecahkan masalahnya. Hal bodoh sering juga aku lakukan dan aku lalui ketika aku kesal dengan Dia waktu itu.

Aku pernah melakukan hal bodoh dengan perbuatan yang dilarang oleh agama tentunya yaitu meminum minuman haram kembali, dan aku juga pernah melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan sampai seperti itu, Karena hati ini terasa begitu kesal karena Dia, Hari itu berbicara dengannya namun aku diabaikan begitu saja. Walau aku merasa aku bukan siapa-siapa, namun perasaan yang begitu dalam ini telah membuat aku tak bisa lepas darinya. Waktu itu aku pulang ke rumah bersama teman sekaligus sahabat setiaku.

Aku menceritakan resah hati ini padanya dan duduk disuatu tempat warung kopi dan tak aku sangka pikiranku mulai tak menentu dan aku dan sahabatku itu melakukan hal yang pernah aku lakukan sebelumnya yaitu minuman keras. Walau waktu pertama aku tak sampai mabuk dibuatnya namun kali ini aku sampai tak ingat apa-apa karena terlalu banyak mengkonsumsinya. Aku pulang bersama temanku dengan ingatan yang tak jelas. Dalam keadaan tak waras alias mabuk berat, aku di antarkan pulang oleh sahabatku itu. Walau sampai di depan rumah aku berusaha tak menampakan aku sedang mabuk karena takut ketahuan oleh security, Namun sampai di dalam rumah kira-kira sudah malam, kalau tidak salah waktu itu aku dan sahabatku itu pulang pukul 10.00 malam masih berpakaian sekolah, dimana waktu yang tak pernah aku lalui dengan hal bodoh seperti itu.

Aku masuk kamar dan dan tak ingat apa-apalagi waktu itu, dan masih banyak hal lain yang membuat aku melakukan hal semacam itu hanya karena dia dan juga memperjuangkan perasaan untuk dapat memiliki dia dalam hati dan berada disiku. Segala hal itu tak pernah membuat aku kalah dan menyerah semua aku lalui dengan semangat karena aku tahu bila saatnya datang pasti semua akan terungkap dan saat itulah hari dan bahagia diakhiri cerita ini. Strategi yang aku canangkan telah aku rangkai dengan sempurna layaknya sebuah puisi yang di rangkum dalam sebuah kaka-kata indah, memiliki keindahan tersendiri bagi penikmatnya begitu juga dengan apa yang aku rasakan saat itu.

Aku tak akan lewatkan dan sia-siakan waktuku dengan hanya meninggalkan cerita tanpa ada bukti nyata darinya yang aku inginkan hanyalah jawaban pasti dari rasaku ini yaitu jawaban tentang rasa yang telah lama aku pendam dan aku bawa dalam waktu hidupku. Kini semua telah aku kumpulkan bukti-bukti dan berkas tentang semua itu, bahwa aku benar-benar menyukainya dan inginkan dia ada di sisiku walau aku tak pastikan akan terjawab dengan indah darinya namun aku tak akan menyerah sebelum berperang dan tahu tanda kalah dan menang karena dalam kamus hidupku tak pernah ada yang namanya kata menyerah sebelum melangkah dan menemui jawabannya. Waktu dan moment yang aku rangkai telah hampir datang pada saatnya.

Sekarang telah 5 bulan aku berada di bangku kelas 3, Berarti 1 bulan yaitu bulan ke 6 aku akan katakan itu padanya yaitu tentang perasaan indah itu. Bagaimanapun caranya aku harus katakan itu padanya. Aku tak peduli apakah aku harus menerima jawaban pahit atau indah, yang aku pikirkan adalah jika aku bukanlah pengecut dan pecundang yang hanya diam dan terpaku dengan impian di siang bolong saja. Aku akan buktikan bahwa aku adalah orang yang mampu berbuat dengan bukti yang nyata. Dengan sikap yang serba salah menunggu datangnya hari itu.

Sering hal aneh yang aku rasakan, mulai melakukan hal yang salah dan bertindak seperti aku sebenarnya, tapi aku tak menghiraukan semua, Aku tahu saat itu pikiranku lagi tak menentu dan diluar kesadaranku. Wahai engkau sang pemilik waktu yang menuntun anganku terbang jauh, bawalah semua rasaku ini datang padanya dan katakan padanya jika aku merindukannya saat ini. Kata-kata Indah sering aku lantunkan dalam tulisan puisi yang aku tuliskan dalam sebuah kertas, Entah berapa banyak kata yang aku ciptakan untuknya, setiap aku aku tak melihatnya dan jauh darinya hanya kata-kata indah tentangnya yang mampu meredam rasa rinduku padanya. Bila aku melihatnya dan berada di dekatnya, begitu indah aku rasa, semua tak ada yang aku risaukan, semua terasa indah.

Ya Allah, Begitu besar rasa ini untuknya, Jangan kau biarkan rasa ini membiusku dan melupakanmu Ya Allah. Walaupun aku tahu aku tak mampu menahan rasa ini padanya, namun jangan kau biarkan rasa ini melebihi cintaku padamu Ya Allah Jadi hilang. Hidup ini hanyalah sebuah tempat persinggahan dan menunggu waktu memanggil untuk pergi bila saatnya tiba. Begitu juga dengan apa yang aku rasa saat itu, Aku menunggu sang waktu datang dalam hariku untuk katakan rasa itu padanya. Kini waktunya telah datang padaku setelah aku menunggunya tak kenal lelah dan ikhlaskah aku menunggu waktunya, Jawabanya pasti Iya.

Hari itu begitu indah aku rasa, Hari itu tepatnya hari senen, Tanggal 17 April 2008. Semangat telah aku rasakan sejak aku memulai pagi dengan aktivitasku sehari-hari sebelum aku berangkat ke sekolah, dan mungkin hal itu akan selalu aku lakukan sebelum aku lulus sekolah. Semangat itu semakin menggebu seakan siap laksanakan perintah selanjutnya. Kesabaran hati semakin menipis hanya iman dalam hati yang mampu meredam semuanya. Selesai semua Pekerjaan aku jalani, Aku lihat jarum jam menunjukan pukul 11.00 siang, itu pertanda aku harus mandi, makan siang dan bersiap bersiang berangkat menuju ke sekolah yang telah menantiku dari pagi untuk mendengar ungkapan itu aku katakan dengan indah pada dia. Aku tak mau semua berjalan begitu saja tanpa ada rencana indah dariku.

Aku biasanya berangkat sekolah jam 12.30 siang dan melaksankan sholat zuhur di rumah, Namun pada hari itu dengan segaja aku berangkat ke sekolah jam 12.00 siang tepat dan akan melaksanakan solat zuhur di sekolah saja, karena aku pikir hari itu adalah hari yang indah yang aku rencanakan yang aku tunggu lebih kurang 2 tahun 6 bulan. Bukan waktu yang singkat aku rasa, tapi tak ada rasa dendam dalam hati untuk waktu yang aku korban semua untuknya karena aku lakukan semua atas nama yang indah atas nama cinta untuk dia dengar dariku. Sampai di sekolah pukul 12.30 siang, Adzan zuhur yang telah berkumandang sejak aku berada di atas bus kota dan itu cukup membuktikan bahwa aku harus melaksanakan perintahnya yaitu menunaikan sholat zuhur. Tanpa rasa bimbang dan keraguan dari hati aku segera menuju masjid depan sekolah yang tak begitu jauh keberadaanya.

Selesai aku laksanakan perintahNYA yaitu sholat zuhur dalam hati tak lupa aku berdoa kepadaNYA memohon dalam hati agar Ayahku yang berada disisiNYA mendapatkan tempat yang indah dan Ibunda dan keluarga yang berada jauh dariku selalu dalam lindungan dan ridhoNYA. Aku juga tak lupa meminta padaNYA apa yang aku lakukan mendapatkan ridho dan berkah. Berdoa seperti ini tak pernah aku lewatkan terutama yang berhubungan dengan keluargaku semua dan juga tentunya untuk dia, Pada hari itu juga aku meminta agar aku bisa katakan rasa itu dengan mudah dan mendaptkan jawaban yang indah darinya, Amin. Selesai sudah perintahNYA aku laksanakan, Aku segera menuju sekolah dan menunggu bel sekolah berbunyi untuk masuk kelas.

Tak lama menunggu bel sekolah berbunyi pertanda jam pelajaran segera di mulai, Aku segera masuk kelas bersama teman-temanku dan juga dia tentunya yang sebentar lagi aku akan katakan sesuatu padanya. Perasaan ini semakin tak menentu sejak aku memulai Aktivitasku di rumah yang ada dalam pikiranku hanyalah dia dan dia. Dalam kelas, Aku melihat keindahan itu tampak jelas di hadapanku yaitu cinta kasih sayang yang menyinari lekuk wajahnya. Dalam pikiranku tertuang rasa indah melayang berkelana temui negeri bidadari dan tertuang disebuah buku pelajaranku :

“…Wahai engkau hariku yang selalu mewarnai keindahan setiap langkahku.

Begitu sesak nafas ini dengan tatapanmu seakan aku melayang terbang jauh menyelusuri pelanggi. Engkau telah bangun semua cerita itu untuk aku, Bolehkah aku mengutarakan perasaan ini Kepadamu?…”

Jam Pelajaran kelasku tak dijalani dengan sempurna. Tak jelas dan tak menentu pikranku entah kemana yang aku pikirkan hanyalah jawaban itu darinya. Pelajaran pertama telah selesai dan waktu istirahat telah datang berarti waktu itu juga telah datang untuk aku katakan padanya, Tentang kata cinta yang tak sanggup lagi aku bawa dalam hatiku ini.

Jujur dalam hati ini, Untuk mendekat dan berbicara denganmu waktu itu hati ini lunglai dan tubuh lemas penuh keringat tak berdaya seakan terkena serangan suatu virus mematikan. Namun kata itu telah aku tanamkan dan berjanji untuk diriku sendiri bahwa hari itu adalah hari dimana aku harus katakan itu padanya dan apapun alasanya aku harus lakukan itu. Di depan kelasku terlihat jelas mahluk indah itu berada tepat di hadapanku dan dia duduk sendiri dan berarti moment itu paling tepat aku rasa. Aku segera mendekatinya dan duduk di sampingnya.

Rasa gemetar itu sudah pasti aku rasa, mau mulai dari mana dan harus bilang apa tak jelas dan tak menentu dalam pikiranku. Sesaat aku duduk di sampingnya, aku belum berkata apa-apa dan juga tak ada tingkah laku apapun yang aku lakukan untuknya. Dalam ketidakpastian itu dia menyapaku dengan indah yang aku dengar lewat nada terindah yang pernah ada di dunia ini. Dia menyapaku penuh sinar cinta dan bertanya kenapa aku gugup dan diam saja menatapnya. Hati ini tak terbendung lagi merasakan itu semua. Resah dan gelisah mendekam asa yang menyelimuti jiwa ini. Beberapa menitpun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk aku katakan semua.

Entah apa yang terjadi aku tak mengerti dan pikiranku kacau balau entah kemana. Hasrat ini semakin memaksa untuk bertindak namun lisan ini tak mampu melakukannya. Sejenak terlintas dalam pikiranku teringat perkataan sahabatku yaitu Iwan. Sahabat yang banyak mengajarkanku tentang semuanya salah satunya adalah rasa yang kini ada di antara aku dan dia. Dia pernah berkata padaku, Bila cinta itu datang maka cepat ungkapkan, Jika tidak, maka moment itu akan segera pergi jauh dan tak akan pernah kembali lagi ada dihadapanmu dan kau akan menyesalinya kelak nanti. Itulah perkataan yang pernah dia katakan untukku.

Teringat dengan perkataan sahabatku itu membuat aku semakin yakin dan percaya bila aku tak lakukan itu hari ini, maka tak ada lagi kesempatan yang aku dapatkan di hari selanjutnya karena aku tahu untuk menjumpai dia sendirian itu sangat sulit, apalagi sebentar lagi masa sekolah akan segera berakhir. Dengan kepercayaan diri dan keberanian yang tinggi, Kata-kata itu akhirnya aku ungkapkan juga padanya.

Walaupun perkataan itu terbata-bata namun tak menyulitkan dia untuk mengartikanya maksud perkataanku itu. Dengan indah aku katakan rasa itu pada dia, Semua yang aku rasa dan semua yang aku pendam dalam hatiku ini dalam waktu yang tak sedikti hanya untuk menunggu hari itu. Perkataan indah yang aku berikan padanya bukanlah kata-kata biasa yang sering mereka lontarkan lewat puisi dan syair indah dalam sebait kata ataupun sebuah buku, Namun perkataanku hari itu bahasa kalbu ungkapan hati yang terdalam yang aku ucapkan lewat nada indah tentang cinta dan harapan dengan tulus penuh kasih sayang atas nama cinta yang Allah SWT anugerahkan kepadaku tertulis atas namanya.

Aku ucapkan kata hati ini yang telah lama aku anyam dengan kasih sayang penuh kesungguhan. Maka akan aku katakan padamu hari ini bahwa aku mencintaimu sejak dulu. Perkataan hati ini telah aku ungkapkan padanya sejenak aku biarkan semua menjelma dan biarkan perasaaan itu mengalir menyapa hatinya yang aku panggil lewat ucapanku itu. Tak hiraukan akan akhirnya, Namun kemenangan langkahku telah aku dapatkan semenit waktu berjalan.

Resah hati mulai mengerubuti jiwa menanti sebuah perkataan yang ramah darinya yaitu jawaban atas ucapanku yang aku rasa masih menunggu di sekelilingku dengan cemas. Waktu membuatku bertanya dalam perasaan tak patut aku pertanyakan dengan alasanya, namun gundah hati semakin memaksa jiwa agar mengerti ingin tau akan hasilnya. Penat raga menunggu namun jawab pasti itu tak kunjung datang menghampiri telinggaku.

Jawaban itu seakan tak mau menampakkan dirinya, tinggalkan sunyi yang tak berujung mengisi waktuku terdiam kaku tanpa kata. Waktu Istirahat Sebentar lagi akan berakhir dan bel tanda masuk kelas segera berbunyi dan memanggil semua pelajar untuk masuk kelas masing-masing untuk meneruskan mata pelajaran termasuk aku dan juga dia yang saat itu ada didekatku. Aku dan dia masih duduk terpaku tanpa kata di bangku depan pintu kelasku.

Tak ada kata dan juga tanya dariku tentang hal yang aku ungkapan yang ada dalam benakku hanya menginginkan jawaban itu untuk meringankan beban hatiku yang saat itu tak menentu. Pekat warna semakin pudar tertiup angin. Sang malaikat cinta mengintai hanya mampu terdiam tak memberikan kepastian akan tanya tentang hati. Gemuruh jiwa relakan terdampar kering menanti kata yang tak juga datang menyapa diri.

Ting…ting…ting, suara bel sekolah telah ku dengar berbunyi dari sudut kanan kelasku. Keramaian semakin aku rasa dari teman teman yang masuk kelas melewatiku, Tanpa sadar dan terjaga dalam renungan menanti sebuah jawaban. Aku hanya mampu termenung, Menunggu sapaan terakhir darinya untukku sebelum masuk ke kelas, Namun Itu tak aku dapatkan. Dia yang aku beri pertanyaan tak mampu berbuat dan tak mampu memberiku jawaban itu seakan dirinya tak peduli dengan apa yang aku tanyakan kepadanya. Perlahan dia beranjak pergi dan masuk ke kelas tanpa tanda keraguan dalam tingkahnya. Dia tinggalkan aku yang mengharapkan jawaban itu.

Dia hiraukan cerita itu seakan tak berarti untuknya. Aku yang separuh jiwa ini adalah dia dan dia, Namun jawaban yang aku harapkan bertolak belakang dengan pikiranku. Seakan dia tak pernah tau tentang semua yang aku rasa hingga aku mampu ungkapkan itu padanya hari itu. Hilang rasa tinggalkan asa mengepung jiwa, terpaku dan berdebat dalam tanya tentang kata yang terucap untuk temukan jawabanya.

Aku yang Duduk sendirian, tak aku sadari lagi guruku sedang berada di depanku, jelas bertanya kepadaku, kenapa kau belum juga masuk kelas, tanpa aku jawab dengan pasti, Aku menggerakkan tubuh lemah ini penuh asa untuk beranjak pergi menuju bangku Kelasku untuk meneruskan pelajaran. Awan gelap seakan menyelimuti langit biru pada hari itu aku rasakan. Seakan akan turun hujan begitu deras seperti air mata ini ingin tumpah setumpahnya.

Ingin aku berteriak lantang dan membuat sebuah keributan agar dia tahu bahwa aku benar-benar mencintainya. Namun kesabaran hati masih bertahan tegar membelengguku untuk tenang dan diam dalam dekapan kesedihan yang mendalam. Pelajaran sekolah hari itu aku lalui begitu saja tanpa ada yang aku dengar dan aku perhatikan dari guruku. Perasaanku telah terlanjur kacau balau tak jelas arah entah kemana, hilang kendali pergi jauh tak berujung sampai jam pelajaran itu selesai. Setelah Jam Pelajaran selesai, Aku segera bergegas pergi meningglakan sekolahku.

Entah apa yang aku pikirkan waktu itu, yang jelas perasaaan hati begitu sedih, tak mau pulang begitu cepat ke rumah, akhirnya aku mampir di tempat biasa aku luangkan waktu yaitu untuk menghiraukan hati dengan bermain playstation agar dapat meringankan beban pikiran dan hatiku. Aku bermain Playstation yang jauh dari sekolahku itu dan tak mau bersantai bersama teman-temanku yang biasanya aku lakukan setiap pulang sekolah. Aku hiraukan semua kejadian yang baru saja aku alami, berharap selesai aku main playstation, hati dan juga pikiranku kembali normal seperti biasanya. Waktu itu aku pulang dari sekolah kira-kira jam 5.30 sore, dan semenjak aku memutuskan untuk bermain playstation, aku tak sadar bahwa jam telah menunjukkan pukul 9.00 malam.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi permainanku itu yang beberapa saat menemani resahku itu. Aku pulang tak memakai jasa bus kota pada saat itu yang biasanya aku gunakan untuk ke sekolah dan juga pulang. Namun malam itu bus sudah tidak ada lagi jadi aku harus jalan kaki untuk pulang ke rumah. Memang jarak tempat aku bermain playstation itu tak terlalu jauh, namun karena di tempuh dengan berjalan kaki, jadi terasa cukup melelahkan juga. Sebenarnya dari sore cuaca memang tak begitu bersahabat, mendung dan akan turun hujan bila sudah waktunya, namun waktu itu hujan belum juga turun waktu aku berada di sekolah dan bermain playstation.

Namun tak aku sangka hujan turun seakan tak peduli dengan keberadaanku di jalan. Hujan turun begitu deras sehingga membuat baju dan tubuhku basah kuyup karena tempat peneduhan tidak ada akhirnya aku relakan semua pakaianku basah dan badanku di guyur air hujan yang turun begitu deras pada malam itu. Aku berjalan sedikti kencang agar segera sampai ke rumah. Setelah hujan deras menguyur basah tubuhku, akhirnya aku sampai juga di rumah dengan keadaan basah dan kedinginan. Dengan kebaikan temanku dan juga bibiku yang begitu baik terhadapku ditempat kerja, aku di buatkan teh hangat dan membuatkan aku makanan hangat untukku. Hingga saat ini, Jika teringat dengan kebaikan bibiku itu, tak bisa aku lupakan dalam perjalanan hidupku ini.

Sampai dirumah, Jam menunjukkan pukul 10.00 malam. Aku segera ganti baju dan mandi, dan sehabis mandi aku segera melaksanakan sholat Isya sedangkan magrib aku tinggalkan. Dalam hati berbeisik, sungguh aku telah berbuat dosa karena telah melewati perintahNYA. Sehabis semua aku lakukan, karena sudah malam dan aku segera masuk ke kamar dan tak seperti biasanya aku lakukan jika pulang ke rumah, aku duduk barsama teman di rumah satu kerjaan menonton Televisi namun pada malam itu aku langsung masuk kamar dan berada dalam kamar sampai pagi menjelang tanpa tertidur memikirkan pertanyaanku disekolah akan rasa yang dia abaikan begitu saja didepanku.

Di dalam kamar, Aku bukannya tidur namun aku tetap melakukan kebiasaan itu yaitu menuliskan hal itu tentang dia. Apalagi keadaanku saat itu lagi kacau, Inspirasi semakin banyak terpampang jelas di dalam pikiranku pada saat itu. Semalaman aku tak bisa tidur teringat dia, Dia yang tadi siang tak memberiku jawaban itu. Dalam hati hanya berharap akan ada waktu untukku lagi untuk meminta pertanggungjawaban darinya tentang rasa yang aku ungkapkan padanya dan belum memberiku jawabannya. Jawaban itu semakin aku tak percaya akan aku temukan darinya.

Namun aku tak pernah Putus asa dengan hal itu. Tetap jalani waktu walau tanpa sayap dalam pikiran yang tak menentu. Apalagi pulang dari sekolah dan bermain playstation tubuhku diguyur hujan, jadi ketika aku tak tidur semalaman badan terasa lemas dan aku jatuh sakit. Aku tak bisa apa-apa yang bisa aku lakukan. Aku hanya mampu tinggal di tempat tidur kamarku. Sekolah aku tinggalkan dan juga aktivitasku sehari-hari aku lalui selama seminggu tak ada yang mengabariku dan juga menjenggukku dari teman sekolah, Apalagi dia yang seakan tak mau tau tentang keadaanku pada saat itu.

Namun aku tak pernah berpikiran buruk tentang teman semua dan juga dia kenapa tak menjenggukku waktu sakit dan itu aku tahu alasannya karena kesadaranku pasti dan mereka juga tau jika aku bukanlah tinggal dirumah sendiri kecuali tempat aku bekerja, jadi mereka mungkin berpikiran akan sulit menjenggukku ditempat kerja aku tersebut.

Aku tak mau berlarut dalam sakit dan harus berjuang untuk sembuh dan memulai lagi kegiatanku seperti sekolah dan bekerja. Apalagi waktu itu aku bukanlah tinggal di rumahku sendiri melainkan orang lain yaitu bosku, jadi aku tak merasa nyaman jika harus berlama-lama sakit, walaupun bosku tak memaksaku untuk bekerja namun tetap saja perasaan tidak enak selalu menggangguku. Aku dilahirkan dan di besarkan dalam garis kehidupan yang tak mudah untuk aku jalani.

Mulai dari kecil aku sudah mulai memperjuangkan kehidupanku. Sakit yang silih berganti menyerangku, nama berganti nama telah Orang tuaku lakukan demi kesembuhanku waktu itu. Sampai dengan namaku sekarang yang telah menjadi panggilanku masih terasa kurang cocok untuk aku. Aku memang telah tercipta atas nama perjuangan, perjuangan berat harus aku lalui dalam langkah kehidupanku ini. Air mata sering menetes dipipiku tak mampu lagi menahan kesedihan yang datang silih berganti. Apalagi Ayahanda harus aku relakan kepergiannya untuk selamanya, itu kesedihan yang tak bisa aku bayangkan lagi terjadi terhadapku.

Ditambah lagi dalam keadaan sakit, aku sangat merindukan Ibundaku yang jauh disana, sangat merindukan dia dan ingin sekali aku kembali kekampung saja waktu itu dan tak pernah kembali lagi ke Jakarta ini. Namun setiap aku bertanya, maka ibuku selalu bilang, jika aku akan baik-baik saja disini dan dia akan selalu berdoa untukku. Mendengarkan perkataan ibuku, aku semakin membaik dan berharap ibuku tak meninggalkanku lagi karena aku sudah pasti tak akan mampu lagi berdiri jika ibundaku juga pergi. Hidup tetaplah harus dijalani apapun alasanya dan harus diteruskan sampai waktu membatasiku dan kembali kepadaNYA yang aku sendiri entah kapan.

Apapun yang terjadi semua harus aku terima dan tetap berlindung kepada Allah SWT, Karena hanya kepadaNYA aku bersujud atas segala yang telah dia berikan untukku dan aku sangat mengerti apa yang seharusnya aku lakukan untuk masa depanku. Setelah seminggu lebih, Akhirnya kesembuhan itu datang setelah aku mengalami sakit.

Puji syukur aku limpahkan kepada sang khaliq maha kuasa karena dengan kesembuhan itu, aku kembali bisa menjalani aktivitasku sebagai mahluk ciptaanNYA. Setelah aku kembali sembuh dari sakit, semua rencana telah aku susun kembali. Menjalankan aktivitas sehari-hari dan juga sekolahku yang sempat aku tinggalkan untuk beberapa hari. Hari pertama aku masuk sekolah setelah kesembuhanku, tak ada yang berubah dari sekolahku, semua seperti pertama aku mengenal sekolahku itu waktu aku mulai sekolah disana. Sejenak aku perhatikan disekeliling sekolahku, Ramai terdengar suara siswa-siswi yang saling bercanda tawa selih berganti, terbayang olehku, Jika suatu hari nanti aku tidak lagi disini, aku tak akan bisa lagi melihat tawa itu dan juga canda gurau itu, dan aku akan rindukan semuanya yang pernah terjadi disini.

Apalagi tentang dia, itu tak akan aku biarkan hilang dan musnah dari ingatanku, Karena dari awal sudah tercantum dalam semboyanku , yaitu aku datang ke sekolah ini adalah menuntut ilmu itu sudah pasti dan juga untuk dia aku berada disana. Masa sekolah yang sebentar lagi akan berlalu. pengumuman ujian nasional telah diumumkan dan Para guru memperingatkan siswa-siswinya untuk belajar guna menghadapi ujian nasional tersebut. Aku salah satu dari siswa sekolahku, Tak membiarkan terjadi sesuatu untuk masa depanku. Walau aku bukanlah siswa yang pintar namun tekadku cukup membuktikan bahwa aku bukanlah orang yang bisa di remehkan. Ujian nasional akan dilaksanakan seminggu setelah pengumanan itu ada.

Aku dengan serius menjalani masa belajarku untuk bekal menghadapi ujian nasional tersebut. Walau keadaan perasaanku waktu itu belum juga stabil namun aku tak mau mengkorbankan masa depanku begitu saja tanpa alasan yang jelas. Dalam waktu seminggu aku lalui dan murid kelas tiga umumnya, Ujian Nasional akan segera berlangsung. Ujian nasional Aku lalui dengan penuh hati-hati dan semangat tinggi untuk meraih hasil maksimal dan lulus dengan hasil yang memuaskan dan itu menjadi misi utama dalam menjalaninya. ujian nasional dilakukan dalam 3 Hari dan tiga pelajaran utama yang diikutsertakan dalam ujian tersebut yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika.

Kebijakan ini telah diambil oleh pemerintah dalam meningkatkan pendidikan di Indonesia. Walau kebijakan itu banyak yang pro dan kontra, namun dari aku sebagai pelajar, mendukung jelas kebijakan itu guna untuk mendidik generasi muda yang cerdas dan terampil. Dari tiga pelajaran itu telah ditetapkan nilai masing-masing pelajaran adalah 6 dan tidak boleh kurang dari itu, Apabila salah satu dari pelajaran itu ada yang kurang dari angka 6, Maka sudah dipastikan tidak lulus dan harus mengikuti paket C.

Dengan keadaan seperti itu aku tak tinggal diam dengan diriku sendiri dan tidak main-main menjalaninya, Walau kemampuanku tak begitu baik tapi belajar membuat aku yakin dengan apa yang harus aku lakukan diujian nasional tersebut. Dalam waktu tiga hari, Ujian nasional telah dilaksanakan dan berjalan dengan baik. Semua siswa dan siswi merasa senang karena telah melewatinya, walau belum tahu hasilnya, namun rasa kegembiraan itu tak bisa dielakkan, banyak dari temanku yang melakukan kegimbiraan tersebut dengan tradisi yang menurutku kurang baik yaitu tradisi coret-coretan baju satu dengan yang lainya.

Tradisi itu telah dilakukan semenjak dan sebelum aku datang ke Jakarta ini sepertinya. Aku dan temanku yang lain tak melakukan hal itu karena aku nilai, Daripada baju itu dicoret, lebih baik bajuku dan juga temanku dikumpulkan dan memeberikannya ke orang lain yang membutuhkannya. Pengumuman mengenai hasil ujian nasional tersebut akan diumumkan seminggu setelah hari itu. Dalam menunggu hasl ujian tersebut perasaan hati tak menentu pastinya, bukan aku saja yang merasa seperti itu, semua siswa-siswa juga merasakan hal yang sama sepertiku, yang membedakan hanyalah antara aku dan siswa lain hanyalah dia, Kenapa dia?, Alasannya adalah selain aku harus cemas menunggu hasil ujian nasional yang telah aku jalani, Aku juga harus was-was menunggu jawaban darinya yaitu jawaban atas pertanyaan hatiku untuk dia. Jadi dalam waktu yang bersamaan aku harus menunggu dua jawaban sekaligus.

Uhh..,Sangat melelahkan aku rasa, Menunggu Dua hal yang aku pikir sama-sama pentingnya untukku bukanlah hal yang nyaman yang aku rasa. Resah dan gelisah silih berganti menggangguku datang tanpa permisi. Menunggu khususnya bagiku dan semua orang punya arti tersendiri mungkin dan memiliki penilaian yang berbeda. Menurutku, jangankan untuk menunggu dalam waktu yang lama, satu menitpun gelisah telah membuatku bosan dibuatnya, dan aku rasa jarang sekali yang mampu melewatinya, hanya yang punya keyakinan tingkat dewa saja yang mampu melewatinyanya.

Aku dari sekian banyak orang didunia ini yang posisinya pada saat itu sama mungkin yaitu menunggu, Menunggu jawaban untuk masa depanku tentunya dan juga menunggu jawaban atas harapan yang indah yang sering hadir didalam mimpiku yaitu harapan untuk dia jadi milikku. Seminggu sudah aku jalani waktu menunggu, pengumuman hasil ujian nasional segera aku dapatkan. Pengumuman hasil ujian tersebut dibagikan satu persatu dari guruku. Semua berkumpul dalam satu kelas, satu persatu di dipanggil namanya untuk maju ke depan dan di bagikan kertas kecil yang didalamnya berisikan catatan kecil yang tertulis kata yang menyatakan lulus atau tidak lulus.

Aku yang merasa deg-degan menerima kertas tersebut dan berdoa dalam hati agar aku lulus. Satu persatu temanku telah mendapatkanya dan dari hasilnya mereka lulus. Giliranku akhirnya datang juga kepadaku. Guruku memanggil namaku dan aku segera menghampiri guruku yang berdiri depan kelasku. Dengan keyakinan pasti dalam diri, Aku buka kertas kecil dari amplop kecil yang diberikan oleh guruku tersebut, Treng.., Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT yang maha kuasa, Dari pengumuman itu, Aku dinyatakan Lulus dengan nilai yang memuaskan bagiku. Begitu juga dengan dia, Dia yang masih aku tunggu bibirnya berkata akan jawab itu juga Lulus.

Perasaan senang dan gembira tak bisa aku bendung dari dalam hatiku ini, Namun ada rasa sedih juga, dari hasil Ujian Tersebut ada beberapa teman-temanku yang tak tulus, melihat ekspresi mereka aku bisa rasakan betapa kecewanya mereka atas hasil tersebut, ada yang tak mampu menahan kecewa itu, mereka membiarkan air mata mengalir deras di pipinya, sungguh aku tak tahan melihatnya. Pengumuman Ujian Nasional telah diumumkan dan hasilnya pun telah aku dapatkan yaitu aku dinyatakan lulus, Namun untuk jawaban dari Dia belum juga aku dapatkan.

Dalam hati bertanya, Akankah aku dengar dengan indah dan aku temui jawaban itu? , Entahlah !, yang jelas hingga saat itu aku belum juga dapatkan jawaban itu. Dalam setia aku menunggu kata terucap darinya. Kata indah tentang cinta itu dalam jawaban yang selalu aku nanti kehadirannya. Akankah hadirnya datang kepadaku kelak?, entahlah, Aku tak tahu, yang jelas setelah kelulusan itu, Sekolahku berencana mengadakan perpisahan yang akan dilaksanakan di Bandung. Dari pengumuman yang aku dapatkan dari teman-temanku, perpisahan tersebut akan diadakan dalam waktu 2 hari dan semalam tepatnya di cibodas kota Bandung. Semua murid dipastikan akan ikut untuk mengikuti moment terakhir bersama guru dan juga teman semuanya.

Aku telah pastikan untuk semuanya bahwa aku tak akan mungkin tak ikut dalam acara perpisahan tersebut, Apalagi aku harus melewatinya. Selain Moment terakhir aku bersama guru dan juga temanku semua, Aku juga punya rencana tersendiri untuk ikut perpisahaan tersebut yaitu aku akan berencana menanyakan kembali tentang pertanyaan yang pernah aku ungkapkan padanya pada saat itu yaitu ungkapan tentang perasaanku yang semakin hari semakin tak kuasa aku menahannya lagi. Malam hari sebelum esok paginya keberangkatanku ke Bandung. Pada malam itu aku telah rancang semua strategi yang harus aku lakukan jika ada kesempatan aku bertemu dia disana dan juga aku telah menyiapkan sesuatu untuk Dia yaitu berupa sebuah kado yang berisikan boneka kecil dengan tulisan pendek yang akan aku berikan untuk Dia.

Dalam hatiku berharap akan berjalan seperti apa yang aku rencanakan dan sesuai harapan yang aku inginkan. Sungguh rencana yang bagus aku pikir dan aku sudah tak sabar lagi untuk melakukanya. Semua Persiapan dan rencana telah aku siapkan dengan rapi. Malam itu tak mau tidur terlalu malam seperti malam biasanya. Selain aku harus bangun pagi untuk membereskan pekerjaanku dulu, Aku juga harus siap untuk berangkat ke sekolah, Karena sebelumnya telah diberi pengumuman dari Panitia bahwa keberangkatan akan di lakukan Jam 7 Pagi dari depan sekolahku.

Jadi Tak mau ada masalah dengan keberangkatan itu, Apalagi harus ditinggal bus, itulah yang harus aku hindari. Pagi telah datang menjelang, dari adzan subuh berkumandang aku telah selesai membereskan semuanya, dari pekerjaanku dan juga persiapan diri dan perkakas untuk menuju ke sekolah dan berangkat ke Bandung yang mungkin telah menungguku sejak dulu. Aku berangkat dari rumah dengan penuh semangat dan dengan hati yang gembira tentunya. Aku meluncur dari rumah kira-kira jam 6.30 Pagi dan sampai didepan sekolahku 15 Menit setelah itu.

Aku datang di sambut oleh wajah yang tak asing lagi untukku tak lain adalah guruku dan juga temanku semua yang terlihat jelas dari pancaran wajah itu kegembiraan yang tak bisa disembunyikan. Aku yang salah satu dari pancaran cahaya gembira itu tak mau ketinggalan dengan keadaan itu, Apalagi Aku lihat disebelah sana ada Dia yang seakan bagian dari jiwa semangatku menoleh indah menatapku anggun. Keberangkatan dari Jakarta ke bandung akan di lakukan didepan sekolahku yaitu di pagi hari, kira-kira jam 7.00 pagi.

Sebelum berangkat ke bandung dan berlibur selama 2 hari dan satu malam, Aku telah meminta izin dari Bosku, dan Bosku telah memberiku izin untuk pergi ke bandung. Pada hari itu keberangkatan kami menggunakan bus berjumlah 2 bus. Dalam perjalanan menuju ke Bandung dilalui dengan senang gembira dan terlihat jelas kesenangan yang terpancar dari wajah temanku semuanya. Sejenak Aku berpikir, akan adakah moment seperti ini lagi jika semua telah pergi menuju masa depan masing-masing nanti setelah ini?, Entahlah, yang jelas aku juga merasakan hal yang sama pada saat itu, apalagi aku akan temukan jawaban yang aku tunggu tentunya dari Dia, pasti tak aku bayangkan nanti betapa kesabaran ini tak mampu menunggu lagi. Kami semua sampai dengan selamat ke tempat tujuan yaitu Bandung.

Kota dengan ciri khasnya adalah kebun teh dan hawa yang sejuk, terasa jelas perbedaan kota Jakarta dengan kota bandung. Kalau di Jakarta terasa udaranya panas namun berbeda bila berada di kota bandung, yang terasa dalam tubuh hanyalah hawa dingin, dan juga suasananya nyaman dan tentram, apalagi di pandu dengan pemandangan yang indah, semakin menyenangkan hati rasanya. Sampai dipenginapan jarum jam menunjukkan pukul 2 siang. Kami langsung istirahat dan setelah itu segera mandi dan sholat berjamaah karena setelah itu akan ada acara yang telah teman semua siapkan.

Aku melepaskan lelah dengan berenang dikolam renang tempat penginapan itu bersama temanku dan hal yang tak bisa aku lupakan bila aku mengingat temanku semuanya itu. Telah satu hari dan satu malam kami lewati di kota bandung. Banyak makna dan cerita tersimpan di sana, Malam perpisahan akan di laksanakn pada malam kedua, dan juga malam dimana aku harus meminta kepastian darinya tentang pertanyaanku pada saat itu yang kini masih tak menemukan jawabanya. Malam Perpisahan dilakukan dengan acara wisuda layaknya Sarjana Muda, walau kita baru tamat SMK, Namun acara yang telah direncakan dan dibuat oleh guruku dan juga temanku memberi arti tersendiri dalam acara tersebut. Acara perpisahan dilaksanakan hingga larut malam kira-kira sampai jam 12 malam dan setelah itu acara bebas.

Guru-guruku lebih memilih acara duduk bersama dan menikmati hawa sejuknya malam di kota bandung bersama-sama, dan temanku semua punya acara tersendiri tentunya yang aku tak harus tau acara mereka, yang aku pikirkan saat itu adalah menemui Dia dan duduk bersamanya dan tanyakan hal itu kembali. Aku menunggunya didepan penginapan, karena waktu itu tempat penginapan tersebut dibagi menjadi dua lantai, lantai atas untuk wanita dan bawah Laki-laki. Aku menunggunya di bawah berharap dia keluar dan mau bertemu denganku. Namun sekian waktu aku nanti tak kunjung tampak wajahnya terlihat olehku.

Penat rasanya diri telah lama aku menunggunya turun dari lantai atas tak kunjung ada akhirnya aku putuskan untuk memberi isyarat kepada temanku untuk melihat dia di atas, apa yang dia lakukan disana sehingga tak kunjung datang. Aku lihat Temanku yang aku beri isyarat untuk menemuinya juga lenyap bagaikan ditelan bumi keberadaannya. Kebosananku dengan kesabaranku menunggu semakin menipis, Akhirnya aku beralih pergi tepat disamping rumah aku berada.

Disana banyak juga temanku yang duduk bersama sambil membicarakan hal yang tak pasti aku dengar dan menimbulkan gelak tawa antara mereka. Aku ikut gabung dengan teman-temanku itu sekedar menghilangkan rasa kesalku. Tak Menghiraukan lagi hadirnya ada, akhirnya aku semakin lama semakin reda aku rasa perasaan itu bersama temanku itu. Tak aku pikirkan lagi rencanaku yang telah aku rencanakan sebelumnya namun dengan keberadaan teman di sampingku lenyapkan asa yang sempat membelengguku.

Entah berapa lama aku lalui bersama temanku, lewati malam dengan canda gurau, tawa silih berganti, gelak menjadi arti kebersamaan. Seiring aku bergurau bersama temanku semuanya, Akhirnya tanpa sadar aku menoleh terlihatlah sosok wajah itu yang selalu aku nantikan kehadiranya, namun kehadiran itu bukan bersamaku namun bersama temanku yang aku lihat berada di teras lantai atas. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu, aku tak mempersoalkan itu karena aku tahu, teman yang dia ajak bicaralah adalah teman terbaikku di sekolah dan tak mungkin membuatkku kecewa. Malam semakin larut, Dia juga tak kunjung turun dan menemuiku.

Aku masuk kekamar dan memanggil temanku untuk menemaniku mengambilkan sesuatu. Pada Saat bersamaan, acara yang di adakan temanku semua adalah tukar kado. Walau kado yang aku buat itu untuk aku berikan padanya, Namun itu tak akan terjadi karena tak mungkin lagi dia turun dan menemuiku dibawah. Akhirnya aku kirimkan kado itu lewat temanku untuk saling tukar kado dengan temanku yang lain. Pada saat itu aku mendapatkan bingkai foto dari teman satu kelas denganku. Katanya sich kado yang aku berikan dia yang dapatkan namun itu tak cukup membuat aku senang, karena yang aku inginkan hanyalah kado itu untuk aku berikan lewat tanganku sendiri bukan dari tangan orang lain.

Kecewa akan semua itu sudah pasti, Namun semua aku serahkan pada-NYA akan segalanya. Malam telah aku lalui tanpa arti, tanpa jawaban dari Dia, tinggalkan sesak nafas dijiwa untuk aku tanggung semua asa yang membungkus derita semakin mendalam. Sakit semakin aku rasa dalam hati, tergores semakin nyata dalam sanubari, ingin rasanya aku pergi jauh dan tak akan kembali lagi. Semua telah aku lalui tanpa jawaban dan tinggalkan semua cerita kelam dalam hatiku. Akan kemana aku mengadu tentang semua yang aku rasa jika yang tau hanyalah Dia. Pagi menjelang telah temukan akhir dari malam semu dari penantian itu.

Kabut pekat sang embun pagi gambarkan irama suasana hati ini. Sang fajar seakan enggan menunjukkan dirinya Seperti dirinya yang kini telah melupakan semua cerita itu. Setelah pagi menjelang, semua disibukkan dengan berkemas untuk segera meninggalkan tempat tersebut kota bandung tentunya. Keberangkatan dari villa tersebut yaitu jam 8 pagi. Sesuai dengan rencana para guruku bahwa akan mampir disuatu tempat wisata yaitu cibodas kota kembang sebelum menuju ke Jakarta. Di dalam bus aku lihat Dia duduk dibelakang yang pada saat itu tak begitu aku hiraukan lagi keberadaanya, walau saat itu dia ingin memberikan sesuatu untukku lewat temanku katanya sich kado, namun pemberian itu tak aku terima, entah apa yang aku pikirkan waktu itu sehingga aku tak mau terima pemberian itu, mungkin perasaanku telah kacau tak menentu jadi wajar suasana hati tak jelas.

Sampai pada tempat tujuan wisata tersebut, semuanya turun dan segera menuju tempat tempat tersebut. Untuk menuju tempat tersebut tak bisa dilalui dengan bus jadi kami semua harus menempuhnya dengan berjalan kaki, walau semua aku lihat sangat menikmati wisata tersebut namun tidak untukku, yang aku rasa hanyalah hampa tak berarti apa-apa, semua perjalanan wisata tersebut aku lalui dengan hati tak menikmatinya. Tanpa aku sadari perjalanan wisata tersebut begitu cepat berakhir, aku dan semuanya kembali kebus dan akan melanjutkan perjalanan menuju kota Jakarta kembali dan melanjutkan aktivitas kehidupan masing-masing jika semua telah sampai ke Jakarta.

Setelah melalui perjalanan bus yang melelahkan akhirnya kami semua sampai dengan selamat ke Jakarta lagi. Tiba di Jakarta kira-kira jam 7.00 malam. Setelah aku, guruku dan teman semuanya turun dari bus, aku dan teman sekelasku kumpul sesaat melepas lelah didepan sekolah sambil melepas dahaga dengan kesegaran es kelapa muda. Kami tak terlalu lama berkumpul dan segera berpisah mungkin saat itu adalah pertemuan terakhir dengan teman semuanya karena setelah itu kami semua tak pernah lagi bertemu dan berkumpul lagi mungkin karena kesibukan masing-masing yang membuat kami tak bisa berkumpul lagi seperti biasanya. Aku kembali ke rumah dengan nada langkah yang tak berirama indah, lemah tak bergairah.

Sampai dirumah jam 9 malam dan disambut sama bibiku dan juga teman pekerjaanku dengan ramai, walau hati ini terasa hancur lebur namun dengan kasih sayang dari bibiku dan teman kerjaanku itu, rasa sakit ini sedikti berkurang. Setelah aku duduk dan bercerita sedikit tentang liburku dengan temanku, aku memutuskan untuk mandi, sholat, makan malam dan istirahat agar esok harinya aku bisa melaksanakan kembali aktivitas seperti biasa yang sempat aku tinggalkan dalam 2 hari berlalu.

Aku memang telah membuktikan semua bahwa aku bukanlah orang yang cepat menyerah dan itu telah ada semenjak aku berada di Jakarta ini, Namun perasaan tetaplah perasaaan, pasti tak semudah itu mengembalikan ke betuk semula dan segera melupakannya, itu tak mudah bagiku. Walau jawaban itu tak aku dapatkan darinya dan aku harus menanggung semuanya, Namun Tak apa bagiku, yang aku pikirkan lebih dari itu semua. Banyak pelajaran yang aku dapatkan, mungkin waktu belum berpihak untukku dan mungkin juga Dia bukan yang terbaik untukku karena Aku percaya dengan kehendak Allah SWT dan Aku sangat mengerti jika sebuah cerita tak selalu berakhir dengan indah dan bahagia. Ada kalanya harus kecewa dan ada kala dengan bahagia dan senyum. Hal itu akan selalu mengisi di setiap cerita seseorang dan tak akan pernah ada yang tahu akhirnya. Setelah Acara perpisahan itu berlalu, Tak ada lagi aktivitas sekolah yang harus aku jalani.

Aku hanya menunggu Keluarnya Ijazah, Aku sering diajak oleh temanku semua untuk kumpul bersama setelah kelulusan itu, namun jarang sekali aku mengikutinya, Apalagi pada saat itu perasaan ini lagi tidak jelas alamatnya. Pernah aku mengajak Dia untuk bertemu karena aku tak mampu lagi menahan rasa rindu itu padanya, Saat itu aku janjian sama Dia di sebuah halte bus yang tak jauh dari sekolahku waktu itu, Namun hanya kehampaan yang aku dapatkan darinya. Bertemu memang aku temui sang pembunuh waktu itu, Namun pertemuan itu bukannya membuat rasa rindu itu hilang namun berubah menjadi rasa kesal dalam hati, kenapa tidak, Semenjak aku berjanji untuk bertemu, aku telah menunggu dia satu jam sebelum dia datang.

Setelah Dia datang dan hadir di dekatku, Dia hanya diam dan sesekali menjawab jika aku bertanya padanya. Sungguh aku tak bisa biarkan dia seperti itu, Aku dan Dia memang sering marah-marahan dengan persoalan yang tak jelas sebabnya, Namun waktu itu telah membuat aku begitu merasa dalam hatiku bahwa Dia hadir dalam hari dan ceritaku hanyalah soal waktu dan bila saatnya datang Dia akan pergi jauh dan tak akan pernah menghiraukan aku lagi. Dalam keadaanku seperti itu, Aku pernah berpikir, Mungkin aku yang terlalu egois dan ingin menang sendiri dan melakukan sikap yang membuat dia bosan dibuatnya.

Aku akui semua tentang kesalahan yang pernah aku buat kepadanya, mulai dari marah yang tak jelas, diam dan cuek yang berlebihan, itulah yang harus aku perbaiki. Seharusnya Pertemuan itu adalah pertemuanku dengan Dia yang terakhir kalinya untuk waktu yang panjang, Setelah pertemuan itu dan mungkin juga atas salahku, Dia hanya mengirimkanku sebuah pesan pendek untukku, Dia bilang dalam pesan tersebut, jika dia akan pergi ke tempat neneknya didaerah bandung untuk waktu yang lama. Setelah aku membaca Pesan itu aku membalasnya untuk tidak mengizinkannya untuk pergi jauh namun permintaanku itu sia-sia karena setelah aku balas pesan tersebut tak ada lagi balasan lagi darinya. Sedih memang sedih aku rasa, mungkin hanya Allah SWT yang tahu betapa sedihnya aku waktu itu.

Harus relakan semua yang telah aku bangun dan aku jalani untuk waktu yang tak sedikit aku habiskan untuk dia tahu namun harus di akhiri dengan hal yang ku terima tak sebanding dengan apa yang aku beri. Bukanya aku tak ikhlas dengan semua yang aku lakukan itu untuknya namun dengan perlakuan itu tak sesuai dengan yang aku inginkan itulah yang membuat aku belum bisa terima dengan baik. Kesedihan memang belum mau beranjak dari hidupku dari kepergian Ayahku dan juga Dia Yang selalu ada di setiap nafasku harus menghilang dari kehidupan hariku tanpa meninggalkan jawaban untukku. Dalam hati dan doa hanyalah mampu berharap untuk Dia agar dia disana menjalani hidupnya dengan indah dan bahagia, walaupun aku disini menderita karenanya, namun Cerita itu tetaplah Cinta yang akan selalu ada dan hadir disaat lelah ini mengganggu sepiku.

Aku tak akan pernah menyerah, Aku merasa tak adil jika tak memberi hati ini jawaban itu, disini aku selalu mengenangmu, merindukanmu dengan tulus walau kini kau tak pernah melihat lagi senyum indahmu itu dan walaupun yang hadir hanya banyang semumu, Aku akan tetap menunggumu sampai aku lelah dengan kebiasaanku ini.

#Cerpen 7 

 “ Atas Nama Cinta, Aku Memaafkanmu “

 

“…Tanpaku sadari semua telah berubah Tanpa aku inginkan, semua telah berlalu Tanpaku akhiri, semua telah menghilang Dan tanpaku ucapkan, semua telah berlalu.

Aku jaga rasa itu dengan baik dari hantaman waktu jauh darimu. Namun setia yang aku berikan tak cukup untuk membendung hatimu pergi jauh dariku.

Membentengi dirimu dari rasa curiga yang membuat kau pergi Tinggalkan semua yang telah terjalin, Semua yang terbangun dan semua yang dalam janji. Salahkah jika aku belajar untuk membuktikan, Salahkah cinta inginkan dirimu bersamaku ,

Salahkah waktu yang membuatmu pergi tanpa pamit Atau memang takdir berkehendak Jika kau bukan tercipta untukku…”

 

Bunda, Bahagiakah kau disana saat ini?, sedangkan aku disini tak seperti apa yang kau pikirkan. Aku menderita, aku sangat merindukanmu, aku sangat ingin dengar celoteh rindumu dalam waktukku. Tak inginkah kau sangat ini mendengarkan suaraku sedangkan aku ingin sekali mendengarkan suaramu dalam sepinya hariku. Rindukah kau saat ini kepadaku seperti saat itu dalam waktu yang indah kita selalu bercerita, berbagi hingga malam berlalu, hari berlalu, kau tetap setia menjaga rasa dan cinta itu semua sampai saat ini dimana kau menghilang tak ada kata sepatah apapun terucap dari bibimu.

Bunda, Salahkah aku hanya ingin tahu, kenapa kau jadi begini, kau berubah seketika dan kau pergi menghilang tanpa celah untuk aku bertanya kepadamu agar aku dapatkan kepastian darimu jika dirimu telah lelah menantiku datang untukmu. Aku sangat merindukanmu, aku sangat merasa ada yang hilang dari waktuku, dari langkahku dan dari waktu yang aku jalani. Bunda, Sungguh terasa berat untukaku jalani semua ini tanpa dirimu, aku sangat kehilangan sosok semangat itu, dimana setiap waktu kau selalu menyemangatiku untuk tetap menjaga cintamu dalam hatiku dan memberi semangat dalam meraih apa yang aku cita-citakan disini. Namun tak aku pikirkan apa yang akan terjadi, hari itu semua berubah dari janji.

Bunda, Aku telah berusaha untuk menghubungimu, mengirimkan pesan melalui Handphone, berusaha mencari kabar dari Media sosialmu. Namun hingga hari ini aku belum juga menemukan sepatah katapun kau balas, kau tulis akan apa yang terjadi dalam dirimu sehingga kau lupa jika aku disini sangat menderita menanti kabarmu. Kenapa kau begini, bunda. kenapa kau buat keadaan menjadi begini, bunda dan kenapa kau hanya diam saja disaat aku menangis menanti jawabmu disini, kenapa?. Bunda, Ingatkah jika aku selalu perjuangkan dirimu walau dalam keadaan apapun. Aku selalu mencoba untuk bertahan disaat badai harapan kadang membuatku ingin pergi jauh tak kembali lagi karena sikapmu dulu.

Sejak hari itu, pertama kali aku mengenalmu, kau telah buat aku menderita untuk beberapa kali, namun atas nama cinta inginkan dirimu bahagia bersamaku aku rela waktu dan rasa menghantam jiwa untuk mempertahankanmu dengan harapan aku ingin buktikan kepadamu jika didunia ini masih ada cinta yang ingin berjuang atas namanya.

Bertubi-tubi kau buat cinta membenciku, kau hilangkan aku dalam hatimu dengan nama yang lain, namun kesetianku tetap saja memilihmu agar kau paham betapa aku sangat mencintaimu. Namun sepnuh hati seikhlas jiwa, aku selalu menempatkan nama dan dirimu dalam hatiku tak tergantikan hingga saat ini. Walau kadang pikiranku sering bertanya, buat apa memperjuangkan orang yang tak mau diperjuangkan, Namun aku tak bisa, aku tak bisa berbuat sedemikian karena aku yakin jika dirimu akan berubah suatu saat nanti dimana kau akan kembali kepadaku.

Apa yang aku nanti, sepertinya datang, kau kembali lagi pada saat aku sangat merindukanmu waktu itu. Kau ucapkan kata maaf untuk kedua kalinya kepadaku karena sikapmu yang dulu telah meninggalkanku. Entah kenapa aku selalu berlaku seperti itu, aku selalu memberikan maaf kepadamu dan selalu luangkan hatiku untuk menerimamu kembali. Apakah aku pria yang bodoh atau pria yang tak mampu lagi mencari penggantimu dalam hati hingga beberapa kali kau hantam hatiku dengan luka yang parah, tetap saja maaf selalu aku berikan kepadamu.

Pergi tanpa pesan, kini kau tinggalkan aku kembali. Dengan luka yang dulu telah sembuh, kini harus terulang kembali. Kecewa yang pernah mengisi waktuku dulu, kini datang kembali mengisi waktuku kehilanganmu. Mungkin kau tak pernah merasa apa yang pernah aku rasa, mungkin kau tak pernah tau apa yang pernah tau dariku. Bunda, Aku sangat menderita karenamu, aku kecewa kepadamu. Kenapa kau permainankan aku seperti mainan.

Jika kau butuh maka kau akan datang untuk memeluknya dan jika kau bosan, maka kau akan meninggalkanya atau kau simpan untuk waktu yang lama sampai kau kangen kembali membutuhkanya. Aku ini manusia, manusia yang memiliki rasa, manusia yang memiliki cinta dan cinta itu aku bangun atas namamu, lalu kenapa kau perlakukan aku seperti boneka?.

Adakah hatimu iba melihat keadaanku saat ini, adakah rasa yang kau rasa akan apa yang aku alami saat ini, atau memang kau tak punya rasa hingga kau acuhkan aku tanpa ada rasa iba sedikitpun ingat kepadaku. Bunda, Walaupun sesaat, rindukah kau saat ini kepadaku, ingatkah kau kepadaku disana karena aku disini sangat merindukanmu, bunda. Salahkan aku seperti ini hanya ingin bercerita walau hanya sesaat kepadamu untuk melepas lelahnya waktukku. Salahkan aku yang setiap hari mengirimkanmu pesan untuk menanyakan keadaanmu disana.

Salahkah aku jika dalam waktu luangku aku menelponmu atau salahkah aku jika aku tidak mengirimkanmu pesan dan menelponmu dikala waktuku sibuk?. Jika iya, katakan kepadaku agar aku paham, aku mengerti jika kau telah bosan dengan keadaan seperti itu dan perlakuanku seperti itu. Bunda, Kenapa hanya diam saja, katakan kepadaku, katakan…!, Aku ingin mendengarkan suaramu agar aku puas, agar resahku pergi, agar paniku hilang walaupun hanya satu kata menyakitkan kau menjawabnya.

Aku hanya ingin kau beri aku kepastian jika dirimu tak sudi lagi bersama dalam waktuku, hanya itu bunda. Jika memang kau telah lelah bersamaku, jika memang kau capek menungguku kembali, jika memang rasa yang kau punya telah ada yang mengisi, aku hanya ingin kau berucap walau aku tahu itu tak mudah untuk aku terima. Bunda, dua bulan berlalu kau seperti menghilang dari muka bumi ini, tak ada kabar, tak ada berita dan tak ada Tanya. Aku berusaha untuk menanyakan kabarmu sana sini dari temanku dikampung, orang di sekelilingmu yang kau kenal sekedar bertanya akan keadaan dirimu disana. Namun Semua diam, semua bisu tanpa menjawab akan keadaanmu disana.

Saat ini aku ingin tau, walaupun sepatah kata darimu, agar aku tenang dan itu aku rasa itu sudah cukup untuk membuatku mengerti disini jika keadaanmu disana seperti apa yang mereka katakan kepadaku. Untuk bertanya langsung kepadamu mungkin kau tak pernah bisa memberikan kabar pastinya karena sejak aku kehilangan komunikasi denganmu tanpa sebab apapun, tentunya akan percuma saja aku menelponmu sudah pasti tidak diangkat, akan terasa menganggu pastinya bagimu jika setiap hari aku selalu mengirimkanmu pesan. Berusaha untuk dirimu bunda telah aku lakukan hingga hari ini, namun titik jawab tak kunjung aku dapatkan.

Aku telah mencoba atas nama rasa yang pernah membuatmu tersenyum karenaku juga tak berhasil aku taklukan, tetap saja dirimu abaikan semuanya. Dalam ketidakpahamanku, Aku mencoba untuk mengerti apa yang telah terjadi dalam hidupku akan dirimu. Aku mencoba untuk paham walaupun jawabanmu tak pernah aku pahami. Mengenalimu bukan alasanku untuk meninggalkanmu, sejak hari itu perkataan ini selalu aku pegang dalam hariku agar dirimu selalu ada membentengiku dalam bertahan atas namamu, menjaga rasa yang kau titipkan kepadaku walaupun pernah tersakiti oleh dirimu yang pernah pindah ke lain hati.

Aku relakan waktuku untuk membenci cinta yang datang kepadaku atas namamu agar rasa yang kau titipakan tetap utuh adanya dalam hatiku. Aku berusaha untuk menepis cinta yang lain datang menghampiriku agar cinta yang kau jaga disana berharap sama seperti apa yang aku lakukan disini. Bunda, Tahukah engkau, menjaga cintamu sungguh berat bagiku disini, namun aku selalu bisa menjaganya hingga tak ada lain selain atas namamu. Aku telah membenci mereka dan tak mau mengenal mereka agar rasa yang aku miliki ini utuh untukmu. Aku berusaha jauh dari mereka, tak mau mendekati mereka agar aku tak jatuh dalam cinta menghinati dirimu disana.

Masa itu selalu berhasil aku lewati, waktu itu selalu berhasil aku jalani akan tetap bersamamu hingga bahagia itu datang bersamamu kelak hari nanti satu hati hingga ajal memisahkan. Namun semua ternyata tak seperti apa yang kau lakukan, semua tak pernah aku pikirkan sebelumnya dan semua tak pernah aku bayangkan jika keadan ini akan berakhir tanpa rasa iba dalam hatimu hingga kau lemah bunda. Aku kalah bunda dan aku menyerah bunda. Bagiku, melupakanmu sangat sulit untuk aku lakukan, sungguh sangat sulit. Namun mau tak mau, suka tidak suka perubahan itu harus dijalani dan harus diterima. Saat ini aku memang sangat sedih dengan keputusan yang tak aku kenali penyebanya darimu.

Keputusan yang yang membuat aku tak mau bertanya lagi dan keputusan yang membuatku mungkin akan lelah menantinya datang. Aku harap, jangan pernah kau salahkan aku, jika suatu hari kelak kau bertanya kembali kepadaku kenapa aku berubah. Aku harap semua akan baik-baik saja hubungan silaturahmi antar kita karena aku pikir kita satu kampung dan kekeluargaan disana sangat erat. Jika kita saling bertemu nanti dilain hari, aku harap tak ada benci diantara kita. Biarlah cinta yang membencimu dan membenciku namun hubungan baik akan tetap terjaga dengan baik dan mungkin itu yang dapat aku lakukan mulai saat ini kepadamu, bunda.

Aku tak bisa menebak dan mengubah takdirku siapa pendampingku yang diberikan oleh Allah SWT kelak hari nanti. Aku hanya manusia yang lemah dan hanya manusia yang memiliki banyak sekali kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna. Berkata dalam hati ini jika kembali lagi bersamamu, mungkin tak cukup kuat hati ini menerimamu kembali. Mungkin tak cukup tangguh kembali raga ini untuk berpegang pada janjimu. Bukan karena ingin membalas dendam karena perlakuanmu, bukan, namun hanya ingin kau tau jika cinta yang aku miliki bukan untuk kau sakiti.

Kata maaf selalu aku berikan kepadamu seperti apa yang pernah aku pernah katakan kepadamu. Kau pernah kembali dan pernah bertanya kepadaku waktu itu, Salahkah jika ada seseorang meminta kembali dan berjanji tidak akan mengulangi lagi dikemudian hari?. Kau pasti mengenali ucapakan itu jika aku tak akan biarkan kata maafmu kosong tanpa ada jawabnya. Aku selau memanfkanmu, apapun itu, apapun yang kau lakukan kepadaku, rasanya aku tak pantas menolak untuk menerima kata maafmu itu. Jadi untukmu bunda, Maafku selalu aku hadirkan untukmu dan untuk mereka yang pernah khilaf kepadaku.

Bunda, Apapun alasanya, kau pernah buat aku bahagia, kau pernah buatku bersedih, kau pernah buatku tertawa dan pernah buatku menderita jadi aku tak layak melupakanmu begitu saja dalam waktuku namun salah juga jika aku tak bisa melupakanmu karena aku lelaki yang memiliki rasa yang sama seperti mereka yang akan memiliki hati untuk mereka yang menanti. Tak pantas rasanya jika aku menanam rasa kepadamu jika orang lain berada didekatmu kelak dan begitu juga aku, tak adil rasanya jika namau masih ada dalam hatiku sedangkan aku bersama orang yang memang ditakdirkan untukku kelak. Maafkan aku telah membuatmu pernah menderita karenaku, maafkan aku telah membuatmu menunggu terlalu lama dan maafkan aku telah bersedia menerimamu kembali sehingga kau kembali menyakitiku.

Seiring doa dalam hati dalam sujudku kepadaNYA, agar kau selalu diberikan kebahagian dalam hidupmu dan akhiratmu kelak dank au bisa menemukan pria yang memang tercipta untukmu dan selalu dalam jalan yang lurus yang diridhoi oleh Allah SWT, Amin. Ceritamu bersamamu biarlah menjadi sebuah cerita yang akan menghilang seiring waktu berjalan dan hanya terjadi disini. Kita akan terus berjalan hingga menemukan apa yang memang dipertemukan untuk kita. Hidup akan selalu berjalan hingga nanti waktu membatasi untuk segera kita pindah ke alam sana dan semua akan menghilang tanpa kau kenali lagi dan hanya tersisa waktumu dipergunakan dengan apa. Jika baik maka kau akan baik juga disana dan jika buruk maka sebaliknya juga akan didapat.

Aku ingin kau menjadi orang yang baik dan aku juga berusaha menjadi orang yang baik karena kata orang sich, jika orang yang baik maka dia berhak mendapatkan yang baik pula. Berharap aku bisa seperti mereka yang mendapatkan wanita yang baik seperti dia yang saat ini sedang tersenyum manis kepadaku.

 

Next Cerpen 8 …


TAGS  


Comment

Hot Posting

Hot Comment