Cherumu.com

Cerpen : E-KTP, E-Di Korupsi Juga!

15 Mar 2017 - 08:52 WIB
Peristiwa /   Maschun Sofwan 0 Comments
<

Dalam keramaian kau bersikap begitu angun penuh sopan santun bertahta bijaksana dan berwibawa, dalam sumpah kau berjanji akan menjauhi diri untuk berdusta dalam amanat atas nama tuhanmu dan juga atas tanggungjawabmu kepada kami rakyat pelipur lara hatimu. Kau begitu lantang berteriak dalam sumpah janji dipanyungi kitab suci pedoman hidupmu namun belum juga bibirmu kering akan sumpah itu, kau telah berkata dalam hati jika kesempatan ini tak datang kedua kali kau berada dalama jabatan ini sehingga berbagai gejolak datang menghampiri diri untuk mendustai apa yang telah kau ucapkan di depan tuhan dan kami yang mendengarkanmu, mengharapkanmu menjadi penegak panji kebenaran dan kejujuran dalam negeri ini.

Rasanya begitu sulit kau meredam hati untuk tidak berkhianat kepada kami yang terlanjur mencintai visi dan misimu dan percaya kepadamu sebagai seseorang yang akan membawa kami ke dalam negeri sejahtera berlambang kejujuran hati sehingga kami tak merasa heran jika suara kami memang pantas kami berikan kepadamu. Namun jerih payah kami rasanya tinggal kenangan saja dalam dirimu, seakan suara baik kami hanya menjadi alat untuk kau berbuat tak sewajarnya dala negeri ini sehingga kami pun terkena dampak dosa dari perbuatan curangmu itu. Apakah begitu sulit ya mencari seseorang di negeri ini yang berparas jujur lalu berikan kami kepastian akan Tanya kesehateraan dimana hingga saat ini kami makin terpuruk dalam dusta yang tak berujung menghilang.

Kami disini selalu berharap apa yang telah menjadi tugas kami sebagai rakyatmu, namun kau seakan tak pernah mendengar dan peduli apa arti kami dibalik jas hitam yang aku pakai, dan kami seakan tak akan pernah ada dibalik sukses yang kau miliki saat ini. Kau begitu rajin mencuri perhatian kami dengan ulah yang membuat kami jijik akan keberadaanmu dalam negeri ini. Kenapa kau tak pergi saja, pergi ke tempat yang memberimu penjelasan akan kata salah dan dosa dalam kehidupan yang kau perbuat dalam negeri ini. Kenapa kau tak mengerti apa yang telah kau kerjakan memeras tubuh payah kami, memeras lelah kami dalam memberi apresiasi untuk membangun negeri ini, namun cucur peluh kami kau jadikan bahan penenang dalam penindasan yang tak pernah merasa bosan kau melakukannya.

Lihat saja, lihat saat ini tentang apa lagi yang terjadi. Kartu tanda penduduk yang merupakan identitas dari kami agar terbukti ada dalam negeri juga ingin kau hilangkan begitu saja dari kami. Seakan kau sendiri yang ingin hidup dalam negeri ini sehingga kami tak perlu memiliki apa-apa lagi dalam negeri bahkan hanya sepotong kertas juga kau makan dengan lahap tanpa pikir yang merasa bersalah. Apa lagi, apa lagi yang kami punya saat ini, apalagi yang kami harapkan saat ini sementara tempat yang ingin kami tuju selalu menjadi tempat yang tak dapat kau jadikan alasan jika kau memang patut kami turuti dan teladani sebagai jiwa yang memang benar-benar seorang pemimpin untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera.

Jangan salahkan kami jika kami tak lagi merasa kagum dan heran kenapa kami bersikap diam saja saat ini dan jangan pernah bertanya kenapa kami tak lagi memberimu nasehat agar kau berhenti untuk berbuat sedemikian itu di atas penderitaan kami karena sebelum itu kau selidiki dari kami, lihat dirimu saja yang tak pernah merasa kenyang duduk manis diatas gelisah dan air mata siang bahkan malam mengharap sesuatu yang tak pernah menjadi nyata dari tugasmu yang memang berhak memperhatikan keberadaan kami untuk mencapai harapan dan cita-cita yang pernah di amanatkan oleh penegak negeri ini dulu.

Dalalm kenyataan yang ada, kini tak pernah lagi terdengar merdu bagaikan nyayian syahdu dalam hati setiap kau yang duduk diatas sana, yang ada dalam harimu oenuh warna ingin merampas harta yang kami bangun dari jerih payah kami dalam membayar ini dan itu dalam negeri ini namun setelah itu ada, maka menghilang tanpa bekas, tanpa tahu kemana uang itu berada dan siapa yang telah membawanya pergi. Ketika semua terungkap, maka saling bertanya, saling membela diri dan saling menutup mata seakan kaulah orang yang tak pernah melakukan itu dalam negeri ini padahal kau kepala geng yang pernah berdiri diatas mahkota kerakusan akan kekayaan negeri ini kau curi. Jika semua tertera nama satu persatu, maka kau mulai panggil pelindungmu, panggil penutup aibmu dengan mengalihkan pandangan kami agar kau tak tercium dari kesalahan itu secara mutlak sehingga pada era yang lain kau kembali ada untuk memeras kami dengan nyata.

Kami memang tak mengerti dengan dunia politik, sekejam apapun itu kau buat, kami tak mengerti apa yang sedang kau bangun disana. Namun kami hanya berharap satu tujuan secara bersama, tolong jangan habisi kami dengan tipu dayamu itu. Jangan habisi negeri ini atas dasar kepentingan pribadimu dan jangan biarkan kami mati kelaparan dalam negeri yang kaya raya ini.


TAGS   peristiwa /