Cherumu.com

Kepada Cinta, Rindu Ini Pernah Meneteskan Air Mata Karenamu

27 Apr 2017 - 08:25 WIB
fiksi, cerpen /   Maschun Sofwan 0 Comments

Entah berapa banyak lagi kalimat yang harus aku tulis hanya untuk memujimu dalam diam. Entah berapa banyak lagi puisi yang harus aku rankai untuk sekedar melepas resahnya hati merindukanmu dan entah berapa banyak lagi waktu yang aku butuhkan hanya untuk menunggu kepastian hatimu ada untukku atau memang semua yang aku lakukan hanyalah kehampaan yang tak kunjung datang hingga menuai tanya dalam hati, mungkinkah aku terjebak dalam buaian asa yang kian terasa.

www.pexels.com

Banyak hal yang aku lakukan hanya sekedar untuk mendapatkan perhatian darimu, entah berapa laku yang aku jalani hanya untuk mendapatkan peka darimu tentang perasaan hati yang semakin memburu jiwa untuk bertindak, namun apapun yang aku lakukan seakan terasa percuma, hambar terasa hingga diri mulai lelah mengejar kepastian yang tak pernah menjadi nyata. Kau tak peka dengan apa yang aku lakukan untukmu, apakah harus aku tunjukan kepada waktu dengan cara kasarku agar kau paham, agar kau mengerti dengan sadar jika aku sangat mencintaimu, rindu tentangmu ini sangat menyiksa diri.

Kenapa kau diam saja saat mata ini menatapmu syahdu dalam harap yang tak luntur ditelan nafsu, kenapa kau acuhkan bahasa tubuhku tentang rindu yang terpendam begitu lama dalam hati hingga kau tak menaruh sedikit saja rasa perhatian dalam hariku hingga hati ini selalu berdebar menanti jawabmu datang menaruh jawab dalam hatiku. Kau kenapa?, aku harus bagaimana?, apakah harus aku benci saja kau atau aku harus sayang. Aku tak bisa melakukan semua tindak kasar terhadap dirimu yang jelas belahan jiwaku bahkan hatiku selalu berkata inginkanmu ada dalam hidupku. Kau kenapa?, kenapa kau tak bilang saja tentang apa yang kau rasa terhadapku.

Jangan siksa hariku dengan senyum manjamu, padahal itu hanya permainan ramahmu sementara hatimu tak pernah ada untukku. Aku mohon jangan kau tatap mataku dengan harapan hampa hingga membuatku semakin sulit untuk melangkah jauh perlahan tinggalkan harap yang kian menua ini. Katakan saja kepada waktu, seadainya kau tak sanggup mengatakan kepada diriku, jika hatimu memang tak akan pernah terbagi untukku.

Aku tak akan menyalahkan apapun dengan semua yang kau lakukan terhadapku, namun tidak dengan cara begini, kau diam, kau acuh dan kau selalu meminta perhatian dariku dalam hariku. Apa yang aku mau dariku, apa yang kau harap dariku. Kau telah buat perasaan ini terbang jauh ke negeri bidadari namun setelah itu kau jatuhkan lagi ke permukaan bumi dengan seenaknya.

Aku telah berusaha melupakan semua yang aku rasa tentangmu, namun itu tak bisa, tak bisa aku lakukan. Jangankan untuk melupakanmu satu hari saja, bahkan satu detik saja aku tak sanggup rasanya harus menyingkirkan senyummu berlabuh dalam waktuku. Jika ada cara lain, katakan kepadaku, Dengan cara apalagi aku harus mengatakan ini kepadamu agar aku paham, agar aku mengerti tentang apa yang aku rasa tentangmu, tentang cinta dan rindu yang kini ditelan pilu hinggga membisu.

Entah dengan cara apalagi waktu untuk aku tanya tentang bagaimana perasaanmu terhadapku, bahkan melihatmu menganggapku ada saja seakan itu sulit aku tebak ada dalam hatimu. Hingga kelelahan harapku mulai berlabuh dalam kata jenuh, hati pun mengeluh dalam sengsara yang kian merana. Hingga kesadaranku mulai kambuh untuk mulai berkata waras jika dirimu hanyalah rindu yang terasa, sementara cinta tak akan pernah ada. Haruskah aku melupakan semua yang pernah hadir dalam hati tentangmu.

Apakah aku harus melenyapkan segala rasa yang tersimpan dalam rindu tentangmu begitu saja tanpa harus aku buktikan kepada dunia tentang hadirmu pernah ada dalam hidupku atau memang semua aku tiadakan saja, biarku berbohong kepada dunia tentang perasaanku kepadamu yang tak pernah terungkap nyata dalam hamparan bahagia. Jika semua hanyalah semu, jika semua hanyalah air mata yang menjadi tuntutan hati, maka akan aku lepas dan jalani ritual itu agar tak ada lagi jiwa yang terluka, tak ada lagi waktu yang merasa tersinggung keberadaan piluku memikirkanmu hingga sampai pada titik akhir, hadirmu hanyalah tetesan embun di pagi hari, terasa sejuk namun tak mampu bertahan hingga mentari kembali pulang.

Namun, apapun itu, apapun waktu mengejekku tentang memujimu dengan cinta, aku tak akan marah dan tak merasa tersinggung karena buktinya memang ada jika aku pernah kalah dengan perasaan ku sendiri, kalah dalam mengungkapkan rindu yang pernah menjadi raja dalam waktu. Akan aku tanggung segala hal yang menyeru tentang diri yang tak sanggung menahan rasa rindu itu terlalu lama, namun sebelum semua berlalu, maka tak akan aku biarkan semua menjadi beku dan semua menjadi palsu karena apapun yang aku lakukan untukmu merupakan bagian dari cerita cinta yang pernah aku dapatkan disini dan aku tak akan merasa jika cinta terlalu kejam menindas diriku ini.

Cinta ya cinta, rindu ya rindu, perpaduan yang sempurna jika tak ada air mata dan pengorbanan dalam meniti jalan untuk menuju satu tujuan bahagia di akhir cerita nanti. Dan aku percaya, jika saat ini hadirmu memang terlalu menyiksa batinku untuk pergi, mungkin itu alasanya untuk aku beranjak menuju tempat lain yang memang telah dipersiapkan bahagia untukku. Jadi, tak ada salahnya jika saat ini aku belajar menerima pelajaran dari cinta dan rindu ini kepadamu.

Selain kau memang indah untuk dicintai, tapi kau juga indah dalam memberiku pelajaran dalam menghormati cinta hadir dalam hidupku. Untukmu yang terindah, maka aku sebut namamu dengan indah pula, terima kasih hadirmu pernah ada dalam waktuku. Aku memang pernah jera akan kata rindu, lelah akan akan cinta yang tak pernah kau anggap ada dalam harimu, namun terima kasih bukan untuk rasa sakit itu, air mataku itu dan bukan untuk rasa rindu itu, namun terima kasih untuk rasa cinta itu yang pernah kau hidangkan dalam waktu hingga aku belajar banyak tentang cinta yang sesungguhnya.

Jika hati ini pernah berkata resah tentang hadirmu, maafkan aku jika itu terlalu egois untuk kau rasa. Jika rindu pernah berkata jika senyummu begitu sulit dihilangkan dari peredaran pikirku, maka maafkan aku yang terlalu mengtuhankan emosi dalam memilikimu dan jika tingkah laku begitu merepotkan kesalmu hingga menuai benci dalam hatimu, maafkan adaku hingga membuatmu begitu engan melepas pikir dalam tidurmu tentang sikap kasarku. Apapun itu, perlahan tak akan aku biarkan kau merasakan hal yang sama sepertiku karena aku yakin kau tak akan pernah sanggup menanggung segala perasaan yang tertanam dalam hati tanpa ada jawab sedikitpun.

Akhir dari kata rindu mungkin tak akan pernah sanggup untuk aku jabarkan dalam sebuah puisi dan akhir dari cerita ini, rasanya tak akan sudah jika harus aku tuliskan disini, namun paling tidak aku pernah meninggalkan sebuah tanda hadirmu dalam waktuku jika aku pernah melakukan ini untukmu walaupun hanya tulisan usang ini. Dalam hatiku kau akan selalu indah bahkan dihadapan tuhanku, namamu akan selalu menjadi bait dalam doa itu agar kau bahagia dalam hidupmu bersama seseorang yang ditakdirkan hadir nyata dalam hidupmu kelak.


TAGS   fiksi / cerpen /