Cherumu.com

Puisi : Aku Dan Jenuhku

12 May 2017 - 08:28 WIB
fiksi, cerpen /   Maschun Sofwan 0 Comments

“Aku seperti terdampar dalam ruang jenuh yang semakin kasar mengupat diri.

Seakan aku terjebak di dua persimpangan jalan, lalu binggung pun menghidangkan tanya, memaksa langkah untuk memilih mana yang harus aku pilih.

Sunyi begitu ramah merengut senyum, resah pun begitu rajin menghafal detak jantungku.

Terasa begitu renyah terdengar dalam sanubari hingga gururnya daun pun begitu lantang mengusik telingaku mengejek tertawa.

Ada apa denganku,

Kenapa waktu selalu bicara sendirian tanpa peduli dengan kosongnya hati untuk meminta cerita hingga raga begitu mudah menyerahkan semangat kepada rakusnya sepi membunuh langkah hingga terbujur kaku dalam jeruji sesal.

Kenapa pijak kakiku seakan waktu engan memberiku tanya kepada tapak yang tertinggal hingga kaki mulai lelah untuk melangkah kembali.

Dimana aku berada,

seakan semua diam bahkan seekor cicak pun turut bertunduk lesu didinding dikamarku, tak berani mengusik sekedar bernyanyi menyapa gelisahku.

Kemana diri yang dulu,

yang begitu tangguh menghadapi caci maki waktu tanpa pamrih.

Kemana diri yang begitu gemar menghabiskan waktu dengan senyum tanpa ada cela bahkan hina menghadapinya berlalu.

Kemana jiwa yang begitu tamak akan arti menyerah sehingga matahari pun begitu cemburu melihatku yang tak pernah kalah hanya karena duka dan derita bahkan air mata.

Lalu kini,

sepertinya aku telah kehilangan tempat untuk berlabuh,

kehilangan lahir untuk bangkit dan kehilangan batin untuk menafkahi diri.

Apakah tubuh ini telah tiada di dunia ini,

seakan semua yang aku jalani semua tak berarti, namun terasa sakit jika aku tampar pipiku ini.

Apakah aku masih punya Tuhan,

seakan segala yang aku pikirkan dan aku rasakan semua menjadi tanya tanpa menemukan jawaban, Padahal Tuhan itu pasti.

Jika semua itu benar,

katakan kepada waktu agar aku mengerti, agar aku memahami jika kau sedang menguji diri untuk menjadi manusia yang benar atau sekedar pemberi pesan kepadaku agar aku kembali kepada pencipta yang telah memberiku banyak nikmat yang terlupakan.

Atau memang itu takdir hidupku yang harus aku tanggung hingga menanggung beban hidup seperti saat ini”


TAGS   fiksi /