CHERUMU.COM

Semu Dalam Rindu

17 Mar 2017 - 10:34 WIB
fiksi, cerpen /   Maschun Sofwan 0 Comments

Untukmu Seorang wanita pemilik senyum purnama. Engkau hadir atas nama cinta, Ketika kau berjalan seakan waktu terhenti untuk berputar, ketika kau tersenyum seakan bumi terhenti memutari matahari dan ketika kau menatap seakan rindu menjadi mimpi tercipta disetiap mata yang memandang. Tak dapat aku tepis naluriku berkata, jika kau kesempurnaan yang pernah ada dan belum pernah aku temukan dalam dunia ini sebelumnya dan kini kau tampakan itu kepadaku. Aku ucapkan dalam sujud syukurku kepada keangunganmu ya Robb Telah memberiku kesempatan untuk melihat, memandang, dan bertemu dengan ciptaan indahmu ini dan aku pastikan tak akan pernah aku jadikan alasan untuk diri berkata tak adil atas nikmat yang kau berikan di dunia ini dan jika pun nanti hadirnya hanya meninggalkan luka dalam hatiku, maka tak akan aku biarkan bumi hancur karena kebencianku kepada cinta.

www.pexels.com

Aku pastikan juga kepadamu Ya Robb, Jika aku tak akan pernah menyalahkan waktu hadirnya dalam hidupku, jika pun ketiadaan yang aku dapatkan darinya, aku pastikan jika aku sangat merasa bahagia, bahagia karena cinta yang begitu tulus yang tertanam dalam hati memuji ciptaanmu ini dalam hidupku.

“ Wahai cinta yang tumbuh dari roh para pecinta puisi keindahan pemilik bumi

Terangkai kata bukan untuk memuji Terungkap kalimat bukan untuk memuja

Dia tercipta ingin berlalu jujur Jika dirimu memang pantas mendapatkan perlakuan indah itu “

Kehadiranmu, aku tak pernah berpikir akan selamanya ataupun akan pergi dan kehadiranmu tak pernah membuatku merasa segan untuk berkarya dalam sebuah alasan hati yang pasti, pasti akan indah pada waktunya nanti. Rasanya diri ini tak pernah merasa lelah ketika jemari ini bekerja singkron dengan imajinasiku yang selalu terisi penuh namamu hadir di dalamnya. Tak dapat aku lenyapkan kata indah bergelimang rindu ketika pikirku tertuju jelas atas senyummu wahai engaku senyum purnama di balik kerudung rindu yang menyinari gelap malamku seakan menjadi siang dan siang aku rasa tak mau pergi agar aku dapat melihat hadirmu setiap saat dalam hariku.

Aku harap kau tak merasa bosan untuk selalu tersenyum seperti saat ini aku melihatnya. Terlalu cepat saja jika aku lukiskan purnama dengan kata indah saja, paling tidak dari senyummu, aku dapat sebuah bukti jika senyummu memang pantas aku abadikan dalam keindahan kalimat yang pernah sang penyair tuliskan di singgasana cinta, walaupun itu tak pasti jika kau akan selalu tersenyum seperti ini lagi nanti ku lihat ada, namun aku merasa hadirmu akan selalu ada, ada disetiap keindahan yang aku lihat di dunia ini.

“ Ketiadaan mungkin akan tercipta jika hati tak pandai mereda

Namun kemungkinan akan selalu tercipta jika hati tak berdusta

Hanya saja diri tak kuasa, menahan janji yang kadang berkata Berkata harap hingga melahirkan luka “

Jikapun keindahan itu tak dapat aku jadikan ada dalam waktuku, namun kehadiranmu akan selalu tercipta indah aku rasa ada disetiap waktukku. Tak peduli siapapun yang mengisi jalan hidupku kelak dan tak peduli betapa perihnya luka yang aku tanggung ketika aku harus melepasmu pergi dan tak peduli berapapun waktu yang aku habsikan hanya untuk bertahan atas cinta yang aku berikan untukmu, yang pasti dirimu akan selalu terjaga dalam keindahan cinta yang pernah aku dapatkan dalam hidupku dan cinta itu akan selalu berada pada sebuah tempat tersendiri dalam hatiku. Aku akan menikmati bahagia saat ini ketika aku masih mampu melihat keberadaanmu dalam waktukku.

Tak peduli sampai kapan aku bisa melakukan ini, namun aku pastikan jika aku tak akan membiarkan waktu membuatku berlalu jemu kepadamu wahai engkau wanita pemiliki senyum purnama dibalik kerudung rindu dia menyinari dunia disetiap keresahan yang ada. Dan saat ini, senyum itu sedang berada tepat di hadapanku. Bagaimana bisa aku beranjak pergi penuh caci maki, yang ada hanya sekuntum rindu yang melekat dalam sanubari. Jadi jangan berhenti untuk tersenyum, tersenyumlah selalu seperti ini agar dunia tak murung.


TAGS   cerpen /