Cherumu.com

Puisi MS

17 Jun 2016 - 10:01 WIB
Umum /   Maschun Sofwan 0 Comments
<

#1. Coba Kau Dengar Irama Waktumu

”… Waktu, kadang dia menjelma menjadi luka, derita, air mata dan penghadang yang begitu sulit untuk kau lalui.

Kadang pula dia menjadi indah bertahta bahagia yang akan menjadi kenangan ingin mengulanginya lagi kelak waktu nanti. Apapun alasanmu, entah kau menyukainya atau tidak yang jelas dia akan terus berjalan mengisi ruang hidup yang kau miliki.

Gunakan waktumu dengan baik maka suatu hari kelak dia akan menjawanya dengan baik pula. Tak perlu bersedih jika waktu saat ini begitu sulit untuk kau bernafas, tetap semangat kau jalani maka masa indah nan bahagiamu akan temui suatu hari nanti… ”

#2. ”… Kita berada satu ruang waktu yang sama namun entah kenapa aku merasa berada begitu jauh… ”

#3. Gema Mengema

”… Gema tapi tak berirama, aku rasa aku mulai tuli akan nada. Dikelilingi pelangi namun aku sulit menemukan warna yang berbeda, apa aku buta warna? .

Bertaburan cerita seakan aku tak bisa membaca, apakah aku buta huruf?. Seakan aku hanya bisa duduk kaku diselimuti waktu ketidakwarasan arti hidup. Mencoba berlari namun aku tak menemukan celah kata untuk mampu aku jabarkan menjadi nyata.

 Atau memang asa yang inginkan waktu membunuh kata… ”

#4. Dengarkan Kata Hatimu

 ”… Kerakusan pujian hamparan laut tak bertepi. Berbicara dibalik topeng pengagum dosa. Mencari celah kepalsuan runtuhnya tiang nurani. Bisik kesombongan lumpuhkan mahkota kebenaran. Masihkah kau hanyut dalam gemerlap kota tipu daya Atau memang noda hitam sulit untuk kau hilangkan dengan CahayaNYA… ” 

#5. Linglung

”…Lihat dirimu, seakan ramai dihingapi api cemburu namun kau tetap saja bersembunyi dalam rindu yang mencabik luluh lantak hatimu. Lihat dirimu, seakan menyamar dibalik tirai rindu yang begitu tebal hingga tertidur dalam rasa resah yang tak berujung.

Lihat dirimu, memancarkan senyum yang tersembunyi dalam sebuah tanya, kenapa tak kau biarkan saja lisan bersuara, kenapa tak biarkan saja hati terbuka atau Kenapa tak kau biarkan saja sosok rindu itu membasahi kalbu agar keringnya taman hati dapat tumbuh bergelimang bunga-bunga harapan.

Atau, atau memang kesanggupan rasa tak mampu berubah menjadi ada hingga cinta berubah menjadi petaka… ”

#6. ” lihat dirimu, begitu pandai menyimpan rindu yang kau rasa begitu kejam memukul malammu. Lihat raut wajahmu, tersembunyi kata dusta membenarkan apa yang seharusnya kau ungkap. Tak ibakah melihat telaga nurani melihat keterpurukan mengisi ruang waktumu. Hingga kau seakan puas berdiri diatas ketidakpastian cintamu… ”

#7. Lihat Dirimu Hari Ini

”Kenapa kau selalu dikuasai sepi ditengah hamparan bahagia menyelimutimu. Kenapa kau selalu merasa sendiri ditengah kasih sayang bertaburan disekelilingmu.

Kenapa kau terlihat begitu lelah dan lemah padahal di gengamanmu terselip kuasa untuk meminta. Kenapa kau begitu resah dengan duniamu sementara nadimu ada ditanganNYA. Kenapa kau lepas DIA dalam setiap helaan nafasmu sementara tak sadar sedetik waktumu bisa hilang begitu saja tanpa permisi. Sudahlah…, hidupmu tak diperlu di jual pada sebuah pengorbanan dosa.

Cukup, tak perlu bermain api sehingga kau haus akan nafsu dunia. Kau boleh berbangga diri karena kuasamu hari ini, namun jika kau lalai akan sujudmu, kau tak akan temukan arti dibalik ayat tuhanmu… ”

#8. ” Kenapa kau pasung rindu dalam hati hingga kau pupus layu dalam gemuruh lantang waktumu. Kenapa kau selalu bersembunyi dibalik resahnya hatimu sehingga api cemburu leluasa datang menghantam tepat didasar kalbu. Kenapa tak kau biarkan saja rasa indahmu leluasa menemukan sosok rindu yang selalu membayangimu dalam sepi. Kenapa kau terpaku kejam hingga kau diamkan saja bayang bahagia yang mendekatimu. Atau memang rasa coba membuatmu muak hingga harapan bahagia kau buang jauh dalam jurang penantian membelenggumu. “

#9. Trotoar Ibukota

”…Dalam hempasan waktu kau tak peduli diselimuti panas berpayung hujan namun kau tetap tegar arungi gemerlap ibukota. Kata menyerah seakan tak tertuang dalam kamus hidupmu, kau perkasa ditengah caci maki, kau kuat ditengah padang kebencian.

Ikhlasmu mengalahkan indahnya senja di waktu sore, kebaikan mengalahkan indah pagi menjelang. Kau masih saja tetap diam dikala kaki melangkah diatasmu dan kau asih saja tersenyum dikala hari kau lalui dengan lumuran kotoran yang mampu kau basuh.

Trotoar ibukota, betapa iri nya diriku padamu… ”

#10. Nikmat Mana Lagi Yang Kamu Dustakan (Ar-Rahman)

Di tengah helaan nafas, masihkah kau mengeluh akan rejekimu sementara kesehatanmu hari ini kau abaikan. Dihamparan cobaan dan rintangan yang kau anggap tak adil, masihkah kau berdusta kepadaNYA sementara hidupmu hari ini bisa saja hilang tanpa permisi.

Menyakiti mereka, membohongi mereka, masihkah kau bilang kau paling kuat didunia ini sementara DIA pemilik semesta ini. Kau bilang ingin melihat indah tiada tara setelah hidupmu didunia, kenapa jiwamu kau buka untuk lorong jahanam waktumu. Kenapa rasa lelah menunggu kesendirianmu kau habiskan untuk mencari pelampiasan sesaat. Tak bisakah kau bersujud hari ini jika keputusan mutlah ditanganNYA.

Bisakah kau tak bersedih dikala musibah datang menimpamu sementara rasa takut tak pernah kau tunjukan kepadaNYA. Kenapa tak kau biarkan saja hatimu terbuka melihatNYA ada atau memang kabut tebal telah menutupi dinding cahayaNYA dalam dirimu hingga matamu, dirimu tak hiraukan keagunganNYA dalam hidupmu…”

#11. Gejolak Rindu

”…Aku masih saja melakukan hal yang sama, terdiam kaku di tengah rindu memasung kejam waktuku. Aku masih saja setia ketika kata tidak mungkin membenarkan fakta yang ada akan hadir semumu. Dan aku masih saja berharap dalam ketidakmampuanku menggapaimu…”

#12. Ruang Waktu

”…Padahal kita berada diruang waktu yang sama, namun entah kenapa merasa begitu jauh hingga keramaian aku anggap sepi hingga menepi. Padahal aku begitu dekat denganmu namun entah kenapa aku merasa perbedaan itu membuatku begitu sulit untuk melangkah mendekatimu.

Aku tlah berusaha semampuku menerjang dinding pembatas ketidakwajaran itu, namun kesanggupanku memang tak cukup banyak membuka tabir itu semua. Aku tak berharap kau menganggapku ada, aku tak memintamu meneteskan air mata karena ulahku sendiri menelantarkan diri hanya ingin memilikimu. Aku hanya ingin kau peduli pada mereka yang terlalu berharap kau berada disana.

Jangan anggap aku egois dan tak berani ungkapkan sejuta kisah hati tentang rindu kepadamu namun aku memiliki alasan yang kuat jika rasa yang ku pendam tak baik untulmu. Realita saja jika hari ini aku hanya ingin melihatmu sekali lagi agar aku mampu bernafas untuk mengulangi kisah yang sama namun diruang waktu yang berbeda.

#13. Garis Takdir

”…Kemana kau akan berlari sementara takdirmu tlah tergariskan sejak kau buka mata menatap mentari dipangkuan ibundamu. Kemana kau akan mengadu sementara jejak langkah kakimu tlah ditulis disana.

Kemana kau akan bersembunyi sedangkan hidupmu ada ditanganNYA. Masihkah ragu akan AgungNYA, masihkah kau ragu akan AyatNYA, Masihkah kau bimbang keberadaanNYA dan masihkah kau resah akan keputusanNYA atau masihkah kau takut akan kebenaranNYA.

Atau memang kau tlah membuangNYA jauh dalam hidupmu hingga kau leluasa untuk bertindak, berkata dalam dusta hingga kau tampak gersang ditelan murka. Lihat saja perangaimu, kau seperti hidup namun tak terlihat seperti mati, berkawan cahaya gelap dalam dosa yang menikam.

Tak inginkah kau berdiri dalam cahaya terangNYA seperti garis tangamu yang sebenarnya baik dalam ciptaanNYA atau memang kau tlah mencoba namun kepastian belum juga datang hingga kau terjatuh dalam jurang kelalaian yang amat mengerikan…”

#14. Penyair Rindu

“…Karena Aku tak sanggup menahan gejolak rindu itu, makanya aku berlari jauh hingga mengaduh untuk temukan sebuah kedamain hati akan AdaMU. Kenapa aku begitu sulit temukan diriMU padahal kau selalu ada dalam bayang hidupku, kenapa aku selalu saja masih mencari butiran kasih sayangMU sementara kau selalu memperhatikanku dalam diam.

Tak Berwujud itukah yang membuatku tak peduli adanya diriMU hingga aku lepas landas dalam kurungan waktu penuh dosa bertaburan hinggapi diri. Tak bisakah kau tanpakan diriMU sejenak agar aku paham, agar mengerti, agar aku tau akan hadirmu mengelilingiku. Kau selalu Saja diam dalam keagunganMU, kenapa kau selalu bercanda dalam cobaan dan rintangan hidupku, kenapa tak kau tanpar saja mukaku agar aku sadar dibalik tembok kekuasaanmu kau selalu ada.

Seperti mereka yang selalu bersandiwara akan adaMU, kenapa kau diamkan saja, beri mereka berita mengejutkan agar mereka mengerti betapa diriMU zat tempat dimana mereka memohon dan bersujud. Kau begitu lembut dan kau begitu sayang hingga mereka melayang dalam dunia tanpa batas menyita waktu hingga mengaku dalam rasa salah yang kalah.

Jiwaku dan mereka engkau yang punya, aku hanya ingin waktuku sebelum aku mendekam dalam disana, aku harap cahayaMU selalu kenerangi jalan hidupku agar aku dapat bertemu denganMU dalam rindu yang belum selesai.

 #15. La Tahzan Innallaha Ma’ana

“…Disaat badai cobaan dan rintangan menghampir resah hidupmu maka ingatlah padaNYA dalam sujud ikhlasmu. Disaat air mata mengalir karena duka yang begitu dahsyat menyayati hati, ingatlah akan Robbmu dalam helaan lafaz ayatnya kau tuangkan dalam ucapmu.

Disaat prasangka mereka mengoyak amarahmu, ingatlah DIA dalam waktumu agar kau selalu terjaga dalam sebuah dermaga hati yang indah. Dan disaat gemerlap nafsu dunia mulai mengelilingimu, maka ingatlah DIA yang menemanimu agar kau selalu terjaga hingga temukan sebuah persinggahan halalmu.

Jangan pernah kau lari dariNYA, betapa kencang kau akan berlari dia penguasa arahmu. Jangan bersembunyi dibalik rasa takut akanNYA karena DIA maha mengtahui seisi alam ini.

Tetaplah kau berdiri disampingNYA, apapun alasamu Jika DIA memang yang terbaik untuk kau mengadu. Jadi jangan bersedih karena DIA akan selalu ada Dalam hidupmu, melihatmu, mendengarmu, menghapuskan kesedihan air matamu hingga kau tertidur pulas dalam lindunganNYA…”

#16. Sebuah Rindu Yang Terlupakan

” Ajarkanku Membencimu, agar aku mampu melepas bayangmu dalam rindu yang tak pernah usai menggerogoti tubuhku hingga tenggulai lemah.

Ajarkanku menjauhimu, agar aku mampu bernafas lega dari keterpurukan waktu melihatmu tanpa ada rasa iba singgah dihatimu mendekatiku. Ajarkanku menjadi untuk meninggalkan perasaan itu agar aku mampu berpacu sama seperti mereka yang leluasa menatapmu tanpa ada kata, tanpa rasa tanpa rindu yang mengisi malam dalam sepi.

Ajarkanku menjadi teman dan sahabatmu saja agar aku rasa cemburunya hati dapat aku bendung dalam emosi yang mengelilingiku. Atau kau saja yang berlalu seperti menganggapku musuh hingga kau terluka dalam rasa yang akan menyulitkanku menyimpan rasa itu.

Atau bisa juga kau tak menatapku penuh tanya agar aku tak menunggu jawaban itu lalu aku leluasa untuk bergerak tanpa ada dinding pembatas. Namun kau begitu sulit unutuk aku benci, begitu susah untuk aku jauhi dan terlalu indah untuk aku lalui tanpa sebait tulisan tentangmu. Karena dirimu terlalu indah itulah yang membuat masih bertahan hingga saat ini.

Maafkan aku yang terlalu egois dengan rindu ini namun saat ini hanya itu yang bisa lakukan untuk mengisi waktu adamu. Berharap kau akan menjadi nyata itu permintaan terlalu sulit bagiku namun pastikan sejak kau torehkan namamu dalam hatiku, cerita akan selalu bila kau bertanya kelak hari nanti.

Hari ini aku masih melihat senyum yang sama darimu dan itu sudah cukup membuatku ingin mengabadikanya dalam sebuah tulisan indah hidupku.

Untukmu rindu yang terlupakan. “

#17. Goresan Lusuh

“…Tulisanku ini mungkin tak cukup untuk membuat kau percaya betapa rindu ini berkelana jauh menyita waktu dalam penatianku menunggumu. Aku tak berharap kau tersenyum membaca tulisanku ini karena tlah memuji indah dirimu dalam cerita panjang hidupku.

Aku juga tak memerlukan rasa ibamu meneteskan air mata karena telah membuatku menderita karena rindu kejam itu yang terlalu sendu mengiris hatiku.

Aku melakukan semua itu aku hanya ingin tunjukan satu kesalahan yang teramat besar dalam hidupmu karena tlah membiarkanku menesteskan air mata karena tulusnya perasaan ini untukmu dan membiarkanku pergi tanpa kau cegah dengan jawab pastimu menahanku…”

 #18. Kaum Pendusta

” Ingatkah kau ketika matahari mulai diterbit dipermukaan bumi ini, pagipun tunduk lembut dengan memberikan senyum khasnya dengan sajian kesejukan. Lihat juga pepohonan itu tak pernah berisik walau kadang hembusan angin melukai dirinya hingga daun yang lebat dan dahan yang kokoh terpisah oleh mereka yang tak bertanggungjawab hingga membuat mereka tak mampu berbuat apa yang seharusnya mereka lakukan untuk menahan bencana diatas bumi ini.

Coba saja kau lihat seisi alam semesta ini yang jelas tak sesempurna dikau yang diciptakan dengan kalimat indah oleh tuhanmu, namun mereka lebih indah dari dirimu yang tak pernah mendustakan tuhanNYA dalam hidup yang sudah jelas milikNYA.

Membiarkanmu berhias kesombongan dengan kebenaran yang sudah benar, kenapa harus tampil beda dalam kebaikan hingga baik menjadi kebaikan yang berujung keburukan yang tercatat dalam lembaran hidupmu. Kenapa kau ikuti kaum yang tlah binasa oleh tuhanmu padahal kau tlah mengerti jika mereka ditengelam diatas permukaan bumi karena ketidakpantasan hidup mereka mengucilkan diri dari tanggungjawab terhadap zat yang jelas penguasa jagad semesta ini.

Berhentilah dalam kepura-puraan benar bahkan salah karena waktumu tak lama berada disini, cepat atau lambat kau akan dipanggil unutuk ditanya atas tanggungjawab dalam menggunakan waktumu diatas bumi ini. Bersedia atau tidak semua akan berlaku sama, namun kebaikan sudah pasti akan menyelamtimu, keburukan sudah pasti kau akan memasuki sebuah ruang diantara mereka dan tak ada yang mampu untuk mencegahNYA karena dia penguasa yang kuasa atas hidup dan matimu…”

#19. Dengarkan Bisik Waktu

“…Berjalan dilorong lorong waktu yang mengantarkanku pada sebuah negeri para pengagum dosa. Terlihat samar tapi tingkah laku itu tak mampu menutupi kesalahan yang sama seperti kaum terdahulu yang ditinggalkan tuhannya dalam kehancuran.

Sempoyong berjalan yang mereka anggap keren dengan mata merah tak hiraukan waktu menikam kejam hingga tinta hitam tertulis dihadapanNYA atas ketidakwarasanmu menggunakan akal sehatmu. Berkelas vip materi yang kau sedekahkan pada dunia hitam yang membuat dirimu begitu dekat dengan pintu kemurkaan yang tertulis dalam Ayat ayat Tuhanmu.

Tak peduli tuhanmu dan tuhanku berbeda, namun jelas kau tlah menyalahkan kuasa tuhanmu dalam keburukanmu menggunakan waktu. Tak bisakah kau membaca, mendengar jika bisikan hatimu mengadu jauh akan keresahan hidupmu.

Atau memang pintu hatimu tlah tertutup rapat tanpa kau sadari dirimu tlah memasuki ruang rindu yang mengantarkanmu dalam bahaya yang begitu menakutkan…”

#20. Manusia Terpilih

“…Lihat pengagum cinta sejati itu yang begitu hangat senyumnya dalam menjalani hidupnya, tertulis atas nama tuhanNYa ia pertahankan mahligai bahagia itu disisa waktunya untuk mencintai sang pemilik hatinya dalam setia yang tak tergoyahkan akan hamparan nafsu dunia yang begitu menggebu. Beliau tetap saja begitu melakukan hal yang sama dibalik cahaya illahi dia bersandar dan tetap ada dalam dekapan kasih yang maha pengasih dan Dia adalah H.BJ. Habibie.

Lihat sang penyair itu yang telah mengsyiarkan ajaran rasulnya untuk mengubah dunia dalam kedamaian, ketentraman sepanjang masa dan harumnya goresan tanganya dapat menjadi tauladan bagi kehidupan dimuka bumi ini. Dan hingga saat ini masih saja namanya begitu harum dipandang dunia dan menjadi pengobat rindu dikala hati sedang resah dan gelisah dan dia adalah Jalalludin Rumi.

Tak jua kau paham, lihat mereka yang berjumlah 9 orang itu kesatria berjubah cahaya yang telah menerangi negeri ini untuk mengantarkanmu jalan kebenaran yang kini masih saja kau ragu akan apa yang telah dapat mereka. Tengok juga penyair itu yang begitu dikagumi dinegeri ini, dia penggerak na semangat dalam memerangi ketikadilan para penindas dan namanya dia tak pernah lekang oleh waktu, beliau adalah chairil Anwar.

Dan jika belum kau mengerti, lihat kedua orang tuqmu yang selau setia dalam kasih sayang lewat doa dia berikan untukmu dan lewat senyuman dia tuturkan petunjuk dan nasehat agar kau paham akan arti hidup yang kau jalani Aku bagian dari kalian yang sama dangkal akan arti hidup ini, tak mampunya aku menjadi seperti itu namun aku hanya menuliskan ini walapun tak seindah apa yang kau harapkan namun aku berharap dapat kau jadikan senyum dikala kau resah dan rindu dan pula menjadi pembuka jalan dikala kau tersesat dalam gelapnya dunia ini…”

#21. Hari Ini Bukan Esok

“…Jika terpaut dalam hatimu untuk berbagi, maka lakukan hari ini karena jika tidak mungkin esok kau tak bisa lagi menghabiskan waktumu dalam janji seperti hari ini. Jika kau merasa hari ini baik untuk melakukan kebaikan maka lakukanlah karena menunggu esok mungkin saja kau tlah berubah menjadi orang yang beda.

Jika terikat sebuah janji dalam perkara hidupmu, ada baiknya kau selesaikan hari karena jika menunggu esok mungkin saja mereka tlah sulit untuk kau temui. Jika hari ini kau merasa begitu bahagia bahkan sulit maka ingatlah tuhanmu karena bisa jadi hari ini untuk terakhir kali kau diberi untuk merasa hal itu diatas dunia ini.

Berpaling, menunda dan menunggu waktu yang tepat untuk bisa melakukan hal yang baik hanya akan melukai hatimu dan tuhanmu saja. Beranggapan kau akan masih bernafas esok hari itu kesempatan kecil yang bisa kau anggap bisa karena selebihnya kau tak akan mengetahuinya sedikitpun dariNYA. Jadi, berhentilah untuk mengeluh uari ini dan lakukan yang terbaik hari ini dan jangan menunggu esok karena bisa jadi hari esok kau tak berada diatas dunia lagi dan kau terlambat untuk melepas belenggu kelalaian dalam hidupmu.

Namun jika setiap waktu kau selalu dalam naunganNYA dan kau selalu ingin melakukan yang terbaik setiap nafas yang kau hirup niscaya kau hidup dalam keberuntungan akanNYA. Tetap semangat, selalu berpikiran positif dan capai dunia ini untuk modalmu di akhiratmu kelak…”

#22. Aku Dan Tuhanmu

“…Jangan bertanya kepadaku dimana tuhanmu berada karena aku sudah pasti kesulitan untuk menjawabnya karena hingga saat ini aku masih mencari dimana tuhanku. Sebenarnya kau lebih paham dariku akan tuhanmu itu namun hanya saja kau tak pernah mengaku dalam dirimu jika kau memiliki tuhan dalam hidupmu. Tak bisakah kau merasa jika tuhanmu ada, tak melihatkah dirimu jika tuhanmu selalu memberi dan tak kau dengarkah jawab dari mereka akan tuhan mereka begitu menyakinkan hati mereka hingga mereka merasa jika hidup dan mati mereka karena tuhan mereka.

Coba kau dengar suara panggilan itu, begitu dahsyat memanggilmu untuk berdiri sujud kepadaNYA. Coba kau buka lalu kau baca pedoman kitabmu dari tuhanmu yang tlah disampaikan oleh tauladamu terdahulu agar kau paham jika tuhanmu memang prncipta dirimu, mereka dan bumi seisinya. Atau pelajari apa yang tlah ia ciptakan diatas bumi agar kau mengerti diantara dua perkara yang baik dan mana yang buruk.

Jika kau masih bertanya lagi kenapa aku hanya diam saja tak bisa menjawab pertanyaanmu itu, maka boleh menatap dirimu sendiri dan pelajari apa yang ada pada dirimu sendiri. Seperti tanganmu mampu bergerak, seperti matamu yang mampu melihat, telingamu yang bisa mendengar dan hati dan pikiranmu yang terlalu sempurna untuk kau abaikan jika tuhanmulah yang memberi itu semua, masihkah kau bertanya atau ragu?.

Jika iya, coba kau tutup mulut dan hidungmu sesaat, mampukah kau bernafas, jika tidak alangkah kau sudah mengerti jika nafasmu hari salah satu nikmat tuhanmu yang tak mampu kau balas dengan kata kata. Namun masihkah kau anggap itu tak benar dan masihkah hanyut dalam kemurkaanNYA, sementara dirimu sendiri yang mendustakanNYA.

Banyak hal yang mampu mengantarkanmu kepada tuhanmu namun hanya saja kau tak pernah memberi kesempatan dan ruang dalam hidupmu hingga kau lalai dalam kesombongan, lunglai dalam nafsu dunia hingga kau mengtuhankan dunia yang jelas itu ciptaanNYA. Masihkah kau mencari tuhanmu?, padahal DIA selalu ada di setiap waktu hidupmu, tak pernah lelah menjagamu, mebgawasimu dan mengireksimu hingga kau benar benar tau jika DIA memang pantas kau sembah dalam sujud syukur hidup yang kau miliki.

#23. Tanya Saja Dirimu, Bukan Aku

Kadang aku terhanyut akan parasmu yang menggoda hati untuk berpaling jauh dari ruang tuhanku. Kadang pula aku tak mampu menepis seruan kandas pikiranku melihat wajahmu yang begitu menghancurkan hubunganku dengan tuhanku. Kadang pula aku gelisah ketika rindu itu menyapaku kejam hingga aku tak sadarkan diri jika aku dalam rindu yang salah terlalu berharap yang bukan penolongku.

Kenapa aku masih saja seperti hilang kendali terlalu berharap kepada hamba sahayaNYA seharusnya aku lebih sadar diri jika permintaanku tlah membuat tuhanku jauh dariku. Kenapa aku masih saja takut kehilangan sesuatu dariku, sepertinya aku sudah gila dunia. Jelas-jelas DIA penguasa semesta ini kenapa aku harus resah akan semua itu, diriku saja bisa hilang seketika jika DIA ingin berkehendak saat ini juga. Masih melakukan hal yang sama, kenapa aku terbuai hasutan dunia hingga aku begitu antusias mengejar keburukan sehingga cahayaNYA semakin memudar dalam alunan nada indah hidupku.

Kenapa aku belum sadar juga, perlu diberi tamparan cobaan lagi agar aku meminta kembali pengurangan hukuman dariNYA atau aku biarkan saja seperti ini agar dikit demi sedikit aku mengerti jika tak ada gunanya aku berharap kepada mereka sedangkan DIA tempat yang lebih baik dari seisi alam semesta ini.

#23. Singgahlah Sejenak Separuh Dari Waktumu

“…Coba kau lihat dirimu hari ini, begitu kusam nan jauh dari cahayaNYA, tidak inginkah membasuh wajahmu dengan ayatNYA agar sedikit tau jika kau masih punya tuhan. Jangan biarkan dirimu yang memberi batas kesanggupanmu mengarungi waktumu karena kau tak akan pernah sanggup membtasinya karena kuasaNYA Adakala kau harus mendengar, adakala kau harus diam, adakala kau harus bertanya dan ada waktunya kau harus menjawab karena dirimu bagian dari waktu mereka dalam jalinan kasihNYA bersilaturahmi.

Ada kala kau harus melihat kebawah melihat air mata disekelilingmu jangan biarkan kepalamu begitu segan untuk menunduk dalam kesombongan berakar kehati menjadi caci maki. Tak usak kau bersembunyi dibalik sandiwara kepolosanmu membenarkan apa yang sudah benar, kepura-puraanmu hanya akan membuat hati gelisah, cobalah berlaku dengan mukamu sendiri bukan orang lain. Kau begitu pandai memainkan peran angkuh dalam hidupmu, tak bisakah kau menjadi bagian dari peran itu agar kau paham betapa dirimu merasakan hal yang mereka rasakan.

Tak perlu kau merasa hebat dan merasa kuat dengan pujian dari mereka karena itu awal yang akan membuat dirimu lemah dimata tuhanmu dan kau akan melonjak menjadi manusia yang parah…”

#24. Karena Cinta Bukan Cinta

“…Tak Aku bayangkan perasaanmu ketika benih perasaan itu tumbuh subur dalam hatimu. Ketika rindu itu mulai menyapa merayapi pikiranmu dan mengalir deras dalam darahmu hingga menembus ke jantung hatimu hingga menggrrogoti sum- sum tulang kesadaramu hingga kau tak mampu berdiri dalam rasa rindu yang mengikat diri. Kau akan merasa menjadi orang yang beda ketika si dia ada dihadapamu, kau berusaha untuk tidak jadi diri sendiri, namun menutupi diri untuk tampil sesempuna mungkin agar dia yang kau tuju dapat tersenyum dibalik hal yang sama. Semakin waktu dirimu semakin berubah tak mampu mencegah jika cinta yang kau rasa memang cinta sesunggihnya.

Namun tak pernah kau sadari jika cinta itu tlah banyak membuat diromu berubah dalam hal yang buruk. Jika hatimu diterima oleh si dia kemungkinan besar kau akan menghadapi waktu yang celaka jika tak mampu kuasai dirimu ketika si berada tepat disampingmu. Pikiranmu sudah pasti akan kacau balau dan terungkaplah sebuah keinginan diri untuk minta itu dan ini.

Dan jika kasih tak sampai, sudah pasti hidupmu akan semakin sulit juga karena hidupmu seperti tak ada arah yang ada hanya rasa sakit begitu menguras hatimu hingga kau terpuruk dalam rasa rindu tak bertuan. Kenapa sich tak pernah kau pikirkan jika cinta yang kau punya belum cinta yang sesungguhnya. Cinta itu anugerah indah milikNYA, bahagia, nyaman dan masa depan yang akan membuat hidupmu penuh dengan cerita. Namun cinta malah membuat hidupmu tersiksa hingga menyiksa dirimu hingga kadang cinta kau ubah bukan pada tempatnya. Ada cinta bukan mengajarkanmu untuk merusak arti cinta itu dengan kesalahan itu.

Hadirnya cinta dalam hidup agar kau dapat merasa, mengerti dimana cinta seharusnya ada. Menderita karena cinta akan si dia sama saja kau tlah melukai pemilik cinta itu dan terpuruk akan cinta tak sampai sama saja kau tlah melarikan diri dari tuhanmu. Cinta dan kekuatan itu memang tak sanggup kau bendung ketika merasuki jiwamu hingga kau menjadikan sosok indamu itu melebihi dari keindahan tuhanmu sendiri. Jangan kau biarkan seperti iti karena hadirnya cinta bukan untuk membuat bahagia, menderita, merana, terluka bahkan air mata karena hadirnya cinta agar dapat merasakan hadirnya tuhan dalam hidipmu agar cinta yang kau punya dan kau rasa berada naunganNYA hingga kai bahagia bersama dia yang tlah terpilih dan halal bagimu…”

#25. Surat Kecil Untukmu Ya Robb

“…Padahal kau selalu memberiku kesempatan untuk memeluk erat hadirmu disepanjang waktu, namun entah kenapa aku masih saja lalai dalam hasutan duniawi yang begitu menindas kejam hingga menutup ajakan rindu kepadaMU.

Padahal kau tlah buka lebar- lebar pintu cahayamu itu untuk bisa aku berjalan dalam kebenaran yang benar namun masih saja aku sendiri yang pintu itu dalam kesalahan yang sama. Padahal kasihMU selalu kau pancarkan disetiap langkahku namun aku masih saja mencari kasih sesaatnya yang membuatku harus rela terluka oleh mereka.

Padahal kau telah memberiku luang dan ruang untuk bisa aku mampu berpikir tentang hidupku kenapa harus menyerah, kenapa harus menangis, kenapa harus resah namun tetap saja aku berpaling dari itu semua hingga rasa tak tenang hinggapi diri hingga fajar menjelang.

Kenapa tak kau tinggalkan saja diriku agar aku kehilangan dan berusaha untuk mencariMU hingga aku paham dan sadar jika engkau adalah hidipku dan matiku dan aku tak bisa apa-apa tanpa diriMU…”

#26. Dirimu Kuasa Tuhanku, Kenapa Aku Lemah?

“…Seandainya saja rasa takut akan tuhanku itu sudah lenyap dari denyut nadiku, mungkin sudah aku halalkan segala cara agar rindu yang aku rasa dapat menjadi berubah menjadi macan yang geram melihat seekor rusa didepanya. Seandainya saja tuhanku tak memberiku peringatan dalam hidupku, mungkin saja rasa yang aku rasa tentangmu telah aku tumpahkan dihadapanmu agar kau sadar betapa senyumu itu menghajar jiwaku hingga hingga babak belur menanggung rindu.

Tapi kadang masih saja tak mau tau akan hadirNYA disekelilingku hingga sesekali aku masih saja mencari peluang untuk menatapmu tajam hingga wajahmu membekas dalam bayang semu malamku. Tak bisakah kau bilang kepadaku saja agar mata ini membenci senyummu saja agar waktu dapat bernafas lega dan leluasa mengambil ruang untuk bisa berlari dari ruh penghiatan tuhanku itu. Ajarkanku untuk tak terpaku dalam kata memilih dan biarkanku menanti yang terpilih dariNYA agar dapat aku redam gejolak rindu hadirmu dalam waktuku.

Bilang saja dengan kasar kepadaku tentang rasa yang aku simpan dengan caci makimu agar aku berhenti memuji dalam sebuah puisi, agar aku tak dapat bercengkrama sepi dengan tulisan indah tentangmu. Bilang saja kau tak melihatku waktu itu agar hati ini tak memilihmu untuk bercerita mengadu asa dalam sebuah penantian yang keruh hingga aku tak mampu lagi melihat pantulan wajahmu disekitarku. Namun kau masih saja menggodaku hingga aku semakin melupakan tuhanku.

Aku berharap kepadamu seuntai kasih atas rindu yang aku jaga hingga aku terjaga kau masih saja berlaku sama membiarkanku bertahan sementara dirimu berkelana jauh dariku. Aku berharap namun sepertinya aku yang salah berharap kepadamu yang bukan tuhanku.

Menanggung rindu dengan perasaan polos ingin memilikmu ternyata aku hanya tersesat dalam sebuah perjalanan mimpi yang aku harap tuhanku menyadarkanku kembali. Indahmu aku akui tak tergantikan dalam goresan indah hidupku hingga senyumu hari ini, namun aku tersadar ketika perasaan ini ingin pecah dalam penampungan hati jika aku tlah menyalahkan aturanku yang terlalu memujimu, mengharapkanmu dan rasa ingin memilikimu.

Jadi maafkan aku jika aku berhenti saja memujimu, mengharapkanmu dan ingin memilikimu sejak hari itu. Aku tak ingin tuhanku murka karena menduakan kekuasaanNYA didalam hidupku.

Aku arahkan saja permintaanku ini kepada DIA yang jelad kuasa dalam semesta ini san termasuk dirimu DIA yang ciptakan dan jika sudah seperti kenapa aku harus meminta kepadamu untuk membalas semua perasaan ini?, Aku serahkan saja kepada DIA pemilik dirimu seutuhnya agar dia memilihmu dengan pilihan yang utuh pula…”

#27. “…Dikala aku hanya mampu diam tak menjawab, aku harap kau tak mempertanyakanya karena kelemahanku itu namun aku hanya ingin mencoba diam untuk dapat berpikir agar jawab yang aku utarakan tak menyakiti hati tuhanku agar DIA tak meninggalkanku lagi dalam keresahan yang teramat dalam. Jika suatu ketika aku tak menyapa pujianmu dengan senyum, aku harap kau tak menilaiku seperti mereka karena aku bertindak seperti ini, aku tak ingin hidup dengan pujian dunia, aku ingin mendapatkan pujian dari tuhanku saja. Bila kau menilaiku orang baik, maafkan aku jika aku menolak penilaianmu karena aku bukanlah orang yang pantas untuk dipuji karena pujian itu untuk tuhanku seharusnya kau lontarkan. Sapaku, ulahku dan tingkah lakuku mungkin pernah membuatmu terluka, maafkan aku tlah menyertaimu dalam tahap itu untuk aku belajar menemukan arti kesalahan dalam hidupku. Semoga kau tak lelah menolongku dalam memberiku pelajaran hidup seperti yang aku rasskan saat ini, semakin aku merasakan hal itu maka semakin mengerti jika aku memiliki tuhan…”

#28. Maafkan Rindu Jika Aku Memilih Robb-ku

“…Ketika rindu itu mulai menyapa, kegelisahanpun mulai mendekap dingin diseluruh tubuh ini. Kau seakan nyata dalam tingkat tertinggi dalam pikiranku kuasai lembah nurani hingga senyum itu semakin erat menggoda diri hingga menyatu dalam kasih yang semu.

Kata lelah dan menyerah sudah aku kirim lewat murkanya hati ingin membencimu saja, bukan karena aku takut tak mampu memikul beban rindu yang semakin mendalam ingin temukan pemiliknya dalam wujud nyata, namun aku sanggup hidup dalam perasaan yang membuatku menderita bukankah cinta itu bahagia bukan air mata. Bukan pula aku tak mampu membendung asa ketika perasaan ini memukul hingga terjatuh telak dalam perasaan tak sampai namun aku lebih sadar kembali ketika dia yang tlah mengisi ceritamu saat ini tersakiti dengan keberadaanku.

Kata cukuplah, biarlah, seandainya dalam diriku hudupku tak bisa memakai istilah itu karena apa yang aku rasa tentang rindu dan senyum itu tlah aku kembalikan kepada pemilikmu yang menguasai semesta ini.

Aku bukan tak ingin melihat senyummu dan hadirmu dalam hidupku, namun semakin aku mendekat menatapmuveenyum itu lagi seakan aku semakin jauh dari Robb-ku dan aku tak inhin dia meninggalkanku dalam kemurkaanNYA…”

#29. Titip Rindu Untuk Ibu

“…Saat ini aku merasa begitu kasar waktu datang menghantam pelepah-pelepah ragaku hingga tubuhku begitu terasa sulit untuk bergerak leluasa tak seperti ketika hadirmu, sapaan hangatmu selalu mengelilingi jiwa hingga aku selalu tersenyum lepas.

Jika kau bertanya kepadaku, apakah aku baik-baik saja sudah pasti aku akan tidak. Aku merasa sangat ingin bercerita didekatmu betapa saat ini aku hilang kendali akan dunia yang begitu kasar menjelma hingga rasa kesabaranku mulai menipis.

Hingga fajar menjelang hari ini, aku hampir saja pergi tanpa tujuan, namun aku teringat dirimu disaat ibu selalu memberiku paham dan nasehat agar aku selalu tegar menjalani hidup ini, apapun alasanya, ibu akan selalu merindukanku lewat doa disetiap helasn nafasku.

Maafkan aku yang sering lupa akan itu semua, namun aku akan berusaha seperti apa yang seharusnya aku lakukan agar aku bisa membuatmu tersenyum dikala aku kembali nanti. Saat ini hanya rindu yang selalu tersimpan dihati untuk membahagiakanmu.

Teriring doa dan semangat yang selalu kau berikan untukku, aku akan kembali disaat waktu itu tlah datang, jadi tunggu aku ditanjung menanti itu, ibu…”

#30. Aku dan Tulisan Lusuh Ini

“…Hingga hari ini, Aku masih saja melakukan hal ini, dimana pikiranku terbang jauh berkelana melintasi dunia milikNYA ini untuk mampu aku mencari celah inspirasi dalam sebuah karya lusuh seperti ini. Aku tak berharap kau akan tersenyum membaca tulisan yang aku rangkai ini dengan perkataan bagus, karena aku tak ingin menjadikan tulisan ini pembeda hingga berbeda diantara kita hingga jalinan silaturahmi renggang ditelan puji yang membuatku sombong nan jauh dari tuhanku.

Aku tak ingin kau terlena dengan apa yang aku tulis hingga gerak langkahmu terhenti tanpa bertindak sama sekali dalam hidupmu dan sudah pasti aku akan sangat merasa bersalah menuliskan ini. Aku menuliskan ini, hanya ingin membuatmu tersenyum dalam lelahnya hidup yang kau jalani. Betapa waktu tak bersahabat denganmu saat ini, dengan tulisan-tulisanku mungkin dapat memberimu jalan dan mendekatkamu pada kebenaran tuhanmu.

Tulisan ini mungkin terlalu sulit juga untuk kau mengerti dan itu sangat aku maklumi darimu karena tulisan ini memang begitu adanya, namun penilaianmu sangat berharga untukku hingga aku dapat belajar dan belajar kembali hingga suatu ketika aku tak mampu lagi menggerakan tanganku untuk menulis, maka tulisan ini dapat mengobati rasa rindu yang kau miliki. Satu kalimat mungkin terlalu sempit rasanya jika tidak dua kalimat, namun satu kalimat akan lebih bermakna jika didalamnya tersimpan sebuah makna yang bisa membuat mereka bernafas lega dalam senyum penuh semangat. Tuhanku tlah memberiku waktu untuk bebas bergerak dalam fana milikNYA ini.

jika aku hanya menghabiskan waktuku hanya untuk melamun dan khayal tingkat tinggi mungkin terlalu pendek rasanya waktuku untuk hidup diatas dunua ini. Tuhanku tlah mempersilakanku untuk berbuat apa saja dan tinggal memilih hal apa yang bisa dilakukan. Jika masih bisa melakukan hal yang baik kenapa aku harus turut serta dengan mereka yang tlah diusir dari surgaNYA itu.

Tulisan ini hanyalah bagian dari waktu di dunia ini, cepat atau lambat mungkin tulisan ini akan usang ditelan waktu namun satu hal yang tak pernah menghilang ialah senyummu hari ini membaca tulisanku yang akan memberiku bekal disaatku aku tak bisa membela diriku sendiri dialam yang berbeda. Jadi, menulislah dengan baik dan bijak penuh makna untuk hidupmu dan hidup mereka agar selalu tepat guna menjalani waktu akan kebenaranNYA dari sang maha benar”

#31. La Tahzan Innallaha Ma’ana (1)

“…Jika Hari ini mereka masih saja melampaui batas kesabaranmu hingga kau tak mampu lagi berkutik hingga hatimu begitu angkuh untuk membalasnya, maka ingatlah pada Robbmu, Dia akan meredam semua gundah hati yang kau rasa jika kau selalu berlindung kepadaNYA.

Jika permohonanmu kepada mereka menjadi alasan mereka untuk menolak hingga kau menyimpan dendam hingga padamkan aura kebenaran dalam hatimu maka ingatlah kepada Robbmu agar pintu hatimu tidak ditumbuhi semak belukar kerakusan akan dunia.

Jika hingga hari ini apa yang kau impikan, apa yang kau inginkan dan apa yang kau rasakan belum juga menjadi pengobat rindu hingga kau terperosok kejam menanggung itu semua, ingatlah selalu akan Robbmu karena hanya dia tempat mengadu karena segala seisi semesta ini dia yang punya, maka bersujudlah kepadaNYA.

Jika senyum bahagia itu masih saja tertahan lepas dari wajahmu karena rasa keluh mengeluh kekuranganmu menghinggapi dikelopak sendi kebebasamu untuk berkarya maka ingatlah kepadaNYA yang begitu indah mengujimu, memberimu cobasn, memberimu pelajaran agar kau paham jika dia memang tujuan dalam hidup ini.

Tak perlu malu, tak perlu kaku dan tak perlu ragu hingga merenggut dalam hidup yang kau jalani. Setiap orang akan memiliki jalan hidup yang berbeda tergantung bagaimana dia menempatkan Dirinya Dan TuhanNYA. Jika Semua dalam hidupmu kau selalu libatkan tuhanmu maka sudah pasti hidupmu akan berjalan dengan indah walaupun tidal hari ini namun jaminan bahagiamu akan kau dapatkan nanti dalam kebahagian yang tak terhingga.

Jadi tak perlu kau meneteskankan air mata karena duniamu begitu terasa sulit. jika memang tak tertahan lagi rasa gundah itu, kenapa tak kau teteskan saja air matamu dihadapan Robbmu dan itu jauh lebih baik karena Dialah tempatmu yang paling indah untuk mengadu…”

#32. Pesan Dari Sang Pemberi Pesan

“…Terdengar indan nan merdu Sang Penyair Al-qur’anMU antarkanku pada sebuah kerinduan yang mendalam hingga tenggelam teringat ketika tinta cita yang pernah aku goreskan dimasa kecilku.

Hingga tumbuh dewasa, goresan cita itu menjadi jawab ysng beda untukku padahal inginkan itu tergapai namun keberadaanku saat ini tlah membuktikan jika diri tak ditakdirkan menjadi bagian dari QoriMU. Namun ayat-ayatmu akan selalu aku kagumi bersanding merdu disetiap goresan kecilku agar aku dapat menjadi bagian dari mereka untuk menyampaikan pesan dariMU.

Tak terdengar memang, tak menyapa iya dan tak merdu sudah pasti tulisanku ini namun aku harap tulisanku ini dapat memberi mereka jalan menuju cahayaMU hingga mereka dapat melewati lorong-lorong dunia kegelapan menemui cahaya keberadaanMU ya Robb.

Sujud syukur atas karuniamu ini kepadaku dan izinkan aku untuk tetap berkarya hingga nanti seperti mereka yang gemar melantunkan ayat suci Al-Qur’anMU.

#33. Masihkah Kau Mengeluh?

” Lihat dirimu masih saja menyalahkan tuhanmu padahal dirimu lebih beruntung daripada mereka yang setiap waktu hanya mampu meneteskan air mata karena taraf hidup yang begitu mengiris hati. Lihat dirimu masih mampu menolak dan memilih makanan yang lezat sedangkan mereka diluar sana tak mampu untuk memilih bahkan menolak karena terlalu sulit ekonomi yang mereka jalani.

Lihat dirimu masih saja kalah dan lemah dengan wajah cantik tampan berhias jiwa raga utuh masih mampu berjalan lewati waktu dengan gembira namun mereka, begitu iri melihatmu bernuansa indah dengan parasmu itu tapi mereka lebih baik darimu karena mereka tak pernah minder dan menyerah dalam hidupnya.

Lihat dirimu masih bisa tidur dikasur empuk dan rumah yang nyaman tapi tak seperti mereka yang merasa dinginnya malam dan panasnya siang tak mereka hiraukan tapi mereka tak pernah mengeluh. Lihat dirimu masih saja segan menjalani pendidikanmu padahal orang tuamu memberi fasilitas yang mudah untuk kau memilih sekolah mana yang ingin kau pilih tapi tidak seperti mereka yang harus bersusah payah hanya ingin mengeyam pelajaran disekolah hingga mereka begitu rindu suasana sekolah jika itu tergapai tapi dirimu masih lalai hingga kau tergulai oleh peradaban zaman yang menaklukan masa depanmu. Kawan, dirimu terlalu mudah untuk menyerah, mengalah hingga lemah padahal dirimu begitu kuat untuk terus berjalan.

Mereka yang tidak memiliki waktu leluasa sepertimu tak pernah mereka bersanding dalam kesah itu seharusnya kau sadar dan bersyukur jika dirimu tlah menghabiskan waktu didunia ini dengan sesal yang akan kau temui dikemudian hari. Mulai hari aku harap dirimu tak lagi menggunakan waktu hanya untuk mengeluh karena terlalu pendek waktumu hanya untuk mengeluh. “

#34. ” Jangan larut dalam kesedihan karena harimu belum beruntung, ingatlah akan tuhanmu maka DIA akan menjadi pembimbingmu untuk lari dari keterpurukan itu, lalu mulailah bergerak meninggalkanya “

#35. ” Kebahagian dan kesuksesan hanya untuk mereka yang ingin bahagia dan sukses bukan terpuruk dalam lautan kemalasan “

#36. ” Jika aku hanya butiran debu dimata tuhanku yang tak memiliki kuasa atas semuanya dan kamu pun sama seperti aku, lalu kenapa kau mengtuhankan mereka dan dirimu sendiri “

#37. ” Cara tuhan mengasihimu dan aku itu berbeda tergantung bsgaimana kau menganggap itu sebagai kasih sayang tuhanmu “

#38. ” Jika kau bertanya kenapa mereka yang berbuat dosa begitu leluasa bergerak tanpa cobaan dan rintangan dari tuhanNYA bahkan teguran?, mungkin tuhan tlah meninggalkan mereka hingga tak peduli lagi dengan mereka atau agat mereka sadar dengan dosa itu lalu pergi mencari tuhanNYA “

#39. ” Bumi ini hancur bukan karena tuhan tlah marah kepada penghuninya namun bumi ini hancur karena penghuninya yang menghancurkanya, maka masihkah menyalahkan tuhanmu? “

#40. ” Aku dan mereka berada dibumi yang sama, namun aku berusaha untuk tidak melakukan hal yang sama karena aku takut ditempatkan pada tempat yang berbeda jika kembali kesisiNYA nanti “

#41. ” Ketika Aku menulis, seakan jemari ini bertasbih menyebut namaNYA untuk menyampaikan sebuah pesan kepada mereka agar kembali sujud kepadaNYA bukan ciptaanNYA “

#42. ” Aku bukanlah orang yang baik namun aku selalu berusaha untuk menjadi orang baik bukan dimatamu namun dihadapan Tuhanku ” ” Hidup kaya raya, memiliki istri cantik nan sholeha dan mati masuk surga. Jika kau bertanya seperti itu kepada semua orang sudah pasti mau namun aku akan bilang tidak karena ketiga dari itu jika tak sujud kepadaNYA itu percuma kau inginkan “

#43. ” Jangan bergurau dengan lisanmu sendiri karena bisa menjadi penghalang antara Kamu dan Tuhanmu ” ” Jangan bersedih untuk mereka yang tlah meninggalkanmu karena masih banyak mereka yang menunggumu yang akan datang menghapus air matamu hari ini “

#44. ” Ketika Aku Jatuh Cinta, Seakan Aku berada pada sebuah persinggahan dunia yang ditumbuhi rasa resah dan gelisah yang kering kerontang. Aku akan dihidangi hamparan rasa rindu yang mendalam hingga tenggelam dalam lautan seperti kaum Musa AS, dan aku tak akan biarkan rasa cinta itu menjauhkanku dari Robb-ku. Aku ingin rasa rindu itu nyata tanpa dusta seperti Tauladanku dan para sahabatnya yang menghiasi bintang dilangit dan keindahan semesta ini dan aku ingin menjadi bagian dari bintang dan keindahan itu yang mampu membuatmu ikut dalam perjalananku hingga temui sebuah persinggahan abadi yang begitu indah tak terkira bersama mereka manusia yang brruntung itu…”

#45. “…Karena Cinta Bukan Alasanku untuk Meninggalkan Robb-ku. Keindahan Cinta itu milikNYA dan kamu yang tersenyum manis hari ini bagian dari keindahan itu, kenapa aku tak menikmati keindahan CiptaanNYA itu…”

#46. ” Lihat Senyummu Hari Ini, Kau Terlalu dini untuk menyerah. Lihat Semangatmu hari ini, kau terlalu menyesal untuk tidak berkarya. Tak peduli alasanmu apa, waktumu terlalu pendek untuk sekedar diam dalam kemalasan. Jika mereka bisa tersenyum bahagia, kenapa kamu tidak bisa. Dunia ini terlalu sempit jika kau hanya bernafas dalam satu ruang dan terlalu luas jika kau tak mengsyukurinya. Jadi buat dirimu nyaman dengan apa yang ada dalam diri anda, kembangkan, jangan malu dan sang petunjuk jalan akan mengantarkanmu pada sebuah impian yang kau inginkan, Mulailah hari ini…”

#47. “…Semakin Ku menjauh semakin aku merasa kehilangan sesuatu dari dariku hingga rasa rindu itu semakin terasa begitu berat aku rasa hingga kadang suasana memaksaku untuk bertindak bodoh, namun semakin aku mendekat aku semakin terpuruk oleh pukulan telak ketidakmampuanku meredam ambisi menjadi solusi. Semakin aku membencimu semakin aku merasa begitu menderita hingga membuatku bertingkah seperti anak kecil, namun disaat aku merasa bahagia melihatmu aku merasa lebih sakit karena diri ini tak bisa ungkapkan perasaan itu. Aku seakan terhenti pada dua persimpangan yang sulit untuk aku pilih. Aku harap engkau dapat membantuku memilih jalan itu agar aku dapat berjalan leluasa melawan waktu hadirmu agar aku dapat berjalan tanpa derita dan air mata…”

#48. ” Padahal Engkau berada begitu dekat, namun entah kenapa aku begitu jauh. Padahal engkau selalu mengikutiku namun entah kenapa aku selalu saja menganggapmu tak ada hingga aku masih saja lalai akan perintah dan laranganMU. Padahal aku hidup dirumah bumi milikMU, namun entah kenapa aku masih saja ingkar hingga menukar baik menjadi dan tak aku pikirkan hingga aku terjerumus dalam jurang dosa yang sama. Padahal aku bernafas atas izinMU menghirup oxygen secara leluasa hingga lusa dan lusa aku masih saja berjanji untuk berubah dalam syukur akan nikmatMU, namun entah kenapa aku masih saja mengeluh hingga keruh dalam buaian dunia tak pandang kasihan. Kadang rasa manusiawiku melenyapkan hadirMU dalam waktuku hingga aku lupa akan prilakuku, lisanku dan perangaiku ternyata telah menyakiti hambaMU. Kadang pula aku bertingkah seakan penguasa dibumi milikMU ini hingga aku tlah mengtuhankan rasa rindu itu kepada diri mereka yang salah aku berharap padahal aku bisa hilang hingga kelar jika kau ambil kuasaku didunia ini dalam sekejap bahkan perdetik ataupun persecond kuasamu lebih dahsyat dari apa yang aku tau dan mereka. Aku harap dirimu tak lelah ya robb, dan dirimu juga tak membiarkanku ya Robb hidup dalam kerugian. Bimbinglah aku untuk selalu belajar untuk mengenalmu agar aku dapat belajar menjadi yang lebih baik lagi dalam bersyukur kepadamu…” 

#49. ” Satu bahasa tuhanku menunjukan kepadaku salah satu keindahan ciptaanNYA dimuka bumi ini adalah kamu. Kau terlalu indah untuk aku lewatkan dan aku abaikan, Jika aku mengabaikan berarti aku tlah berdusta pada anugerah tuhanku. Jadi, hadirnya dirimu sebuah anugerah buatku yang akan aku semai bait-bait keindahan didalamnya hingga aku bertemu pada sebuah persinggahan halal ridho Robb-ku…”

#50. ” Ternyata mengoreksi diri sendiri itu lebih sulit daripada menghafal kita suci, sementara mengoreksi orang lain itu semudah menghitung jemari “

#51.” Seberapa kuat musuh yang kau temukan dalam hidupmu, kau selalu berusaha untuk dapat mengalahkanya bahkan melewati kuasa tuhanmu sendiri, namun kau bertekuk lutut dengan dirimu sendiri, kau belum mampu mengalahkanya “ 

#52. ” Aku tak memiliki alasan lain ketika Robb-ku memberiku sebuah anugerah indah untuk merindukanmu hingga aku mencintaimu. Apapun yang kau berikan kepadaku luka sekalipun, aku tak akan membencimu karena Robb-ku tak pernah mengajarkan itu kepadaku karena disetiap apa yang DIA beri akan selalu tersimpan sebuah rahasia dibalik rahasia yang tentunya sangat bemakna bagiku yang patut aku syukuri bukan kesal karenaNYA…” 

#53. ” Kau yang ditinggalkan, kau yang terluka, kau yang sedih dan kau yang tersakiti. Tak perlu kau kumpulkan sejuta kerumitan itu dalam hidupmu, kau tetap saja masih memiliki tempat untuk mengatakan itu semua bahkan lebih baik jika kau selalu bernaung dalam pelukan tuhanmu, Jadi tak perlu lemah jika sesuatu yang inginkan belum tercapai dan tak perlu resah dan takut jika dirimu dikucilkan dari peradaban waktu mereka namun yang perlu kau tanam dalam diri dan hatimu adalah takutlah, lemahlah, resahlah seandainya tuhanmu tak memperdulikanmu lagi…” 

#54. Sampaikan Walaupun Satu Ayat

“…Tulisanku sebuah Pesan Indah Dari Tuhanku yang aku pelajari dari Tauladanku pembuka pintu dunia, bukan aku membanggakan ini semua hingga menjadi penghalang kebaikan itu, bukan!, Aku takut dipertanyakan tuhanku nanti untuk apa waktu yang aku jalani, lalu kenapa sesuatu yang baik tak pernah diberikan kepada orang lain, padahal aku bisa menulis walaupun tulisan kumuh seperti ini “ 

#55. Seorang Ibu

” Ibu, Seorang wanita yang tak akan pernah lelah merindukanmu, tak pernah lelah mendoakanmu, tak pernah lelah memperhatikanmu, tak pernah lelah memberimu kasih sayang dan tak pernah lelah menasehatimu walaupun dirinya lelah ditetap saja tampil sempurna untuk buah hatinya.

Cinta seorang ibu mengalahkan cinta yang paling indah sekalipun diatas dunia ini hingga Rosulpun berkata sedemikian indah untuk seorang ibu dan juga para sufi mengatakan hal yang sama.

Ridho tuhanmu tergantung juga pada ridho ibumu, betapa mulianya seorang ibu dihadapan tuhanmu, masihkah kau mengabaikan ibumu hingga berpaling jauh hingga ke negeri kehancuran.

Tak perlu kau berniat untuk membalas jasanya karena sudah pasti kau tak akan pernah mampu walaupun dengan bongkahan gunung emas. Kau cukup buat dia tersenyum dan bahagia hingga bakti kepadanya hanya itu yang sepatutnya kau lakukan.

Jika ada yang bertanya masih ada ibu yang tak pernah peduli dengan anaknya, maka yang maha tau akan mempertanyakan tanggungjawabnya suatu hari kelak

dan apapun alasanmu ibu tetaplah kehidupan bagimu “

#56. ” Kau Selalu ingin tampil sempurna dimata mereka namun tidak dihadapan Tuhanmu sendiri padahal DIA pemilik kesempurnaan itu, masihkah kau bertanya? “

#57. ” Kadang kita dihadapkan dengan pilihan sulit, waktu yang begitu berat untuk dilalui bukan karena tuhanmu tak menyayangimu namun karena DIA ingin kau tahu betapa cinta dan rindu diriNYA kepadamu hingga kamu mengadu semua resahmu itu kepadaNYA “ 

#58. ” Bahasa lain dari mengeluh dan menyerah itu seandainya, jikakalau, seumpama dan bila yang membuat dirimu hidup dalam ketidakpastian. Padahal Tuhan memiliki bahasa pasti kenapa tidak memakai bahasa tuhanmu saja “

#59. ” Tak perlu kau menilai seseorang dengan pikiranmu buruknya ataupun baiknya karena tuhanmu tlah mencatat itu semua. Kau hanya diminta untuk mengoreksi diri sendiri dan jika kau baik maka akan diberikan mereka yang memiliki catatan baik pula oleh tuhanmu dan begitupun sebaliknya. Jadi jangan menghalalkan yang bukan tugasmu dan mengambil kuasa tuhanmu lalu bersembunyi atas namaNYA padahal kau curang dalam memperlakukan dirimu sendiri…” 

#60. “…Jika kau masih bisa membayangkan bagaimana bentuk dan rupa tuhanmu seperti ini dan itu berarti kau masih mengtuhankan ciptaanNYA…”

#61.” Diam memang bukan jawaban terbaik tapi akan membuatmu jadi orang baik karena kau tau tak semua pertanyaan itu harus kau jawab dengan lisan tapi jawab dengan penuh pertimbangan agar tak menyakiti orang lain “ 

#62. Gaduh

” Senandung Rindu terhempas pecah membelah tembok alam kesadaran menjemput asa terguling lemah dalam tikar penggulung naluri berteriak. Rakus menguyam tebing penutup pintu perasa hingga terbelangah tak berpenghalang masuki ruang pertemuan lantang terlihat dalam kubangan berpenghuni nafsu.

Gelak tersudut jauh dilubang pipi, tawa pun segan melekat lama hingga wajah buram tak terlihat, kaku layu rindukan hujan menimpa. Lama tak berirama diujung risau bergejolak kacau seakan asa pengganti kuasa hingga gelap semakin mendekap kelam hingga jatuh dalam jurang ketidakpahaman.

Berdiri terlihat namun merasa jatuh, rasakan waktu begitu kejam menindas diri hingga berontak dalam jiwa berbalut emosi kau bunuh warasmu hingga kau tewas oleh amukan jantan duniawi. Tak cukup kuat kau melawan, jika kau bersanding dalam murka pemilikmu dan tak akan bisa kau pasrah jika kau masih berselimut ciptaNYA. “

#63. ” Tak perlu kau meminta maaf jika hatimu tak bisa memaafkan dirimu sendiri karena terasa akan percuma. Lisanmu boleh bicara maaf namun hatimu tak singkron dengan ucapmu itu sama saja kau mendustakan diri dan tuhanmu sendiri. Lebih baik kau memaafkan tanpa lisan namun hatimu telah memaafkan mereka yang pernah berbuat salah padamu itu jauh lebih baik, biarpun mereka tak melihat maafmu namun tuhanmu melihat ketulusanmu itu “ 

#64. Kamu?

“…Bersama Tuhanku, Aku lebih banyak Bercerita tentang kamu, Ya kamu. Kamu yang begitu sering aku utarakan kepada tuhanku. Tentang perasaan ini, tentang rindu itu dan tentang senyum yang pernah aku lihat hari itu.

Seperti malam ini dan sebelumnya, aku masih saja berlaku sama, dimana disetiap sudut kota aku pandangi yang tampak jelas hanya dirimu kokoh berdiri namun hanya semu.

Aku rasa bukan hal yang baik bagiku terlalu mengagumimu begitu jauh namun saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan agar aku dapat bertemu denganmu bersama tuhanku aku meminta agar aku dapat bercengkrama dalam resahnya hatiku menunggumu ada…”

#65. Tak bertiang

” Golang galing hingga terguling jalan hidupmu sempoyong tak terarah. Kakimu kaku, ragamu mati suri, jiwa hanyut dalam keresahan hingga mendesah terpaku dalam gonjang ganjing kejar dunia. PanggilanNYA kau anggap angin lalu yang sebentar saja hilang hingga menghilang kau acuhkan seruan itu seakan kau pemilik seruan itu. Lalu, lihat saja keajaiban yang salah menimpa padamu.

Hidup tapi tak bernyawa, bernyawa tapi tak bergerak pasti. Kau tampa seperti rumah tua yang kosong kumuh tak dihuni oleh bangsamu. Lihat dirimu, buram jelas tak ada tetesan mutiara tergandung didalamnya. Kau tampak pucat padahal kau tak sakit, kau sehat namun kau tak waras.

Kosong, jiwamu kehausan walaupun kau minum namun tak menggunakan akalmu namun yang teguk racun pemusnah cahayaNYA. Kau kelihatan lapar padahal kau makan namun bukan makan yang milikmu namun jatah orang lain.

Seberapa lama lagi kau berdiri disana, jika kau tak beranjak maka kau akan kehabisan waktu untuk bersujud kepadaNYA atau kau ingin tenggelam saja bersama kaum yang ditenggelamkan seperti lakumu saat ini. “

#66. Sang penguasa yang berkuasa

” Terasa jauh tapi DIA dekat, terasa dekat tapi tak terlihat namun dia Ada menyatu dalam diri. Berlari kencang DIA menunggumu didepan, dibelakang, disamping, dan dimana-mana menyatu seperti tiupan angin yang tak mampu kau hitung. Kau bersembunyi sedangkan DIA pemilik ruang itu bagaimana kau tak terlihat.

Kau mengadu, DIA penguasa semesta ini lalu mau kemana lagi kau pergi, semua milikNYA. Masihkah kau tegakan kepalamu hingga tak pernah kau menoleh kebawah.

Masihkah kau kekar dalam kuasa tihamu hingga kau habisi waktu hanya untuk menindas dan memperkosa hak orang lain sementara DIA bisa saja menurunkan pangkatmu serendah- rendahnya dari kaum yang pernah dia tenggelamkan dimuka bumi ini. “

#67. Teriak Naluri

” Terasa sesak hingga terisak tangis dalam hati menahan gempuran rindu menjamu kadang ia tak segan begitu kasar menindas nyata dalam waktu.

Mahkluk macam apa kau ini hingga aku tak mampu menjelaskan pada diri hingga menyendiri lepas kendali dalam tanya. Aku melihat sosokmu namun aku merasa begitu jauh namun ketika aku mencoba mendekat dirimu menghilang dalam resah aku bersimpuh.

Mungkinkah kau ada atau hanya sebatas bayang dan emosiku yang menjadi pelindungmu untuk ada. “

#68. Coba Aku Adalah Kamu

” Dibalik senyummu aku bersembunyi kelam hingga tenggelam dalam sebuah rindu tanpa kaki tanpa tangan hingga angan menjadi biang perantara ketidaksanggupanku mengubah lara menjadi nyata.

Merangkak diam lalu berdiri hingga berlari kencang tak sadarkan diri namun bayangmu tlah menyatu pekat dalam laju waktu terasa percuma saja aku menjadi bunglon nyaru sementara roh bayangmu secara leluasa menguasai diri hingga bertekuk lutut lagi tanpa kau bertanya satu jawab dariku.

Tak bisakah kau melihatku sejenak atau sekedar menoleh risau kedalam telaga kacaunya diri karena sorotan tajam matamu hingga menembus jantung hatiku tanpa perantara menginap sepi tanpa ragu.

Mati saja tidak, hampir mati tlah menjadi menuku saat ini ketika kau racik bumbu rindu itu menjadi sedap terasa. Racikanmu aku anggap sedap namun kau tak pernah bertanya setelahnya hingga aku mati rasa untuk mencicipi rasa yang lain…” 

#69. Semu

” Padahal kita berada diruang dan waktu yang sama, namun entah kenapa aku merasa begitu jauh. Padahal kau selalu ada namun entah kenapa aku merasa begitu merindukanmu hingga sikap tak mencerminkan diriku sendiri. Padahal senyummu selalu indah menyertaiku namun entah kenapa aku merasa indahmu tak mampu aku raih.

Padahal kau tampak begitu bahagia namun entah kenapa aku begitu menderita melihatmu. Kenapa harus berbeda hingga kesanggupanku menghilang hingga mendulang kecaman dalam diri. Atau memang itu adanya hingga emosi kadang membuatku jenuh hingga penuh dalam waktu bernaung nafsu “ 

#70.Kamu Itu Indah

“…Mengagumimu caraku bersyukur kepada Robb-ku jika dirimu terlalu indah untuk aku lewatkan begitu saja tanpa kata, tanpa rasa menjelma sebuah cerita.

Kau senyum begitu saja tlah membuatku bahagia, bahagia atas semua yang Robb- ku tunjukan kepadaku jika mahluk indah itu bernama kamu, ya kamu yang saat ini tepat dihadapanku.

Tak akan kubiarkan kau berlalu begitu saja paling tidak aku sempat menuliskan sebuah kata tentangmu agar aku dapat bercerita kepada mereka jika aku pernah bertemu dengan sosok indah sepertimu…” 

#71. Ibu, Aku Sangat Merindukanmu

  • Ibu : Nak, Apakah keadaanmu saat ini baik-baik saja disana?
  • Aku : tidak, keadaanku begitu sulit saat ini dan ingin rasanya aku menangis sejadi- jadinya dipangkuanmu akan aku rasakan saat ini.

Ingin kutumpahkan segala resah dan gelisah ini dihadapanmu hingga aku terlelap dalam nasehat darimu. Ibu, Tanpamu aku tak bisa melewati waktuku dengan baik, begitu berat untuk aku jalani hanya doamu yang masih membuatku bertahan disini. Bertahan demi sebuah cita-cita yang saat ini masih kujalani. Ibu, aku harap kau disana dalam keadaan baik agar aku bisa membuatmu tersenyum kelak nanti, jadi tunggu aku kembali membawa senyum dan bahagiamu itu.

I miss you mom..”

#72. Derai menderai

” Semakin kudekat semakin kuterikat jauh dalam lingkaran waktu membunuh waktu ketidaksadaraku hingga tenggelam dalam harap hingga karam. Bilaku menjauh tak melihat sama sekali tatapan tajam pewaris tahta kerinduan yang menjulang tinggi dalam tembok waktuku.

Kau segaja memaksa tampakan gemelut ayumu manjamu hingga aku kembali jatuh dalam rasa yang sama berseragam pilu membelah naluri dalam kesombonganmu mengabaikanku.

Kau mendera dalam ketidaksangupanku menghadang laju emosiku mengoyak kejam dalam gemuruh api cemburu menampar jelas pipiku.

Tak jerakah kau menyatu dalam anganku hingga kau berlaga ada dalam situasi jurang hidupku namun setelah aku bersusah payah untuk mengaku kau memilih diam tanpa kalah. “

#73. Dekapan Rindu

“…Tuhanku tlah mempertemukan aku dengan peracik waktu menjadi sebuah rindu tiada henti. Walaupun aku anggap itu tak mungkin dan campakan hati yang terkesima oleh senyummu itu, namun tetap saja rohku tak mampu bertahan lama untuk menghindari kelakuan bayangmu yang mendekam kelam jiwaku. Jelas kau ada, apakah aku harus berteriak histeris lantunkan ayat rindu dihati betapa lelahnya aku menanggung tanya dalam hati hingga terpuruk dalam ketiadaan makna.

Jelas aku menderita, sementara kau masih saja bertingkah sama mengumbar senyum yang membuat aku susah bernafas lega. seakan kau seperti penulis skenario yang begitu enggan menampakan diri dalam alam nyataku hingga kau buat aku mencari dan selalu alasan lain untuk dapat bertemu denganmu.

Bagaimana aku bisa lepas darimu sementara syair yang kau tulis itu telah melekat dalam buku harianku dan bagaimana aku bisa merelakan tulisan itu hilang sementara aku sendiri pengemar beratmu. Hanya saja aku tak mampu lagi untuk membacanya dengan jelas karena mataku telah tertutup dengan deraian air mata hingga tanpa aku sadari tinta tulisamu melebur pekat lalu perlahan kau menghilang walaupun aku berusaha untuk merangkainya lagi sudah pasti itu tak akan pernah sama. “

#74. Karena Rindu, Aku menghindar

” Bukan karena aku tak sanggup memberi penjelasan tentang pertanyaanmu itu namun saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan, menjauh lalu membiarkan perasaan ini mencabik-cabik kasar hingga aku lumpuh dalam ketidakberdayaanku meraihmu.

Bukan pula karena kau tak pernah tau akan rasa yang kurasa hingga emosiku semakin membakar hati lalu ku bersembunyi dibalik keangkuhan ungkapkan saja namun menatapmu saja aku tak sulit bagaimana aku bisa lisan ini berkata tentang namamu yang selalu aku sebut dalam alunan indah doaku.

Bukan karena aku pecundang, namun aku mewakili mereka yang begitu mencintai cinta tanpa harus melukai cinta itu sendiri dan aku harap kau tak bertanya lagi karena sudah pasti aku akan sulit untuk menjawabnya lagi dan aku harap kau tak lagi singgah lagi dalam waktuku karena jika kau melakukan itu lagi aku harus cari tempat mana lagi?. “

#75. Tunggu Sejenak

” Jangan pergi, ku harap kau menungguku sejenak waktu dan aku akan segera datang menghapus risau dan lelahmu menantiku. Saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan, mengasah diri dan masa depanku agar bisa merangkai misi untuk bisa menjadikanmu halal atas nama Robb-ku.

Bilapun aku tak mampu datang pada saat itu membawa misi itu, aku pastikan bahagia itu akan selalu menyertaimu karena setiap waktuku namamu selalu tertera dalam bait doaku kepadaNYA agar kau bertemu dengan dia yang menjadi doamu setiap kau meminta. 

#76. Coretan kecil tentang Rindu

” Aku tlah mencoba untuk menghindar lalu membuang rasa rindu itu hingga jauh namun semakin aku menghindar dan menjauh, rasa itu semakin memburuku pasti berkecambuk garang dalam waktuku. Hingga mata ini terpejam, kau pun masih saja bergelut manja dalam alam mimpiku.

Lalu kenapa kau hanya diam saja seakan kau segaja membiarkanku tumbuh layu tanpa kau singgah sejenak untuk sekedar memberiku setetes kesejukan untuk mampu ku bernafas.

Atau memang hadirmu hanya sebuah perantara dari Robb-ku agar aku belajar bersyukur atas nikmat yang DIA diberikan hingga kelak nanti aku dipertemukan dengan dia yang kini masih asing bagiku.

Jika begitu adanya, akan aku jalani hari ini hingga nanti itu, walaupun aku rasa tak sanggup memandang senyum manjamu setiap hari tapi saat ini jalan inilah yang bisa aku tempuh saat ini dan aku harap kau tak merasa risih dengan tingkah laku karena saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan. “

#77. ” Dan janganlah kau berburuk sangka terhadap keputusan tuhanmu ketika sesuatu yang kau harapkan, yang kau inginkan belum terjawab karena Boleh jadi kamu menyukai sesuatu pada hal itu buruk bagimu dan tuhanmu tak memperlihatkan kepadamu agar kau tak terluka karenanya “

#78. Sesak

“Ramai kau bilang, bagiku itu sepi.

Bahagia bagimu, itu sulit bagiku.

Bagaimana aku bisa berlaku sama sepertimu, bernafas saja sulit bagiku. Coba kau tengok dataran wajah kusam ini berselimut kain hitam tak berwarna.

Apakah kau tak ingin bertanya, kenapa aku tak mampu mengubah warna itu menjadi cerah?, atau sedikit memukul pundaku agar aku sadar jika aku masih terlelap mimpi tentangmu.

Kenapa kau tampakan taman bunga yang begitu indah kepadaku namun ketika aku mendekatinya aku terhalang oleh pagar besi yang begitu kokoh.

Seakan hanya boleh minikmati keindahanmu saja, memandangmu, menatapmu namun aku tak mampu untuk meraihmu.

Terlalu sulitkah kau rasa, terlalu jauhkah kau ada hingga kau hanya diperbolehkan merindukanmu saja sementara untuk singgah sejenak saja tak ada tempat untukku berlabuh. Hingga hari itu kau hadir, aku bersusah payah hingga kalah menepati janji hati untuk kau nyata bukan sekedar ada.

Mencoba bukan hal pertama untuk aku lakukan, namun tingginya jurang pemisah membuatku sulit untuk ungkapkan keluh kesah itu. Namun dibalik alam sadarku itu, aku masih ingat dengan tuhanku dan hingga saat ini hanya DIA yang mampu meredam aliran air mataku, mengadu, betapa aku sangat menderita menanggung rindu atas namamu. “

 

MASCHUN SOFWAN

 


TAGS