Cherumu.com

Puisi : Wajah Penanti Keadilan Dari Tuhan

17 Apr 2017 - 08:31 WIB
fiksi, cerpen /   Maschun Sofwan 0 Comments

“ Lihat mereka,

Mereka yang terlihat gagah dalam ulah namun tak mau dibilang kalah, terlihat wibawa dalam ucap namun tak mau mengungkap tabir kebenaran dan terlihat ramah dalam tindak hasut membalikan fakta namun tak bernyali untuk datang menghadap.

Lihat mereka,

Para wajah pelupa, wajah lalai, wajah ingkar, wajah yang mengabaikan kebenaran lalu berdiri tegas dalam kesalahan, dalam kebohongan lalu mengundang petaka amukan massa.

Lihat mereka,

Wajah para pemberi janji, lalu melupakan dalam bahagia lalu tertawa menyakiti hati kaum pengharap balas dari jerih payah mereka memopang kursi kau berkuasa.

Lihat mereka,

Pemberi senyum palsu perajut angan menjadi asa, asa yang kian menumpuk dalam hati pengharap harapan yang tak kunjung menjelma menjadi wadah kepastian dalam nyata.

Lihat mereka,

Mereka yang berkata dalam sumpah dibawah kita suci yang Maha Suci, seakan hanya drama sesaat yang mengharukan hati para pengemarnya lalu bertindak kejam dalam kerja nyata. Lihat mereka, Para pembalik keadilan hingga menjadi ranju lalu bermain kata dalam ayat bahkan pasal hukum yang ada hingga terdampar dalam tanya dari penanti kepastian tindak adil yang sesungguhnya.

Lihat mereka,

Mereka yang tak peka dengan hukum sang kuasa hingga mereka lupa akan semua yang telah diamanatkan, melupakan apa yang telah diberikan memegang kendali dalam negeri ini, melupakan segala tanggungjawab bangsa hingga tak jera mengambil hak-hak yang bukan hak untuk dimiliki sendiri.

Lalu tertawa dalam derita jelata yang kian rapuh ditelan waktu menanti senyum sapa hangat dari pembela sejahtera yang pernah terdengar merdu dalam negeri ini. Hingga menuai Kenyataan ada, ketiadaan semakin nampak jelas berkata bahkan kepastian hanyalah rindu seekor pungguk kepada bulan yang tak pernah ada mengubah mimpi menjadi nyata.

Atau memang tak ada cara lain selain menunggu keadilan yang pasti, kesejahteraan yang pasti dari Tuhan yang maha pasti lalu bertindak kasar kepada wajah-wajah yang mendulang kemakmuran sendiri dalam negeri ini hingga mereka sadar dan mengerti jika hukum Tuhan itu pasti bukan untuk di dustai. “


TAGS   Puisi /