Cherumu.com

Cerpen : Andaiku Bisa Sepertimu

3 May 2017 - 08:44 WIB
fiksi, cerpen /   Maschun Sofwan 0 Comments

”Andaiku bisa,

Tak kan aku biarkan bibirmu menyapa kasar melukaiku.

Tak aku biarkan hatimu memikul segala pransagka tentangku yang mengotori pemandangan ibukota ini.

Anda saja aku bisa,

Tak kan aku biarkan air mata langit meneteskan membasahi tubuhku,

Tak aku biarkan mentari menyengat tajam tubuhku untuk meraih rejeki.

Andaiku bisa,

Tak kan aku biarkan cacimu menertawaiku, Mengejekku Bahkan meninggalkan bekas luka dalam hati.

Tak aku biarkan dunia menyepelekanku karena keterbatasan hidup yang aku miliki.

Andai saja aku bisa,

Akan aku Tanya kepada Sang pemilik waktu, Kenapa aku seperti ini?.

Namun sungguh aku tak bisa melakukan itu semua,

Tak bisa mengatakan itu semua.

Bukan karena suaraku tak lantang,

Bukan tubuhku tak sanggup menantang,

Dan bukan pula pikirku tak waras. Hanya saja,

Aku tak bisa sepertimu,

Seperti apa yang kau nikmati dalam hidupmu.

Andai saja aku bisa,

Maka tak aku biarkan menjadi diri sepertimu’’

Jejak langkahku hari ini terpati pada sebuah keramaian ibukota Jakarta ini. Dari lorong sebuah jembatan tertuju mataku pada sebuah pemandangan yang tak asing lagi di Ibukota ini yaitu mereka yang selalu berteman dengan trotoar ibukota terdiam dalam harap menerima bantuan dari setiap kaki yang singgah memberi mereka rejeki.

Mereka bukan pengemis ataupun gelandangan yang tak mau berusaha mencari pekerjaan yang lebih mulia dari meminta, Namun mereka memang tak dapat bergerak dalam hidup mereka. Jangankan untuk memikirkan masa depan dan kehidupan yang layak di dunia ini, Untuk hidup hari saja mereka kesulitan sekedar mencari sesuap nasi lalu tersenyum lepas dalam bahagia.

www.pexels.com

Bukan Ingin mereka tentunya menghadapi keadaan dan kehidupan seperti itu dan juga bukan ingin dunia jika mereka harus melakukan itu semua demi bertahan hidup di dunia ini sampai waktu yang telah digariskan dalam hidup mereka berada dibumi ini. Namun perlu digariskan bawahi, Mereka tak pernah menyerah, Tak pernah putus asa dan tak pernah mengusik siapapun, Menyalahkan siapapun di dunia ini termasuk mereka yang mungkin telah meninggalkan kasih sayang yang terbuang lalu terbengkalai dalam kejamnya ibukota ini.

Pada hari itu, Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga mereka melakukan itu di ibukota ini. Hingga aku bertanya kepada mereka, mereka yang aku lihat begitu tegar menghadapi teriknya matahari, Begitu kuat menahan dinginya malam tanpa tempat tinggal yang jelas dan mereka yang begitu gagah menerima caci maki dunia tentang apa yang telah lakukan hari ini.

Belum lagi harus diburu para tata tertib ibukota. Kadang pula mereka tertahan dalam jeruji besi yang menuntut mereka untuk berkata jujur, Apakah kalian memang pengemis buatan atau memang hidup yang menuntut kalian untuk melakukan ini semua?. Terlihat jelas dari raut wajah itu memandangku dengan sendu, Lalu mendekat kepadaku, Hingga berkata kepadaku.

Andaiku dapat menjadi sepertimu, Mungkin aku tak akan seperti ini, Hidup tak memiliki arti apa-apa di dunia ini, Yang ada hanyalah hinaan yang datang silih berganti menghantam jantung hati.

Andaiku sepertimu, Maka akan aku katakan kepada dunia, Jika aku terpaksa melakukan ini semua demi bertahan hidup, Bukan mauku berada didaratan ibukota ini, Namun entah kemana lagi aku harus berada, Sementara keluarga saja aku tak punya, Tempat inggalku tiada. Mendengar penjelasan dan melihat kondisi mereka tersebut, Rasanya air mataku tak tahan mendengar penjelasan itu, Tak mampu menahan gejolak sedihku dalam hati. Ternyata aku belum terbangun juga dari tidurku tentang hidup yang aku jalani saat ini.

Dimana aku begitu sering mengeluh, Mengeluh dengan kehidupan yang aku dapatkan saat ini, Padahal jauh lebih baik daripada mereka, kenapa aku tak bersyukur dengan apa yang aku nikmati dalam hidup ini. Tapi mereka, Mereka yang tak sempat memikirkan hari esok harus kemana, Harus makan apa dan harus tinggal dimana, Tak pernah membenci matahari kenapa terlalu kejam menyinari bumi mereka hingga terasa panas, Dan mereka tak pernah menyalahkan hujan dikala membasahi tubuh mereka tanpa ada pelindung yang pasti untuk mereka berteduh, Yang ada hanya tembok penuh lumut bertabur kumuh dan mereka pula tak pernah menganggap Tuhan itu tak adil dan lupa akan-NYA, Padahal mereka begitu kesulitan dalam hidup ini.

Kenapa aku yang masih bisa tertawa lepas, Masih meragukan keberadaan Tuhan atas nikmat yang telah DIA Berikan Untukku. Kenapa aku begitu mudah untuk menyerah dalam waktu, Sementara aku masih bisa memikirkan, Mau makan apa hari ini, Masih dapat aku pilih. Dan kenapa aku begitu mudah untuk bilang Tuhan itu tak adil, Sementara kemudahan begitu sering aku temukan dalam jalan hidupku.

Aku merasa begitu malu dengan mereka, Mereka yang hanya mengandalkan insting saja untuk sekedar bernafas hari ini, Masih bisa berkata, Jika mereka masih punya Tuhan dan mereka tak pernah berkata jika hidup mereka terlalu sulit, Sementara aku begitu hanyut dalam bujuk rayu rasa ingin yang tak berarti puas dan bersyukur. Hinggga matahari terbenam, Aku kembali pulang dari menelusuri lorong-lorong waktu ibukota hanya sekedar ingin mengetahui apa yang Tuhan tunjukan kepadaku tentang hidup yang sebenarnya agar aku dapat memahami dan belajar banyak dari segala hal yang terjadi diatas dunia ini agar aku tak lupa jika masih ada mereka yang memerlukan bantuan dariku dan kau yang mungkin memiliki hidup lebih baik dari mereka.

Tuhan menitipkan sesuatu kepada menusia dimuka ini bukan karena mereka memang orang kaya, Orang pintar dan orang sukses, Namun setiap keberadaan sesuatu yang DIA titipkan kepada manusia tentunya ada maksud tujuannya dan termasuk saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan bantuan kita semua. Mereka yang mungkin saat ini sedang mengumandangkan lapar dan lapar, Sementara kita masih sempat membuang nasi dan menolak dan memilih makanan yang kita inginkan. Sementara mereka, Mereka yang begitu sulit sekedar menghadapi hari ini saja karena kehidupan yang tak ramah bagi mereka.

Lalu kita seenaknya berpikiran buruk tentang mereka, Tak mau berusahalah, Tak mau bekerjalah atau tak mau sekolahlah. Mungkun itu perkataanmu kepada mereka karena kau tak pernah hidup dalam garis seperti mereka rasa saat ini. Andai saja hidupmu seperti mereka, Mungkin kau tak akan mampu bertahan di dunia ini seperti mereka. Mereka seperti itu bukan karena mereka tak mau berusaha untuk beranjak pergi dari kesulitan itu, Namun setiap detik langkah yang mereka jalani selalu terbendung keadaan diri yang tak memiliki apa-apa dan untuk itulah mereka sangat membutuhkan bantunya kita semua.

Jangan egois kawan dengan apa yang kau miliki saat ini. Jangan terlalu merasa jika kau orang yang paling kuat di dunia ini karena bisa saja secepat kilat semua yang kau miliki itu lenyap seketika ditelah tamak yang kau tanamkan dalam hatimu. Mereka juga kita, Kita yang memiliki hati yang sama, kita hidup didunia ini untuk saling tolong menolong dan kau tak akan pernah bisa hidup didunia tanpa mereka yang dapat memopang kehidupanmu. Mereka memang sulit, Mereka memang miskin, Mereka memang tak punya apa-apa. Andai saja mereka bisa, Mungkin mereka tak akan melakukan hal yang membuatmu marah dan jijik melihat keadaan mereka.

Andai saja mereka bisa, Mungkin mereka tak akan mengharapkan bantuanmu. Andai saja mereka sepertimu, Mungkin mereka tak akan sepertimu yang begitu mudah untuk mengatakan hal yang buruk terhadap orang yang lemah dalam kehidupan mereka. Semoga kita membuka mata untuk mereka yang sedang berduka agar mereka dapat tersenyum seperti apa yang kita rasakan saat ini.


TAGS   fiksi / Cerpen /