Cherumu.com

Cerpen : Jeruji Rindu

31 May 2017 - 08:03 WIB
fiksi, cerpen /   Maschun Sofwan 0 Comments

“Dengan kata apalagi harus ku jelaskan kepada waktu,

Sementara dekapmu diam mencekam. Dengan paham apalagi ku menghindar dari semu,

Sementara sapamu masih membisu.

Dengan isyarat apalagi ku tunjukan kepada cinta,

Sementara syaratmu membuatku menderita.

Haruskah ku menjerit lantang menantang takdir,

Biar kau terkejut,

Biar terketuk hatimu merasuki jiwamu hadir.

Apakah kau tak melihat tingkah kasarku,

Nyata mengaduh berpeluh.

Lihat wujudku kekuningan,

Layu mengering terdampar di ranah kehampaan,

Usang diterpa musim berlalu.

Lihat Senyumku,

Riang tak bertuan.

Dengan cara apalagi harus ku ungkap,

Biar kau terperangkap.

Harus dengan lisan apalagi harus ku ucap,

Agar kau merasa, Atau, sekedar teringat latah tentang aku,

Yang kini tersesat dalam rindu yang kian mengikat”

www.pexels.com

Tahukah Kau, Saat pertama kali aku bertemu denganmu, Hati ini berkata jika kau adalah seseorang yang pernah terlintas dalam mimpi dan kini menjadi nyata. Tahukah kau, Ketika aku mengenalmu, seakan waktu telah aku serahkan sepnuhnya untuk memuji dan memujamu saja bahkan dalam do’a, dirimu selalu terdepan dalam kata yang aku ucapkan dalam sujudku.

Tahukah kau, Ketika hadirmu memberiku rindu dan cinta itu, aku sangat bahagia bahkan kadang aku lupa jika aku tak ingat dengan takdir yang digariskan dalam hidupku.

Tahukah kau, Jika saja aku dapat bertemu dengan Tuhanku, Aku ingin kau saja yang aku pinta karena setiap nafas yang aku punya, dirimu selalu ikut serta didalamnya.

Tahukah kau, Jika saja aku dapat mengubah takdir hidupku, maka akan aku minta satu permintaan yang pasti dari Tuhanku yaitu kau, kau yang akan membuatku menjadi manusia yang seutuh bahagia.

Tahukah kau, Jika dalam hidupku diberi pilihan yang sulit diantara dua pilihan, maka akan ku pilih kau saja, karena kau tak terganti.

Kau boleh bilang aku ini bodoh atau pun gila karena terlalu menginginkan dirimu ada dalam hidupku. Kau boleh bilang aku ini orang macam apa, yang jelas, aku melakukan semua karena ingingkanmu ada bersama bahagia yang aku miliki ini. Sepenuh rindu dan cinta yang aku miliki, seakan telah terkuras habis atas dirimu.

Aku telah mencoba untuk beranjak pergi dari cinta yang kau tancapkan dalam hatiku ini. Aku telah mencoba mengubah rasa cinta dan rindu ini menjadi benci. Namun apa yang terjadi, hatiku semakin menjadi ladang kerinduan dalam waktuku, semakin aku dilanda panas cinta yang membuatku kering kerontang tak berdaya.

Aku juga telah mencoba sebaik mungkin dengan segala tingkah laku kasarku agar kau muak dan menghindariku jauh-jauh dari keseharianku, namun apa yang aku dapat, semakin aku berulah seperti itu, aku semakin terbelenggu rasa cemburu yang mengikat jiwa untuk kembali lagi dalam buaian asmara yang semakin parah. Bahkan dalam hariku tak segan aku melakukan sesuatu agar aku tak bertemu denganmu satu hari saja bahkan menghindar jauh dari adamu dalam waktu panjangku.

Namun apa yang aku rasa, apa yang aku tanggung?, hanya kerinduan yang semakin menggebu. Dalam benciku aku telah belajar untuk pergi, belajar untuk mengalihkan hatiku kepada seseorang yang lain, namun semakin aku mencoba, semakin aku jatuh dalam resah yang semakin kesal. Dengan cara apalagi harus aku abaikan segala bujuk rayu cintamu menghinggapi hariku.

Dengan Tanya apalagi harus aku jawab tentang rindu dan cinta yang terasa. Sementara semua yang aku rangkai seakan menjadi sirna, semua yang aku kata seakan menjadi buta. Lihat saja parasku saat ini, pudar walaupun menyala, namun tak bersinar terang menyinari setiap sudut langkahku karena hanya terpaku dalam rindu yang semakin menggebu.

Lihat senyumku, hambar tak berjiwa hanya terpaku dalam kehampaan yang semakin terdampar. Memohon, bukan satu kali kepada Tuhanku, bilang namamu dalam sujudku bukan hari ini saja aku lantunkan, namun separuh jiwa dan waktu yang aku miliki seakan doaku terisi penuh tentangmu saja. Namun lihat jawab apa yang aku dapatkan, hanya kerinduan yang semakin mendalam tanpa ada jawab pasti akan hadirmu dalam hidupku.

Apakah aku salah terlalu mengabdikanmu kepada Tuhanku, atau memang salahku yang terlau memaksa hingga tak sadar jika aku telah berdosa menyalahkan takdir dari Tuhanku. Jika iya, Bilang!. Jika benar, katakan saja kepadaku. Agar aku paham, agar aku mengerti, agar aku pergi saja dari rindu dan cinta yang aku miliki ini dan hingga waktu berlalu hanya luka yang aku dapatkan darimu yang pernah membuatku bahagia. Aku mohon, Aku tak sanggup lagi, Aku berharap jawabmu pasti ya Robb tentang segala yang aku rasa tentang dirinya ini.

Kenapa aku terpaku pada dirinya saja, beri aku penjelasan yang akurat tentang cinta akan dirinya ini ya Robb, Agar aku dapat bernafas lega dari rasa sakit yang semakin mencekikku perlahan. Atau jika tak mampu kau beri aku jawab itu, beri aku penjelasan dengan kasarmu saja ya Robb, Agar aku dapat memaknai dengan bijak, jika takdirku memang tak pernah bercerita tentang bahagia bersamanya, namun hanya sekedar singgah dalam cerita indah hidupku saja.

“Untuk Cinta yang membisu,

Rindu kini terombang-ambing dilautan lepas.

Tanpa pasti temukan pesisir pantai.

Terhempas obak kegelisahan,

terdiam dalam badai ketakutan,

dirundung kedinginan yang mendalam.

Rindu ini seperti senja penuh pesona memberi Tanya kepada siang.

Akankah kembali lagi?,

Tanpa berpikiran jika malam merasa cemburu untuk melenyapkanmu.

Rindu ini seperti gerimis hari ini,

gerimis diakhir musim berganti.

Tak reda-reda dalam penantian yang kunjung ada.

Aku merindukanmu saat ini, di persimpangan lelah masihku bertahan.

Mungkinkah kau akan datang nyata hari ini?,

Mungkinkah rindu ini nyata membuyarkan resahku disini.

Atau hanya sebuah kemustahilan yang tengil”

Hingga semua terabaikan, hingga semua menjadi tiada, aku pastikan jika pesan rindu yang pernah hati dapatkan dari hadirmu tak akan pernah aku salahkan ada dalam waktuku. Aku pastikan tak akan aku biarkan luka bahkan penyesalan yang mendalam mengenalmu hingga aku jatuh cinta seperti ini.

Aku percaya, jika rindu tak pernah menghadirkan duka bahkan air mata disetiap cinta yang datang karena sesungguhnya rindu selalu memberi kesan dan pesan agar insan yang merasakannya dapat mengerti dan memahami dengan baik apa yang terjadi memang sudah menjadi suratan takdir, bahagia atau tidak, memiliki atau hanya tersimpan dalam hati, itu bukan pilihan, namun memang kita tak bisa dipertemukan dalam keadaan yang nyata namun hanya cerita dibalik senyum bahagia yang tertunda. Memang berat untuk menanggung segala resiko jika kasih tak sampai, apalagi seseorang tersebut sungguh berarti bagi dirimu.

Namun jangan pernah kau lemah dan menyerah karena rindu salah satu cobaan dan rintangan yang harus kau taklukan untuk menjadi diri yang dewasa dan mempersiapkan diri untuk dia yang memang telah ditakdirkan akan menjawab semua keluhan atas gundah gulana yang kau rasa saat ini. Dan ketika semua kau jalani dengan baik, kau begitu menghargai rindu dan cinta itu hadir dengan baik, maka tugasmu sudah kau jalani dengan baik dalam waktumu, tinggal menunggu tugas dari Tuhanmu yang akan memberimu si Dia yang akan datang sesuai dengan apa yang aku ajarkan kepada dirimu tentang rindu dan cinta dan dia akan hadir tepat pada waktunya kelak.

“Pelangi tak pernah tebar pesona kepada bumi agar dia dirindukan.

Begitu pun hujan, tak pernah merasa terusik hadirnya petir diantaranya.

Begitu pun dengan rindu dan cinta yang ada, tak pernah memberi tanda dan kepastian memiliki,

Namun dia akan selalu indah memberi cerita untuk kau nikmati bukan dibenci,

apalagi kau tangisi bahkan kau sesali”


TAGS   fiksi / Cerpen /