CHERUMU.COM

Cerpen : Salam Rindu Dari Negeri Jelata

6 Feb 2017 - 08:03 WIB
Umum /   Maschun Sofwan 0 Comments

Aku adalah bagian dari suara itu, Suara dari negeri jelata yang begitu rindu akan harapan dan janji yang pernah menggetarkan hati menjadi damai nan menghanyutkan suasana menjadi riang gembira. Namun harapan akan janji itu begitu cepat berlalu ia bergelombang tinggi penuh semanagat menyapa, ketika semua telah terbeli dengan lisan bersandiwara dengan senyum seribu wajah tipu daya, seketika itu pula ia berubah haluan menjadi tindak laku yang menakutkan dengan menciptakan kecemasan, kegalauan dan penindasan yang begitu ramah lingkungan dilakukan kepada kami, jelata yang malang.

Lihat saja seribu wajah itu, yang dipoles dengan senyum manis ucapanmu kepada kami. seribu kata yang dlayangkan hanya untuk memikat simpati menang agar dapat mengantarkanmu pada sebuah kedudukan yang tinggi, namun setelah kau berada disana, maka tak segan kau kembali pada target awal bukan untuk memberi jawab atas janji itu hingga menghapus prasangka segan dalam hati kami melainkan dengan sikap garang tanpa titik jenuh kau bertindak untuk menduduki tempat yang seharusnya menjadi tempat kami tinggal kami, tempat kami mencari rejeki untuk sekedar bisa bertahan hidup didalam negeri ini.

Tahukah Kau jika Hidup kami sulit, sangat sulit bahkan berurai air mata disetiap waktu sdan begitu esok datang kami tak sempat berpikir harus makan apa lagi. Kami masih tetap diam saja bukan kami tak sanggup menerima kenyataan yang ada, bukan pula kami tak pernah bersyukur dengan apa yang telah diberikan kepada kami dari Sang Pencipta, namun sulitnya hidup kadang berawal dari mereka yang hanya mementingkan kesejahteraan diri sendiri dan golongan saja tanpa melibatkan suara jelata yang pernah membawa dan mengatarkan mereka berada dalam kehidupan yang seharusnya kami juga rasa.

Lalu, Salahkah kami yang tak pernah lelah memilih, mencari bahkan berambisi untuk membangun kembali janji yang pernah melukai hati dan harapan kami hingga berkeping-keping?, Jika itu salah, maka jangan biarkan kami memlih lagi, bersuara lagi dan menyimpan perasaan harap akan janji itu lagi kepadamu. Namun jika itu benar, maka biarkan kami memilih, biarkan kami bersuara untuk mencari dimana beradanya seseorang yang memang ditakdirkan untuk mengubah status kami dari jelata menjadi sama rata, sama rasa dan sama kata dalam kesatuan negeri ini. Kami akan terus berjalan menelusuri waktu demi waktu untuk bisa bertemu dengan sosok yang memang bersuara kepada kami sebagai pembela sejati bukan pembela gadungan.

Kami akan terus memberi suara bukan saja untuk menemukan seseorang yang memang pantas disebut janji itu menjadi nyata namun kami memberi suara untuk memberimu pelajaran dan kesadaran jika adanya dirimu disana adalah hasil keringat kami dan kami memiliki hak untuk menuntut keadilan hidup kepadamu. Masihkah kau merasa tinggi meninggikan dan terhormat disana, sementara hadirmu disana bukan hasil keringatmu sendiri melainkan keringat dari air mata yang mengalir deras di dalam negeri ini.

Masihkah kau begitu ramah dengan ulahmu sikat sini dan sana dengan apa yang kau miliki diatas sana, sementara apa yang kau miliki itu adalah jerih payah dari kami yang bekerja siang malam untuk bangsa dan negeri ini. Lalu masihkah kau menganggap dirimu kuat sementara kekuatanmu itu ada ditangan kami, jika saja kami ingin berontak pergi, maka kekuatanmu itu akan lenyap seketika. Namun kami tak akan pernah melakukan apapun untuk negeri yang terlalu sedih untuk kami berbuat sedemikian buruk itu. Kami tak akan menghalalkan segala cara hanya ingin membuat suasana menjadi riang penuh kegaduhan seperti apa yang sering kau lakukan itu. kami hanya ingin disetiap helaan nafas yang memutari waktu di negeri ini dapat hidup sebagaimana mestinya dan dapat merasakan secara merata bukan merananya saja.

Karena kami bagian dari adanya negeri ini, kami hanya ingin meminta bukan untuk bisa hidup layak dinegeri ini namun paling tidak kami masih dianggap harta berharga yang bisa memperkaya negeri ini dengan berbagai perbedaan namun tetap satu dalam kesatuan yang kuat. Bukan kami sombong karena adanya kami, namun kami hanya ingin menunjukan kepada dunia jika kami bukanlah harta yang tak bernyawa bahkan tak bergerak namun kami ini manusia yang butuh hidup sebagaimana kehidupan semestianya.

Kami sangat mencintai negeri kami, kami selalu belajar dari mereka yang telah berkorban jiwa raga untuk bangsa ini sejak dulu bahkan hingga sekarang kami masih saja berjuang, berjuang bukan melawan dan mengusir penjajah, namun berjuang untuk bisa hidup di negeri sendiri yang katanya sudah menggapai merdeka. Kami masih saja berjuang melawan benci, dusta, melawan susahnya untuk bisa mencari makan, pekerjaan, menyekolahkan anak-anak kami bahkan kami terus berjuang untuk sekedar bisa bernafas untuk hari ini saja karena tingginya biaya hidup yang diterapkan dalam negeri ini. Mungkin memang sudah takdir, takdir dari kami kaum pejuang, pejuang yang tak pernah merdeka bukan tak bisa lepas dari tangan penjajah namun kami belum bisa merasakan merdeka dari cangkraman penakluk bangsa sendiri.

Jika memang demikian adanya, maka kami rela, rela dalam penantian yang tak pernah kamu sebutkan ada dalam waktu kami, namun kami selalu berdoa dan merindukan agar suatu keadaan yang berbeda datang dari tuhan kami lewat tangan kasih penciptaNYA mampu memberikan anak penerus bangsa dari kami kehidupan yang lebih baik dan bisa merasakan merdeka yang sesungguhnya bukan sekedar sebutan saja, Semoga!.


TAGS   cerpen / fiksi /


Hot Posting

Hot Comment