Cherumu.com

KepadaMU Pemilik Malam, Sampaikan Do’aku Kepada Dia Pemilik Rindu In

9 May 2017 - 08:00 WIB
fiksi, cerpen /   Maschun Sofwan 0 Comments

Izinkan aku mengalunkan sepatah kata puja, sebait kata puji dalam bait do’aku untuk dia pemilik rindu ini.

KepadaMU pemilik bintang dilangit aku memohon,

hiasi tidurnya dengan kelip-kelip indahmu hingga esok ia terjaga dalam belaian hangatnya mentari pagi datang menyambut dengan seuntai senyum manja dari wajahnya.

KepadaMU Sang Pemilik Bulan aku bersujud,

Izinkan Aku berkata dalam do’a, Untuk menyampaikan resahnya rindu yang kini melanda diri.

Agar hati merasa tenang dalam sebuah penantian yang tak kunjung datang”

 

Hingga malam semakin larut, mata ini tak bisa juga aku pejamkan agar bisa tertidur pulas untuk menyambut hari esok penuh tanya. Hati ini selalu berkata tentang rindu yang kini bertahta manja untuk dia yang melanda sepi. Namun malampun tak memberiku jawab tentang apa yang sedang aku rasa hingga terpaut dalam diri untuk aku kirimkan saja sebuah pesan hati lewat do’a kepada-NYA dalam sujud aku berkata dan dalam tulisan ini aku sampaikan kepada malam yang sunyi ini agar jiwa merasa tenang dalam menghadapi gempuran bayang semumu yang kian hari kian membunuh naluri. Bukan tak mampu bibir ini berucap lantang kepada jiwa yang aku puja.

www.pexels.com

Bukan pula tak berani bertutur sapa dalam pasti tentang rasa yang aku rasa kepadanya, Namun semakin aku mencoba untuk memberanikan diri mengatakan itu semua kepadanya, semakin aku terpuruk dalam harap yang tak pernah menjadi nyata. Aku telah mencoba untu mengalihkan duniaku kepada yang lain, namun semakin aku mencoba mencari celah untuk berpaling, semakin galak pula paras ayumu datang menghampiriku untuk berkata pasti jika aku tak bisa lepas dari dirimu yang kini ada dalam detak jantungku.

Andai saja aku bisa, maka tak akan aku biarkan malamku dipenuhi bait puisi yang hanya tertulis atas namamu saja, namun hanya kehampaan yang aku dapatkan. Bukan untuk malam ini saja aku menuliskan ini, namun semenjak dirimu hadir dalam waktuku. Andaiku bisa membenci waktu, maka akan aku pilih dirimu saja yang aku benci. Bukan karena aku marah dan kesal terhadapmu, namun semakin aku mengenalmu semakin aku ta bisa lepas hingga merasa kau terlalu tinggi untuk dapat aku raih. Andai saja dapat aku tukar waktu dalam hidupku, Maka akan aku tiadakan saja hadirmu dalam waktuku.

Bukan karena aku tak ingin kehadiranmu dalam bait ceritaku, namun terlalu jauh jurang pemisah antara cinta dan kenyataanya yang mampu membuatmu ada dalam hidupku. Entah harus bagaimana lagi aku harus berkata dan harus bagaimana lagi aku bersikap agar dirimu dapat mengerti tentang segala yang aku rasa. Entah harus bagaimana lagi aku harus menyembunyikan perasaanku ini sementara lakuku begitu terlihat jelas inginkanmu ada dalam hidup. Bukan untuk hari ini saja namun aku ingin kau ada hingga maut memisahan jiwa dan raga ini.

Entah berapa lama lagi aku harus bertahan menanggung rindu yang semakin menua ini, sementara kenyataan cinta hanyalah omong kosong yang tak pernah bersuara untuk dapat mengobati lara. Harus kemana lagi aku harus pergi, sementara bayangmu selalu mengkutiku tanpa sebab apapun sementara aku harus mati menanggung adamu dalam semu. Jika semua hanyalah air mata, katakan saja kepadaku wahai waktu, agar hati tak menanggung semua beban derita mengharapkannya datang kepadaku.

Jika semua hanyalah luka, tolong kabari hati agar dia bisa menangkal senyumnya itu datang berlabuh dalam lubuk hati. Dan jika itu cinta, maka katakan kepada hari agar dia mengerti tentang aku yang kini terdampar dalam penantinya yang tak kunjung hadir. Atau kepadamu cinta, katakan saja kepada dunia tentang aku yang setiap waktu memikirkannya, agar mereka tahu tentang seorang pria yang begitu ingin miliki seorang wanita yang sedang melanda sepinya waktu dalam hidupnya. Dan Jika tak ada yang mendengar, maka biarkan saja aku berada seperti ini, berada dalam dekap cinta dan waktu agar saling memberi Tanya tentang aku yang kini sangat merindukannya.


TAGS   fiksi / Cerpen /