Cherumu.com

Cerpen : Dinding Kaca

11 Jan 2017 - 08:38 WIB
fiksi, cerpen /   Maschun Sofwan 0 Comments

Aku tak menyesal sedikitpun dengan apa yang aku rasa saat ini dan apa yang telah aku tanamkan dalam hatiku tentangmu. Tak jua aku anggap hadirmu sebagai hal yang buruk bagiku dan jauh dari kata murka jiwaku kepadamu jika aku telah berusaha untuk membencimu saja karena aku begitu sangat mencintaimu bahkan hingga hari ini dimana perasaan masih sama dan aku masih mampu melihatmu dengan nyata hadir dihadapanku dengan senyum khas yang pernah kau tampakan ketika kau pertama kali hadir ada disini.

Aku sering bertanya kepada diriku sendiri, Ada apa dengan perasaanku ini, kenapa aku begitu sangat ingin pergi jauh darinya, kenapa aku begitu ingin dekat dengannya, kenapa aku ingin sekali membencinya dan kenapa aku begitu ingin arah besar kepadanya padahal aku tak bisa melakukan apa-apa kepadanya. Jangan kan untuk melakukan itu semua, bertutur sapa saja aku belum tentu bisa melakukan dengan baik ketika mata indah itu datang menghampiriku. Aku selalu saja diam sebagai benda mati, tak bisa berkutik ketika dia berada didekatku, aku begitu sulit bernafas rasanya ketika senyum itu merasuki pikiranku hingga membawa pergi kea lam indah yang belum pernah aku singgahi sebelumnya.

Tak sebentarnya rasanya aku selalu melakukan hal yang sama, setiap hari ketika aku melihatnya aku masih saja terbujur kaku tak seperti tak bernyawa saja. Apakah aku terbius wajahnya yang begitu menyinari kehidupan yang pernah kelam ditelan dusta menyelimuti cerita hidupku atau memang aku nya saja yang mampu menepis wajah indah itu dengan baik sehingga aku melupakan wujud sadarku. Entah berapa banyak lagi lembaran kertas yang mampu menampung resah dan gelisah rindu yang setiap malam menyerangku. Entah berapa banyak lagi kata yang harus aku pakai untuk bisa membayagkan dalam sebuah puisi yang aku tuliskan tentangnya. Hingga saat ini pun aku masih saja melakukan hal yang sama dimana jemariku masih lihai merangkai kata demi kata untuk mengenangnya dalam sebuah ungkapan rasa hatiku untuknya jika sangat mencintainya.

Entah berapa waktu juga yang bisa aku habiskan untuk mencintainya dalam diam, dalam mimpi dan dalam bayang angan-angan yang tak pernah aku ungkapkan. Seandanya saja aku mampu melakukan hal bisa membuatku bahagia mungkin aku akan melakukan melakukannya, namun seperti untuk dia, aku tak akan melakukannya walaupun aku sangat mencitainya karena aku sangat sadar dan memahami bagaimana kondisi dan posisi aku dan dia saat ini. Aku boleh bilang tak ada yang tak mungkin terjadi dalam dunia ini jika kita berusaha dengan baik, Namun dalam tahap rasa ini bukan aku tidak mau melakukannya karena aku sangat tidak ingin dia mengetahui jika sangat mencintainya karena perbedaan itu rasanya begitu jauh.

Aku dan dia memang berada pada waktu dan tempat yang sama namun aku merasa begitu jauh ketika aku melihatnya tersenyum. Akan ada seseorang yang lebih pantas rasanya mendapatkan senyum itu dan lebih berhak memilikinya daripada aku yang hanya mampu memberinya tetesan air mata ketika aku tak akan mampu membuatnya tersenyum seperti yang kau lihat itu. Aku bahagia, sangat bahagia karena aku sadar bahagia bukan saja tentang apa yang dapat miliki dengan perjuangan yang gigih, namun bahagia itu kadang harus terluka juga sebelum bahagia yang sesungguhnya datang untuk kita miliki. Aku sangat mengenalnya dengan baik dan aku harap apa yang aku berikan dan apa yang aku tuliskan tentangnya tak jauh berbeda dengan dirinya walaupun aku tak mengetahuinya secara utuh namun aku yakin dia adalah wanita yang baik dan soleha.

Bagiku, kau ciptaanNYA yang luar biasa yang pernah DIA tunjukan kepadaku dan aku beruntung bisa bertemu dan mengenalimu hingga aku memiliki rasa ini kepadamu. Terima kasih atas kehdiranmu yang pernah mengubah hidupku saat itu menjadi lebih baik dan aku tak akan mengenang itu semua dalam hidupku. Walaupun nanti ada seseorang mengisi ruang dalam hatiku, aku pastikan, dirimu akan selalu ada di dinding kaca cerita indah kehidupanku.


TAGS   fiksi /